~Yang Menjadi Pelopor~



~Yang Menjadi Pelopor~
(Bukan hanya pengekor atau pelestari)

Padadsarnya, yang membuat kita ini tidak bisa menguasai suatu pelajaran atau hal baru itu dikarenakan kepala kita atau otak kita itu sedang tidak ingin menerima atau tidak bisa menerima dengan legowo pemikiran orang lain atau pemikiran di luar dari pemikiran diri kita “waktu itu”. Terkadang kondisi seperti ini luput disadari, banyak dari kita mendustai dengan dalih “secara harafiha: aku hendak menguasai ini”. Padahal dalam waktu-waktu yang lampau, fikirannya pernah mengunci hal tersebut, yang sekarang tertolak atau sulit dipecahkan oleh fikiran. Bisa karena tromatik atau represif masalalu, hingga membuat otak itu enggan memikirkan itu kembali, “ternyata otak dapat mengalami troma, ya ? jelas !”. Mudahnya dibilang, suatu ketika di waktu masalalu kita sudah pernah anti-pati atau membuat perjanjian kepada fikiran kita untuk tidak suka, terhadap sesuatu yang sekarang sulit kita pelajari atau kita pecahkan. Perlu diingat, bahawa fikiran atau otak kita tidak bisa berbohong. Ketika otak sudah menolak suatu hal dalam waktu lalu, maka besar kemungkinan kita untuk menghadapi atau memecahkan sesuatu itu dimasa yang sekarang akan mengalami kesulitan dan kerumitan yang kesannya tidak biasa. Kalaupun kita akan bisa memecahkannya, itu butuh usaha keras dan menghapuskan atau melawan fikira (perang fikiran) terhadap hal yang masih tertanam dimemori otak tentang hal yang sempat kita buat dalam perjanjian dengan fikiran untuk ditolak atau otak menutup diri tentang hal tersebut.
Hal Ini bukan karena otak kita lelet atau rusak. Ini merupakan gejala transisi penyesuai diri seseorang terhadap suatu kondisi yang baru, yang dianggap tidak memberi kebebaasan dalam berfikir, namu disisi lain merupakan gejala orang-orang sekptis. Yaitu orang yang tidak mudah menerima pemikran baru dari otak orang lain atau keadaan lain, ketika dia belum mengenal atau memahami orang yang merbicarakan hal baru dengannya. Pada umunya bukan karena orang ini tidak menghargai atau mengacuhkan karya atau maksud baik perbedaan pemikiran orang lain, namu lebih karena hendak mencari kejelasan dan pertanggung jawaban atas semua statmen atau argumen. Menghendai pjelasakan atau memaparkan sebagai hasil dari tanggungjawab moral agar tidak ada kesimpangsiuran dalam pemakanaan atau penafsiran. Menjadi maksud utama.
Tidak perlu ditakuti generasi yang seperti saya wacanakan diatas, ia tidak akan merusak peradaban atau membolak-balikkan suatu kebenaran atau keadaan. Namu justru generasi-generasi yang seperti itulah yang akan banyak memberi warna baru dalam proses berkehidupan ini berlangsung atau karena orang-orang kontroversila yang akan membuat dan menciptakan ide-ide baru yang sangat fenomenal, yang biasa awal kemunculannya akan banya menuai cercaan karena belum terbiasa atau masih asing. Pemikirn-pemikiran yang baru muncul di manapun berada, apalagi yang kontras dengan keadaan yang mapan. Bisanya walapun akan melahirkan kebaikan dari gagasan itu, pastilah sebelumnya menuai kritikan atau tempaan. Belajar dari hikmah-hikmah baik dan memang membawak kebaikan yang hendak diajarkan Nabi Muhamad. Dalam masa-masa awal pendakwahanya yang dicerca, dihina, dilaknati, dan diperlakukan seakan keburukan perbedaan yang baru Ia bawa. Sedangkan nyata dikemudian waktu ajaran Nabi Muhamad SAW. sangat digandruni dan dicintai oleh penganut dan pengikut dari golongan yang dahulu menghinakan ajarannya. Bila dibalikkan kepada awal kemunculannya, jelas sangat kontradiksi. Ada hal baik yang dapat dihikmai disini, “tetap bertahan dengan perbedaan pemikiran yang dibawa. Selama diri masih sangat dan dalam meyakini bahwa pperbedaan yang kita bawa itu adalah untuk kebaikan”. Karena sejatinnya perbedaan itu sudah menjadi hukum semesta dan wujud nyata kuasa Tuhan itu ada. Perbedaan dalam hal apapun, terutama dalam hal pemikiran inilah yang menjadikan dinamisasi kehidupan yang memupuk dan mendorong kepada menghasilkan kualitas baru yang lebih baik.
Sebenarnya generasi-generasi yang seperti diatas itu merupakan generasi. Pembaharu atau generasi pemberontak atau dengan bahasa kerenya adalah generasi “revolusioner”, kata lain dari bahasa yang itu mewakili bahwa generasi yang demikian adalah generasi yang selalu bergerak, generasi yang selalu berubah-berubah, baik dalam penampilan, pendapat atau juga dalam hal ketika membuat keputusan. Terus mengalami perubahan dalam hal berkeputusan, perlu diketahui hal ini bukan berarti plin-plan atau tidak konsisten atau goyah dalam pendirian.Kondisi seperti itu dapat terjadi, bila dikaji lebih jauh maka akan menghasilakan yanga namanya pengakuan terhadap hukum “dialektika”. Hukum yang saya katakan itu merupakan hukum suatu kondisi yang tidak selalu monoton, tidak mengalami perubahan atau pergeseran dalam bahasa fisikanya. Diperkuat dengan hakikat hukum materi, yang selalu dinamis dan terjadi pergerakan di dalamnya. Yang jelas semua yang ada dibumi ini mengalami perubahan, baik secara fisika maupun nonfisik. Ya mungkin ini merupakan pemahaman yang aneh dan sulit untuk diterima bagi orang-orang yang belum banyak jam terbangnya dalam penalaran, pengalama, berkehidupan atau dalam pemahaman benda sekitar, juga belum jeli atau kurang teliti saja.
Jika kita sangkutkan dengan yang namanya agama, kekekalan atau kemutlakan hanyalah miliki Allah S.W.T. Tidak ada kekekalan untuk mahluk yang selainnya, nah lebih bisa dipercayakan dengan adanya penegasa di atas. Baiklah, bila sudah bisa diterima maka dari itulah kita harus membuat pemahaman atau yang dinamakan patokan yang jelas ketika hendak membantai suatu yang berubah-ubah dari perbedaan yang dibawa, pahami dahulu apa yang membuat perubahan yang tidak jelas itu. Jadi, dengan demikian ada hikmah yang bisa kita ambil agar tidak mudahkan pribadi kita untuk  menghakimi seseorang yang nyata-nyatanya kita belum tahu yang sesungguhnya, tentang hal yang dibawa, yang melatarbelakangi dan apa yang menjadi alasanya. Sewajarnya sajalah ketika kita ingin menyalahakan orang, tidak harus dengan menghakimi seutuhnya, ingat ini bukan berarti bertele-tele namun ini mempertegas dan membuat kehati-hatian kitadalam bertindak. Agar tidak terjadi penyesalan dikemudian waktu, karena telat menyadari bahwa yang telah dihujat adalah kebaikan.
Semau laku dan perangai kita ini tidak penahterlepas dari lingkungan sekitar, yang membesarkan atau lingkungan kita bergaul. Pada umumnya, kita tidak bisa hidup berdiri sendiri atau seutuhnya indivual.Karena percaya atau tidak kita akan bergantung dengan benda mati, benda hidup, dan benda gaip juga. Jadi jangan membodhokan diri kita dengan menghilangkan dua perangai penting dari yang 3 (tiga)  dengan yang lainya. Setelah mengetahui 3 (tiga) objek itu, wajiplah kita selami. Kita juga di sana haruslah mengetahui secara sepesifik, peran keberadaan dari masing-masing ketiga objek tersebut. Tidak fanatik dengan yang satu, tidak juga hanya fanatik dengan yang dua saja, jadi haruslah berimbang antara ketiganya. Karen kita diajarkan untuk sahaja atau berimbangan antara satu dengan yang lain. Mungkin saudara-saudar sekalian juga pernah tahu yang namanya filsofis “ying dan yang”, dari sini nyatalah juga kita diajarkan untuk sahaja berimbangan antara lakuk-laku kita dengan segala hal yan dapat memberi pengaruh kita.
Selain daripada hal yang seperti kesahajaan itu, kita juga telah mengenal yang namanya keselarana, keharmonian, dan kerukunan. Ini juga tidak lepas dari yang namanya keseimbangan. Itulah mengapa kita harus saling menghormati satu dengan yang lain. Dari perbedaan-perbedaan yang kita jumpai dan sampai kepada perbedaan pendapat atau asumsi terhadap suatu hal. Itulah  juga mengapa kita hidup ini harus rukun antara satu jiwa dengan jiwa yang lain, kita harus menghargai jiwa-jiwa yang satu dengan jiwa yang lain. Dan hal yang sangat menjadi pertentangan dan sangat dilarang adalah “tidak dibolehkan kita untuk menindas jiwa yang satu dengan yang lain” dalam kondisi atau situasi apapun. Karena apapun bentuk dan wujudnya menindas atau penindasan, efek atau dampaknya sama, sama-sama mengekang, membatasi, dan merugikan.
Maka dari itu, perbedaan dari pemikiran atau menemukan keadaan yang tidak sesuai dengan pemikran kita. Tidaklah lantas melakukan pelaknatan dan penghakiman secara dini. Karena perbuatan yang demikian itu termasuk kepada perbuatan menindas dan membatasi  orang lain dalam berekspresi atau menunjukkan diri. Kalaupun terjadi ketidak sesuaian, lakukan pendiskusian secara mendalam dan cermat. Agar tidak terjadi dendam terkesumat atau dendam-dendam dikemudian waktu. Yang dapat melelahkan dan mengahabiskan energi, yang harusnya dapat dimaksimalakan untuk hal lain yang lebih produktif.
Mulai dari dini coa menghikmahi perbuatan kasar atau statmen kasar dari orang lain, yang kesan awalnya tidak menyenangkan. Akan menjadi lebih baik dalam memahami maksud, mengapa dan motivasi apa yang melandasi orang itu berbuat sedemikian ketus. Ini dalam rangka untuk tetap mengsahajakan diri dalam menuai dan mengaruhi perbedaan setiap hal yang dijumpai.

“belajar menikmati kehidupan yang sesungguhnya benar-benar terjadi disekeliling. Karena sibuknya diri mempermasalahkan hal yang tidak prinsipil, membuat tujuan utama yang sedang dijalani menjadi bias dan tertinggal”

Oleh : Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~