~Menempatkan Ketulusan & Kebaikan~



~Menempatkan Ketulusan & Kebaikan~
(dalam keadaan yang tidak saling mempeduliakn. Pragmatis mendominasi, hingga cenderung hanya memanfaatkan, bukan saling memberi manfaat)

Sudah lama dan sudah menjadi kebiasaan bagi pendahulu kita, yang semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang menguntungkan bersama dilakukan. Itu semua tercermin dalama banyak contoh yang sekarang sudah membudaya, tetapi saat ini teramati hampir pudar dan punah digerus oleh peradaban dan ambisi. Seperti yang sudah lumrah kita ketahui atau amalkan, tentang Gotong Royong. Ini merupakan corak kita miliki bangsa yang memang betul-betul tinggi menjunjung semangat kemanusiaan bagian dari semangat kekeluargaan di atas bangsa-bangsa. Perbuatan yang demikian itu sudah banyak teruji menghasilkan kerukunan yang mendamaikan. Tentu itu semua terjadi bukan tanpa didukung oleh keadaan yang memang menjunjung tinggi semangat “anti eksplotasiong de long par long nation”, semangat anti saling mengeksploitasi dan merugikan yang di sekitarnya atau yang di luar dirinya. Baik yang berhubungan secara langsung maupun yang tidak secara langsung.

Nusantara kita yang harmoni, dan budayanya yang menjunjung tinggi semangat hidup bersama dan berdampingan atau sering disebut juga “komunal”. Layaklah  mengakui mengapa tentang ketulusan dan semangat kebersamaan dapat berkembang dengan subur di Nusantara kita. Banyak berkembang dan lestari, karena tidak suka saling berpaling, berdusta antar pelakunya, adalah juga hal yang mendasari mengapa hal baik itu bisa bertahan dan selama itu. Ini masa lalu, dan untuk masa sekarang, agaknya kita perlu memikirkan ulang. Dalam menempatkan atau melihat perkembangan tentang perbuatan ketulusuan, kebersamaan, dan kebaikan. Pandangan demikian ini tidak terlepas dari keadaan dan situasi saat ini, baik dari sisi peradabannya dan perkembangan dari kecendrungan  yang mendominasi dari setiap individu atau golongan. Yang sedemikian rupa dan nyata, bahwa pribadi-prbadinya sudah terinfeksi pragmatisme yang akut. Seperti mencari untung nomor satu daripada kemanusiaan, saya dapat apa bila  melakukan itu, dan pola-pola pemikiran yang implikatif ( jika ini, maka itu atau jika itu, maka ini ) di mana rata-rata pribadi hendak melinearkan setiap keadaan dari kehidupan yang berdinamika dan penuh romantikan rumit ini. Tentu sangat jelas hal kondisi yang demikian itu bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bernilai filosofis atau hal yang berbau pengharapan simbiosis-muatalisme dalam selang waktu. Keadaan yang seperti itu tidak saja terjadi begitu saja, tetapi di antaranya karena dipengaruhi oleh dominasi pemikiran rasional (rasionalisme) atau kurangnya holistik dalam menggunakan analisis dari setiap keberlangsungan kehidupan. Dan hanya memberatkan satu dari beberapa hal yang sebetulnya dapat digunakan dalam berpandangan atau untuk sekadar mengkaji, seperti (ilusionalisme, konstruktifisme, logisisme, naturalisme, dst ).

Sedikit mengerutkan kening, bila melihat keadaan yang saat ini untuk dilihat, diresapi, dan diamati dari banyak sudut atau sisi. Banyaknya ketimpangan merupakan bagian kecil kejadian buruk yang ada, efek dari tidak saling mempedulikan, saling menegasikan, melaknati atau suka saling mengabaikan dari satu pribadi kepada pribadi yang lain meningkat, dan melunturnya sisi naluri-naluri manusiawi dari beberapa insan. Pantaskah nilai-nilai ketulusuan ditempatkan disembarang tepat, atau diberikan kepada sembarang orang ? bila keadaan nyatanya adalah demikian itu. Dengan keadaan, dinamika, dan romantikanya yang sudah mengalami pencapur adukan tidak karuan, sehingga sulit lagi dipisahkan mana yang kita dan mana yang mereka, dan banyak dirusak oleh injeksi negara lain yang memiliki watak neolib, kapitalis, dan imperialis. Untuk menguasai dan mempolitisasi Nusantara kita dari banyak alasan yang jelas dapat dijabarkan dan didefinisikan. Pastilah mereka salah satunya menggunakan hegemoni-hegemoni yang dapat mencerabut kita dari dunia kita atau apapun hal dapat dilakukan oleh mereka demia tercapainya kehendak mereka. Dalam alam fikiran mereka yang kapitalis itu, tidak ada kata nurani, kemanusiaan atau perasaan digunakan dalam melakukan aksinya. Yang ada dalam benak mereka hanya untung-untung dan keuntungan “rente” dalam setiap dan segala hal yang memotivasi perbuatan, yang hendak dan dilakukan secara praktis oleh mereka si kapitalis (lalim, mungkar, dan jelas jahat dalam kejahatan yang lembut). Itu hal yang melatarbelakangi, mengapa aksi mereka sedemikian bengis dan terkadang keji, seperti contoh : kasus agraria yang berujung kekerasan dan menghinakan rakyat bawah terjadi di Rembang, Jambi, Kalimantan, Makasar, Bengkulu, dst, wujud nyata bila kapitalis sudah beraksi. 

Tidak ada selang dan dinamika dari perbuatan selain daripada menghendaki secara dini atau sedini mungkin kepada kongklusi, adanya kepastian yang praktis ditetapkan dengan kehendak tepat dari setiap konklusinya. Kalaupun teramati ada kebaikan yang berkembang, itu hanya selubung maksud atau dalam istilahnya “pesoudo demokrasi”. Agar tetap semua niat jahatnya masih tetap lestari dan bertahan, dengan sedikit iming-iming yang diperlihatkan. Padahal yang tersembunyi dan tersekap sangat mengerikan dan membahayakan, baik lahir maupun batin setiap korbannya.

Dari itu, sepertinya kita perlu mengkaji, merenungi, atau memikirkan kembali dengan dalam dari setiap perbuatan baik yang hendak dilakukan, berusaha menempatkan dan memposisikan secara tepat dan akurat. Agar ketulusan atau semangat Gotong Royong yang sudah lama kita ketahui ( miliki ) ini dapat terus dipertahankan dan terjaga untuk dilestarikan. Dan tidak dipermainkan atau dipolitisir oleh mereka-mereka atau dia yang tercemar dominasi dalam diri pragmatis. Bukannya hendak melunturkan atau memudarkan nilai-nilai kebaikan dalam diri untuk keharmonian kepada yang lain, hanya saja  dan hanya hendak mengajarkan agar lebih selektif dan hati-hati. Hal ini karena beberapa penjabaran alasan di atas dan pengalaman yang memilukan karena salah menempatkan perbuatan ketulusan atau kebaikan. Tentu demi Tuhan maksudnya juga agar kebaikan+ketulusan itu tetap berlangsung dan menjadi pribadi setiap kita, menjadi naluri, menjadi insting, dan menjadi bak darah dalam badan kita. 

Penggambaran di atas, agaknya sudah dapat untuk menjembatani eksplorasi dari banyak sisi tentang ketulusuan dan kebaikan, dalam bingkaian, dinamika, dan romantika manusia pragmatis saat ini, waktu ini dan keadaan ini. Baik untuk melakukan atau menempatkan ketulusuan atau kebaikan itu sendiri.

***

Ketulusan identik dengan perbuatan aktif atau kerja yang dilakukan tanpa tanda jasa, dalam arti sempit dan harafiah saja. Sedangkan yang melakukan jasa itu butuh hal yang membuat agar dia tetap dapat bertahan, hidup, dan lestari dalam lingkungannya. Tetapi dalam perkembanganya, ini dimaknai dan hanya dimanfaatkan secara sepihak dengan cara memutar balikkan keadaan “yang membuat jasa seakan tidak membutuhkan makan dan hendak lestari dalam lingkungan”, ini wujud logika lalim yang manipulatif. Keadaan ini semakin menjadi pula karena bantuan hegemonik agama yang kemudian mendukung perbuatan demikian lugu agar tetap dipertahankan, tanpa melihat konteks dan dimensi setiap keadaan, “berbuat tanpa imbalan adalah surga”. Penuh kontradiksi dengan jelas. Bukan kita hendak melepaskan nilai-nilai agama “tentang ikhlas, misalnya”, tetapi ini adalah bermaksud untuk membandingan dengan jelas relevansi antar agama dalam keadaan berkehidupan yang mampu dijangkau oleh rasionaitas, namun di pandang dengan cara yang sangat mistik, dogmatis, dan sangat ilusionalis. Analisis ini tidak lepas dari konteks. Dipertegas, tidak ada yang salah dengan ajaran agama yang dibisikkan atau dianugrahkan oleh Tuhan, yang salah adalah manusia yang memaknai dan mempelajari dengan sempitnya cara yang ia gunakan untuk memandang, memaknai, mempelajari, dan mengamalkan setiap niali yang terkandung dalam agama. 

Kita hampir tercerabut dengan nyata dari hakikat yang membuat dan memperlihatkan kita berbudaya selama ini. Agama adalah salah satau hal yang membuat keadaan ini. Keadaan ini tidak pernah lepas dari sandiwara campur aduk tangan-tangan setan “imperialis, neoliberalis, dan kepitalis”. Yang nista, yang jahat, yang bengis dalam memangsa, dipenuhi dengan hasrat-hasrat keserakahan duniawi. Untuk menyelamatkan ia yang menghendaki surgawi, tentu tidak pernah boleh menghilangkan tentang membuat kebaikan di alam duniawi.

Semangant-semangat yang awalnya dahulu hadirnya untuk membangun kebersaaman dan membantu ia yang memang betul-betul membutuhkan. Tetapi sekarang dimanfaatkan dan dimainkan oleh segelintir golongan untuk keuntungan kelompok dan golongan yang terbatas, bukan untuk bersama. Saling menunggangi, saling mengangkangi menjadi pemandangan yang lumrah dan biasa, dan ekstrimnya ada yang meyakini suatu kebaikan. Analognya, ia yang memberi jasa tanpa pamrih, diperas tenaganya dan ia diterbangkalaikan. Dibunuh secara berlahan, dan dibiarkan hidup dalam keadaan ketidak pastia, tetap dipermainkan. Bermain dengan fikiran tentang ketulusan, padahal kehidupan tidak dapat bertahan dengan ketulusuan yang tidak ditempatkan pada penempatan yang tepat.

Dalam keadaan yang seperti ini, seperti saat ini, yang penuh sesak dengan persaingan ketat saling memanfaatkan bukan saling menguntungkan atau memberi manfaat. Jelasnya, lebih kepada persaingan bebas yang terjadi, tanpa adanya peran nyata dari pemerintah untuk ikut mengatur agar tidak terjadi ketidakadilan karena hukum rimba “efek dari liberalisasi dalam lingkup sistemik, seperti negara”. Karena memang keadaan yang demikian ini besar pengaruhnya kepada pembentukan karater, watak, dan tingkat kesadaran setiap individu atau pribadi. Hukum yang sudah mejadi logis, “keadaan yang mendominsai secara masif, akan menghegemoni dan menjadi pandangan hidup bagi khalayak ramai”, terlepas itu baik atau buruk. Hegemoni tidak mengenal baik atau buruk suatu hal, bergantung kepada siapa yang berkepentingan. Bila pasar yang berkepentingan, tentulah yang akan diserang atau dijadikan objek eksploitasinya adalah individu, dengan hegemoninya yang sudah sedemikian rupa dibuat. Misalnya, merusak budayanya, dengan memberi contoh kebebasan dan kehidupan yang individualis, hedonis, apatis, kapitalis, dan konsumtif. Ini terjadi di negera kita, kita sedang dikikis semangat ke-Gotong Royong-ngan-nya dan semangat ketulusan+kebaikan dalam perbuat sesama manusia.

Mereka yang masih bertahan dengan tradisi lama, yaitu tradisi, ketulusan, suka rela atau bekerja tanpa tanda jasa, tidak menjadi masalah. Yang penting mengabdi, memang baik dan bagus prinsip sperti ini dipertahankan atau dilestarikan dalam dunianya. Ada hal yang perlu sekiranya diketahui dan dimakani dengan sungguh, adalah kepada siapa kita berbuat penuh ketulusan, mengabdi, dan benarkah tempat yang kita pilih gunakan untuk mengabdi atau bertulus itu betul-betul memikirkan bagaimana kita. Atau malah berbuat dan berlaku sebaliknya kepada kita, ia hanya memanfaatkan ketulusan kita saja dan ia tetap dengan leluasa menjalankan perbuatan-perbuatan jahat yang selama ini sudah biasa dilakukan, memanfaatkan keluguan individu yang tulus. Itu baru saja sedikit gambaran, tetang hal negatif yang ditimbulkan bila salah dalam menempatkan tentang ketulusuan atau pengabdian kebaikan kita.

Tentu, hal seperti itu tidak terjadi begitu saja. Pastilah banyak atau ada beberapa unsur yang mendasari, menyelimuti, hingga membuat keadaan yang demikian itu semakin menjadi-jadi dan seakan sebuah amalan “padahal melemahkan dan mematikan secara berlahan”, bagi yang mampu menyadari dan memahami. Di antara hal yang menjadi penyebabnya itu, salah satunya adalah disebabkan karena luputnya kita menyadari, memahami, dan mempelajari kemudian mengkritisi keadaan yang demikian itu. Dan lambatanya kita membaca perkembangan situasi dan kondisi yang sedang terjadi di sekeliling kita. Hingga membuat keadaan itu tetap ada dan kesannya dilestraikan “seperti berjalan tanpa sandiwara, padahal semuanya dinamika+romantika. Juga sepertinya terlalu memahami keadaan dengan dogma yang selalu menjadi tendensi dalam mengambil keputusan. Hinggalah kita melakukan perbuatan atau respon terhadap sesuatu tanpa melihat keadaanya, konteksnya, atau situasinya, tetapi berdasarkan idealisme-dogma yang selama ini sudah lama berlabuh di fikiran. Mengakibatkan, mengambil keputusan dari keadaan yang sering tidak relevan atas apa yang sedang dialami.

Mempertahankan tradisi lama atau budaya lama, yang baik. Di semesta atau kondisi yang penuh dengan kebebasan tanpa batas atau tanpa menilik sekat-sekat kehidupan dan dilingkupi ketidakpedulian ini, membuat kita tertinggal dan dimanfaatkan oleh keadaan yang bertendensi kepada keuntungan atau pola fikir pasar, pragmatis. Kita yang sosialis, bila mana tidak pandai-pandai memahami keadaan, maka besarlah kemungkinan kita dimanfaatkan saja karena keluguan kita olehnya yang menghendaki keuntungan (manfaat) sebesar-besarnya tanpa hendak bersusah payah atau bermodal sebelumnya. Ingat watak kapitalis “keuntungan/rente, tidak ada nurani atau hati”. Habis sudah tenaga dan fikiran kita, orang lain yang  menikmati, mendapat keuntungan, dan kita yang mendapat kelelahan, tersiksa batin, dan perlakuan tidak membawa kebaikan untuk kita dan kemungkinan besar menurun lestari keketurunan kita, hingga membentuk mental. Cenderung perbuatan kita ini dapat digolongkan perbuatan yang melestarikan dan meng-aamiin-kan kedzoliman atau kejahatan yang berlangsung. Karena kebaikan-kebaikan atau ketulusuan yang kita lakukan atau perbuat itu melanggenkan orang lalim dalam berbuat yang ia maksud. Kita yang lugu, kita yang dibodohi, karena tidak pandai membaca keadaan secara holistik. Ini  bukti ketulusuan yang hanya dimanfaatkan dan bila dilabuhkan kepada yang tidak tepat. Dapatlah ini dinamakan sebagai “perbuatan sosial yang dipolitisir atau politisasi sosial”.

Memang keadaan saat ini begitu tidak mempedulikan satu sama lain. Karena yang menjadi orientasi adalah kesenangan dan kesukaan belaka, tanpa pernah hendak melihat ia yang dalam kesusahan dan kesempitan. Ini bukanlah jatidiri bangsa-bangsa kita Indonesia, yang mana sudah jelas naluri saling Gotong Royong yang saling memberi keuntungan dan kemaslahatan bersaman mejadi coraknya. 

Dalam kondisi kodrat kita ini, bisalah kita dengan leluasa menerapkan sifat mengabdi atau berbuat penuh dengan ketulusan dan kebaikan. Dan benar, perbuatan yang kita lakukan ini akan menghantarkan kita kepada jalan yang menyenankan dan dapat membawak kebaikan bagi diri kita atau orang lain yang kita tulusi. Karena budaya yang kita hadapi adalah budaya kita sendiri dan dalam kondisi kodrati semesta alam kita. Bukan malah sebaliknya, budaya orang lain (luar nusantara) kita sikapi dengan cara ketulusan dan kekeluargaan budaya kita, yang arif, harmoni dan menyejukkan. Jelas kita dimanfaatkan, dimainkan dan dimakan oleh mereka. Yang sudah kita ketahu dan jelaskan wataknya dominasi menggunakan rasio, sedangkan kita menggabungkan hati dan akal walaupun banyak lebih berat menggunakan hati/perasaan. Dari sisi ini saja sudah nyata tidak bertemu, sebaiknya dijadikan tendensi bilamana hendak menyamakan atau memadukan.

Inilah mengapa kita harus berfikir kembali saat ini, saat hendak menempatkan atau melakukan perbuatan-perbuatan yang kita pahami sebagai ketulusan dan kebaikan. Seperti yang sudah saya jelaskan semula, salah menempatakan dan salah membaca keadaan, kita dimanfaatkan atau kita melestarikan kejahatan, kedzoliman, dan kemungkaran. Bukankah ini jelas tidak diperbolehkan, baik secara agama maupun secara akal sehat kita manusia bernuansa Nusantara yang berhati. Tepat dalam menempatkan dan memperhitungkan, kita bisa saling memberi manfaat dan saling memanfaatkan yang simbiosis muatalisme. Bila benar demikian, jelas ini akan melestarikan kebaikan dan memangkas kejahatan, kemungkaran, kedzoliman yang direncanakan oleh imperialis, kapitalis, dan neoliberais. Sangat baik dan banyak membawa kebaikan bagi budaya dalam negeri sendiri, bila hal ini dapat atau menjadi refrensi dalam kita hendak berlaku dan bervisi bahkan.

Rumit memang, menjelasakan keadaan yang sulit dipisahkan menjadi dua bagian jelas yang dapat dibandingkan. Perlulah untuk mendalami dan menkajikannya lebih jauh secara sendiri dengan memaknai dari setipa pengalaman-pengalam ketulusan yang sudah pernah diperbuat. Dengan berdasarkan konteks-kontes yang sedang berlangsung.

Sudah jelas, bahwa budaya yang sedang berkembang dan  berlangsung kita alamai ini. Mengucilkan, merugikan, dan banyak melemahakan kita yang mempertahankan tradisi asli yang sebetulnya baik. Seperti yang diajarkan Nabi Isa .as “cinta dan kasih”. Itulah mengapa saya mencoba memberi sedikit gambaran bagaimana cara mengatasi atau menghadapinya. Agar kita tidak usang oleh zama dalam mempertahankan tetang ketulusan dan semangat ketimuran yang humanis, yang sudah sejak lama kita miliki dan membawak kebaikan. Dengan butki banyaknya macam-macam budaya di kita ini yang tidak terhitungkan, dari Genduri, Gotong Royong, Sambung Lidah, Makan Besar di Papua, dan acara-acara kebesamaan lainnya. Ini kenyataan yang terjadi atas dasar semangat saling memberi manfaat dan saling Gotong Royong, tidak saling menegasikan, melepaskan, menyembunyikan, memalingkan, meninggalkan, menegasikan atau saling mengasingkan.

Tidak boleh bila hanya saja peradaban yang membuat identitas atau mengendalikan kemajuan, tetapi pemikiran yang mengendalikan kemajuan dan peradaban. Ini bermaksud, agar kita tetap mampu dan bertahan dengan tradisi lama yang memang membawa kebaikan untuk dipertahankan dan dilestarikan, dalam konteks dan situasional. Menyesuaikan dan melihat setiap lini konteks kehidupan sudah menjadi barang pasti dan nyata seharusnya menjadi tendensi dalam kita hendak bervisi atau berkeputusan secara pragmatis.

“ketulusan memang tidak mengenal siapa dan untuk siapa. Tetapi, kedzoliman, kemungkaran, kejahatan, dan hal yang menodai tentang ketulusuan dan kebaikan harus tetap ditolak, digilas, dibuang, dimusnahkan, dan dihilangkan. Karena sungguh, kebaikan dan ketulusuan tidak pernah boleh berjalan beriringan dengan kenistaan”

Oleh: Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~