~Bukan Cinta tapi Dogma, bukan Realita namun Mencari Jalan untuk Mendusta Perintah-Nya~1
~Bukan Cinta tapi Dogma, bukan Realita namun Mencari Jalan
untuk Mendusta Perintah-Nya~1
Cinta,
asmara, kasih sayang, dan belahan jiwa sering dilontarkan anak-anak muda
sekarang yang sedang dimabuk kepahyang, dengan lawan jenisnya. Perkembangan
asmara sebelum waktunya mengalami perkembangan tanpa ampun dan batasan yang
terformalkan, semua adat diberantas. Semua batas ditebas, semua pembatas
dianggap pendukung sebagai formalitas, ayat Suci dikata sebagai bagian dari
dengki-dengki penhghambatan kesenangan batin, jiwa, dan hati yang mengurai
benih-benih cinta. Cinta penuh noda sudah biyasa, asmara mengelora dianggap
lumrahnya kodrat anak manusia, semua diartikan dan didefiniskan harus
dilampiaskan.
Seiring
perkembanganaya semua nafsu semua aura-aura cita ingin dilapiaskan walau belum
waktunya, ini semua didukung dan ditunjang karena kurannya bekal dalam
menyelami dan mengarungi kehidupan. Semua yang ada bukan untuk dipelajarinya,
namun untuk dicari jalan dan sela waktunya bagaimana cara untuk melanggarnya.
Semua keberadaan asamara penuh noda ini dari tahun ketahun ini selalu mengalami legitimasi, asimilasi
dari golongan atau kelompok yang selalu ingin mendapatkan dorongan dan
pembenaran bahwa semua yang mereka lakukan adalah sebagian dari Iman, dan harus
diikuti dan dijadikan sebagai pedoman. Inilah dia asmara sara sebelum waktunya,
muncul denga istilah fenomenal dan keren yaitu PACARA, sekopalak untuaian kata
sering kita dengar dan sudah menjadi hal yang biyasa bagi kalangan anak muda
NISTA dan pengikutnya yang melestarikanya. Semua menjadi pengakunya dan
diikutinya tanpa memandan kembali dari mana dan kemana semua asal dan usuk ini
bermuara dan apakah yang akan tercipta, jika semua ini menjadi bagian dari
keseharian dan mejadi budayanya serta bagian dari realitas/realita dalam
berkehidupan untuk menapaki kehidupan.
Bagaiama
semua keharmonisan akan tercipata dengan baik jika dalam proses pencari dan
pembentukan anak serta generasi melalui jalan yang nista dan penuh lika-liku
kenafsuaan sebagian darinya melengkapi. Apaka semuanya bermuara kepada
keridohan dari yang Kuasa. Kesadaran telah terpendam, kesadaran berfikir telah
mati. Anak manusia bisanya melestarikan semua kebudayaan yang sudah ada, tanpa
menyaring semua kejadian yang mejadi turun temuru kebudayang untuk dikeritisinya
kembali. Inilah anak manusia yang statis. Lupa makanaya sebagai manusia yang
mampu berfikir dan memahami semua kejadian yang ada. Pacaran bukanlah hal baru
ditelingan, namu luwar biyasa ketenaranya sehingga kebenaran untuk mengalakan
istilah pacaran jadi terpuruk.
Jiwa
muda sekarang sudah menjadi bagian dari pembawa kehanjcuran peradaban umat
manusia, dengan melestarikan semua hal yang tidak sepatutnya dilestarikan.
Akankah kata dan tradisi pacaran itu menjadi hilang, punah, dan dianggap nista ? atau sebalinya, yang selalu
menjadi dambaan bagi semuanya ! sehingga keharmonisa dalam berkehidupan akan
kembali tercipata. Semua mala petaka sekarang banyak menghampiri karena
banyakanya jiwa yang meronta, mengangan-ngangan(berhayal) mencari celah
bagaimana meloloskan jiwa untuk melestarika sebuah indahnya perzinahan yang
terproseduralkan. Inilah cinta dibilangya, inilah hasrat dari jiwa yang kosong,
bilang jiwa yang sedang dilanda hampa dalam jiwanya, yang sedang mencari
kepuasan dan pelampiasan nafsunya. Sedang menyusun rencana bagaimana agar bisa
melapiyaskan nafsunya dengan ridho dan mendapat dukunagn orang tua. Semua cara
dan taktik ini bermuara kepada istilah PACARAN.
Memang
nyata buka cerita, pacaran adalah suatu cara pelegalan pelampiyasan nafsu sebelum
waktunya yang mendapat pengakuan secara resmi dan mutlak untuk saat ini, dari
orang tua yang tidak tahu perkembangan dan peradaban zaman. Inilah yang saya
bila ‘’berhura-ria nafsu dengan ridho orang Tuan(bapak dan ibu)’’. Kasian aku
melihatnya, bagaiaman mereka mampu bertangung jwab atas semua yang sedang
terjadi dan telah terjadi kepada anaknya yang melakukan kegiatan PACARAN itu.
Sadar dan tidak sadar orang tua menjadi pendukung dan pelestari budaya perusak
martabat bangsa ini, terkhusus untuk orang tua yang tidak tahu dan lupa perannya
sebagai penjagannya dan penyelamatan terhadapa generasi muda.
Kita
bandingkan dari tahu ketahu dan dari waktu kewaktu. Dibawah tahu 90-an sebelum
tenarnya bahsa PACARAN atau mencari pasangan untuk malam mingguan. Belum banyak
ditemukan banyak anak remaja yang hamil diluar niklah, belum ditemukan banyak
anak yang bunuh diri karena patah hati, belum ditemukan anak SMK menenggak
racun serangga karean diputuskan oleh sang peria atau pacarnya atau bahasa
kerenya pasangan kencannya dan sebagainya. Semua berita dan kedukaan ini
menjadi topik penting dan sering muncul dalam berbagai media cetak dan top news
TV, setelah adanya tenar bahasa pacaran atau bergaul antara laki-laki dan
perempuan yang semakin bebas. Miris bukan dengan semua ini, apakah kita akan
menjuadi golanag atau bagian dari golongan yang ingin melestarikan semua ini ?
ataukah sebgai penguat agar semua ini tetap berlangsung dan bertahan sehingga
banyak anak muda yang putus harapan dan patah arang karena problematika ‘’asmara
dan cinta’’ yang melanda untuk alasan menuai kesenangan hasrat yang sementara.
Ini
yang dikatakan melapetaka pelampiyasan amsara cinta, melestarikan noda-noda
cinta sebelum masanya. Cinta asmara penuh luka, merusak peradaban menghancurkan
masa depan, melupakan sosialnya manusia, inilah asmara cinta bergelimang dosa
yang diperlakukan atau dijalani sebelum umur dan waktunya.
Aku
katakana dengan tegas, aku bukanlah bagian dari itu dan itu bukan bagiandari
budaya aku. Aku anak manusia yang masih sempta tersadarkan akan semua
cerita-cerita masalalu yang tersisi. Sisa-sisa Cinta, Asmara, dan sebagianya
kendalikanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah sedikit-sedikit semua kejadian
kejolak jiwa yang merontak kita dan kamu muarakan kepada pacaran atau hubungan
status jauh waktu sebelu menikah.
Inilah
bagian dari generasi yang akan terselamatkan jika menjauhkan diri dari semua
itu. Mempertahankan keperawanan dan keperjakaan anak manusia sampai pada
waktunya, dengan jalan dan cerita mengendalikan jiwa dan raga menjauh dari semu
itu. Inilah alasan terbaikan dan terunik untuk menjaga kesetabilan dan
keharmonisan jiwa dan cinta manusia dan tatanan sosial-budaya.
Cinta
tidak harus dilapiyaskan jika sebelum waktu, cinta buka untuk dituruti, namun
cinta adalah kepandaiann jiwa kita mengendalikan kekosongan dari jiwa, dan
mengisinya dengan hal yang akan berujung dengan keindahan.
Apalah
arti sebua kegiatan-kegiatan penyokong dari Cinta yang banyak katanya membawak
kebaikan untuk saling melengkapi, jika semua dilakukan sebelum waktunya. Itu bukanlah
Cinta atau asmara atau perasaan, itu adalah langkah awal pelampiyasan nafsu.
Nafsu itu akan tersalurkan dengan
pandanganm, sentuhan, kemseraan, dan pada akhirnya ke persetubuhan((hubungan
badan). Inilah nafsu bukan cinta. Cinta dan asmara hanyalah sebua istilah
belaka, sebua lontaran kata yang sering kudengar ‘’aku tidak bisa hidup tanpa
kamu’’, ini adalah lontaran kata dari jiwa yang gila.
Marilah
bersama lupakan nostalgia Asmara, Cinta, Percintaan, Belahan jiwa yang belum
waktunya. Isilah waktu dan kekosongan jiwa, kehampaan hati, dengan kegitan
penyempurnaan jiwa dan membawak kebaikan dalam berkehidupan bersosial dan
bermasyarakat. Lupakanlah sejenak atau bahkan kebiri sementara cinta sebelum
waktunya. Aku kamu semua bukanlah cinta, namu kita melengkapi jiwa penuh Cinta
setelah waktunya.
Oleh: Sinaryo
‘’Inspirasi: Gejolak Remaja Pelestari
Budaya Hampa’’
Komentar
Posting Komentar