~Neraka Dunia~



~Neraka Dunia~
(dalam prespektif sosial dan jalinan hubungan manusia tanpa dibatasi oleh sekat-sekat etika atau estetika yang rumit dan terkadang tidak adil)

Perbuatan paling indah di dunia ini adalah menuruti dan mengikuti hawa nafsu, kehendakn, dan kemauan yang menyenangkan dan yang meng-asik-kan. Dapat bebas sebebas-bebasnya, tanpa berkerling kepada sekat-sekat kehidupan yang nyata adanya. Yang secara tidak langsung bersentuhan dengan dirinya. Hingga membuai dan membuat diri melupakan dari pribadi yang satu kepada yang lain, menganggap hal lain yang di luar kemauan atau kehendaknya tidak penting, dan menganggap tidak ada hal-hal yang sebenarnya bersentuhan dan berpadu dengan dirinya“diri yang tidak mempedulikan”.
Menghilangkan atau meniadakan dia dan mereka yang sebenarnya sedang membutuhkan dan memerlukan sentuhan atau bantuan perpanjangan kekuatan, tangan, perasaan, hati, dan senyuman. Adalah contoh nyata manusia tidak beradab dalam dinamika kehidupan yang semaki beradab. Mencerminakan rasa ketidakpedulian yang semakin menjadi. Dan dapat menjadi anggapan bahwa menunjukkan antar manusianya sedang terjebak alam liberalisme, yang bertendensi kepada semangat kompetisi (persaingan). Semangat kopetisi inilah yang memang sudah lama diinginkan oleh negara-negara yang sangat dalam watak imperialisme dan nekolimnya. Secara tidak disadari, kedaan yang sedang terjadi di alam kita ini adalah hasil dari dramatisir atau skenario dari kejahatan besar yang berkedok lembut yang sudah mereka rencanakan lama, demi kejahatan besar yang akan mengerikan. Bila dapat memahami dan mempelajarinya.

“sungguh, kedengkian apa yang telah diperbuat hingga menjadikan watak keluhuran manusia menjadi serendah itu. Memakan dan memangsa manusia lainnya, dalam kelembuatan atau dalam kekasaran”

Tidak selayaknya berlaku demikian menjalani kehidupan di era yang dibilang moderen atau terjadi karena jalinan kerja sama yang sangat tersistematis ini. Menjadi alasan kita berbuat meninggalkan hal-hal yang berhubungan atau secara tidak langsung bersentuhan  atau tidak langsung bersentuhan dengan kita. Tetapi, memang tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataan buruk tersebut sedang terjadi di lingkungan sekitar kita. Apakah kita akan mengikuti ? atau kita akan membiarkan keadaan yang demikian itu ? atau kita akan memerangi, memberikan tawaran solusi dan penjelasan atas proses kehidupan yang sedang menuju kefanaan tersebut ?
Bila mendalami dan menelisik lebih jauh lagi kemudian kita koparasikan kepada tentang hakikat manusia dilahirkan. Dengan dibekali beberapa hal yang sebenarnya sudah menunjukkan perbedaan yang jauh antara manusia dengan mahluk Tuhan yang lainnya. Yang secara tidak langsung kita lebih tinggi kodratnya dengan mereka. Tetapi, bila melihat kenyataan demikian (besarnya rasa tidak peduli dan me-ngarang-nya rasa saling tidak membutuhkan), mulailah menunjukkan keperibadian kita sebagai manusia yang secara kodrat baik, seakan berubah menjadi lebih rendah daripada sifat kehewani, yang kita tahu, kasar, beringas, namun terkadang masih ada belas kasihan kepadanya yang di luar anggota atau golongan dirinya. Mengapa kita semakin ke sini-semakin mengalami penurunan kualitas diri ? yang sebagai mana diamanatkan sebagai manusia yang tinggi “budi pekertinya”.
Hanyalah manusia yang kehilangan akal dan kodratnya diri, yang berlaku demikian dan sangat suka dengan perbuatan yang demikian. Tidaklah pantas manusia yang diciptakan, ditakdirkan, dikodratkan, dan dilengkapi dengan akal plus fikiran atau perasaan yang selengkap atau seutuh ini. Bila ia masih melakukan perbutan yang dapat digolongkan kekejian-kekejian yang lembut atau kasar dan fulgar. Itulah mengapa perbuatan yang demikian itu secara tidak langsung dapat digolongkan sebagai perbuaan dzolim, baik dzolim kepada diri sendiri, maupun dzolim kepada yang lainnya di luar dirinya.
Mencerabut diri dari wujud kesungguhan kodrati kita sebagai insan adalah langkah yang boleh dibilang laknat, seperti prilaku melupakan, mengabaikan, meniadakan, meninggalkan tanpa alasan, mendiamkan seseorang tanpa penjelasan,atau perbuatan berpaling dan tidak mempedulikan lainnya. Jelas sudah, itu sesat, sesesat-sesatnya daripada ia dikatakan sesat dalam hal ajaran memakanai atau menjalankan agama. Sesat dan tersesat dalam menjalani, mengurai, dan mengarungi kehidupan yang berdampingan dan bersentuhan dengan manusia lain atau mahluk lain. Membutuhkan pengkajian dan pemikiran yang panjang untuk menjelasakan atau memaparkan hingga terjadinya keadaan yang seperti demikian itu.
Tidak semudah itu, meghindari dan memalingkan diri dari kenyataan yang agaknya merayu atau menuntut kita untuk berlaku demikian. Memang bila dijalani dalam isolasi atau dimensi khsusu untuk laku indivduil akan terasa menyenangkan, tetapi kenyataanya kita tidak sedang dalam kesendirinan. Namun dalam keadaan yang sangat jelas berdampingan dan saling membutuhkan, juga tidak dalam kesendirian dalam hiruk-piruk kesunyian. Tentunya, tidaklah banyak membawa kedamaian atau kebaikan, bila dalam damai itu harus terjadi jalinan yang natural tanpa paksaan. Namun, mana mungkin dapat terjadi semulia itu, bila diantara semuanya suka berpaling. Kenaturalan itu hanya dapat terjadi karena keharmonian, keharmonian dapat berjalan dalam keutuhan hanyalah karena keselarasan, dari hubungan yang satu dengan yang lainnya.
Hidup dalam lingkungan sosial yang sangat ramai memang akan terasa menyenangkan baginya yang dapat memenuhi kebutuhan  atau keperluannya sendiri yang dirasa hasil dari kompetisi murni, dengan tidak mempedulikan yang lainnya. Namuan, perbuatan yang demikian itu jelas sudah secara tidak langsung menyalahi kodrati atau menyalahi sifat-sifat manusiawi yang sudah ditakdirkan agung, agung karena dirasa dapat mengayomi dan mengendalikan mahluk Tuhan yang lainnya. Ia lupa bahwa ketika ia yang melahirkan dirinya ke dunia ini memerlukan bantuan orang lain, tidak sendirian dalam kesunyai atau kesepian “ingat. Ini buka kisah tau cerita Ibu Maryam melahrikan Isa AS”. Dalam hal yang sepenting ini saja dilupakan. Apakah ini merupakan tanda bahwa manusia sudah dilemahkan kekuatan dirinya untuk dapat menyadari atau menghikmahi ? yang terbilang bahwa itu merupakan waktu-waktu yang menentukan kehadiran dirinya.
Jadi, dapatdikatakan, diidentitaskan, dan disimpulkan bahwa manusia yang suka meniadakan atau melupakan dan berpaling dengan yang lainnya yang berkaiatan atau tidak dengan dirinya, secara langsung atau tidak langsung. Memang sedang berbuat menyenangkan diri,untuk tanpa terikat dengan yang lain. Dengan maksud dapat berlaku sebebas-bebasnya. Tetapi kesenangan tersebut merupakan hal yang akan menjadi laknat dikemudian waktu bagi dirinya, baik di dalam hidupnya atau di akhirat kelak “hari kebangkitan”. Karena perbuatan yang demikian merupakan bagian dari perbuatan yang menyiksa orang lain atau membiarkan orang lain tanpa ia sadari dan ia ketahui, dalam bahasanya ini dinamakan perbuatan dan golongan dzolim. Dalam langkah waktu yang berjalan tidak dirasakanolehnya.
Hanyalah mempertanyakan, benarkah bahwa manusia yang berlaku demikian itu sedangan menunjukkan lunturnya kemanusiaan dalam dirinya ?

“menuruti dan mengikuti kehendak hawa nafsu dengan bebas-sebebas-bebasnya. Dan Neraka Dunia adalah hal-hal yang menyenangkan dilakukan dengan melupakan dan menegasikan mahluk Tuhan yang lainnya”

Oleh : Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"