~Dampak Pendidik Tidak Peka~



~Dampak Pendidik Tidak Peka~
(mendukung dan menjalankan sistem pendidikan yang kapitalis, liberalis, dan anti-sosial kebudayaan bangsa)

Awal mulanya cerita, sebagai pendidik yang normal, yang sehat, dan yang menyadari dengan sangat bahwa dirinya sebagai bagiandari mahluk sosial dan mahluk sosial itu sendiri. Pastilah menghindari dan tidak akan berbuat hal yang mengekang, menindas, mengintimidasi, merendahkan, menghinakan, atau membatasi ruang gerak pesertadidiknya (dalam hal-hal yang positif).
Pesertadidik, yang terkadang diketahui memiliki karakter dan kebiasaan yang jelas berbeda-beda dalam banyak hal. Mulai dari emosinya, kecerdasan, ketangkasan, keberanian, kesopanan, kepekaan, etika, moral, dan hal lainnya yang dapat diamati serta dirasakan. Dan pendidik sebaiknya tidak menafikkan setiap dimensi-dimensi yang melatarbelakangi perbedaan setiap pesertadidiknya, seperti disebutkan di atas. Hal ini perlu diketahui, karena menjadi langkah awal agar dikemudian waktu pendidik tidak menjadi semena-mena ketika memperlakukan pesertadidiknya. Yang bermacam-macam, kelakuan, sikap, dan kebiasaanya. Karena pendidik sudah memiliki modal dasar filosofisnya dalam berkehidupan yang sosialis, hendaklah mengetahui dan menerima keadaan yang berbeda-beda. Dengan tetap memegang teguh hal yang dianggap baik untuk diperjuang, diajarkan, dan diteruskan kepada pesertadidiknya. Dalam arti dan maksud ingin melestarikan dan membentuk kedamaian atau keharmonian dalam perbedaan yang melingkupi.Pengajaran dan pembelajaran akan menghasilkan pribadi-pribadi yang, menghendaki, menyukai kedamaian, dan keharmonian kemasyarakatan. Bila setiap berlangsungnya proses pengajaran dan pembelajaranpesertadidiknya diberi ruang dan kesempatan serta dilatih untuk berpartisipatif.Dan membiasakan menunjukkan sisi kesosialannya, dengan ekspresif di dalam kelas.
Demi mewujudkan cita dan asa kebaikan itu, tidaklah bisa hanya dengan seutuhnya dikendalikan oleh pendidik saja. Apalagi dalam situasi pengajaran dan pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, yang sangat terbatas.Pendidik hendakanya mengajak, berkomunikasi, dan mengaktifkan pesertadidiknya. Dalam arti ini, tentunya ketikapendidik itu mengajar selalu menghendaki pesertadidiknya aktif dan partisipatif dalam mengikuti prosespengajaran dan pembelajaran yang sedang berlangsung bersamanya. Keaktifan pesertadidik harusnya menjadi perhatian pokok dan penting bagi setiap pendidik. Sebab bila pendidik tidak mengetahui tentang manfaat dan fungsi dari keaktifan pesertadidik, akan menghasilkan kualitas pengajaran dan pembelajaran yang monoton, stagnan, atau cenderung satu arah (totaliter, seperti rezim Orde Bru Pak Soeharto, yang jelas teramati banyak membawak ketidakbaikan bagi rakyat).
Kondisi yang demikian ituhendaknya dini disadari oleh pendidik, bahwa pesertadidiknya adalah mahluk sosial yang butuh bersosialisasi dalam kondisi apapun, dan memiliki rasa penasaran bila mendengar atau menemukan hal yang baru, termasuk dalam proses pembelajaran atau pengajaran di kelas. Pastilah pesertadidik berkehendak untuk menunjukkan atau mengekspresikan rasa penasaran tersebut, mislanya dengan bertanya atau sekadar berpendapat atau dalam bentuk ekspresi lainnya. Bila hal-hal demikian ini tidak menjadi perhatian bagi pendidik, maka bisa dipastikan kondisi pendidikan yang berkembang akan menjenuhkan dan membosankan bagi pesertadidik yang menerima dan menjalani pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dari waktu-kewaktu. “itulah jawaban mengapa ada sebagian pesertadidik berstatmen, sekolahan tidak ubahnya penjara” yang karena membatasi, tidak menghargai, atau karena tidak mampu mengakomodir setiap perbedaan yang melekat pada pesertadidik.

“Mengapa kesannya keaktifan pesertadidik dianggap penting dan menjadi perhatian ?”
Karena keaktifan dan partisipatif pesertadidik secara tidak langsung menunjukka minat, keberhasilan startegi, dan cara pengajaran yang digunakan atau materi yang disampaikan olehpendidik. Selain itu, keaktifan pesertadidik dalam kelas ini menjadi tonggak awal menciptakan pribadi pesertadidik yang komunikatif dalam lingkuangannya dan membiasakan dirinya menjadi individu yang tidak totaliter.Namun malangnya, kondisi saat ini hal-hal yang berbau sosial dalam lingkungkan pendidikan mulai diabaikan, dinafikkan, dihanguskan, atau tidak dipedulikan dan bahkan hendak ditiadakan, dengan hanya memberatkan sisi pembentukan intelektualisme. Dengan dalih dan dasar yang menjadi argumennya adalah karena sisi kesosialan (sosial) hal itu tidak dapat berdampak langsung dengan pencapaian nilai tinggi yang diperoleh pesertadidik, atau tidak membentuk intelegensi pesertadidik. Bisa pula dikatakan bahwa pendidikan saat memberatkan sisi intelegensipesertadidik saja, dan melupakan beberapa aspek yang telah melekat pada pesertadidik sebagai manusia.
Memang tidak wajarbila pendidikan menjadi demikian. Hal ini terjadi karena orientasi pendidikan saat ini hendak menciptakan pesertadidik menjadi sebagai mesin setelah selsai menempuh suatu jenjang studi, dan yang dapat menjadi budak dikorporasi-korporasi perampas SDA Nusantara. Apakah pendidikan atau pendidik kita saat ini memikirkan sejauh itu ? aku fikir tidak ! sebab beberapa di antara mereka sudah tidak mengenal amanat penderitaan rakayat, lunrutnya rasa nasionalisme, tidak mengenal tentang kebangsaan, dan tidak paham dengan kultur atau budaya bangsanya sendiri.
Bukan pula pendidikan saat inihendak menghasilkan pesertadidikmenjadi manusia yang seutuhnya. Dan pendidikan saat ini tendensinya membentuk pribadi-pribadi pesertadidik menjadi individualis, kapitalis, dan pragmatis. Hal ini karena penekanan penilaian dan aspek yang dituntut dalam ruang sistem pendidikan saat ini adalah hanya sisi inteletual pesertadidik saja. Jelas, intelektual dapat dibentuk dengan mengurung diri dan cenderung kepada membentuk pribadi-pribadi kompetisi atau persaingan kepada yang lain di luar dirinya. Inipulalah salah satu sumber  hal yang menjadi hasil pendidikan beberapa waktu terakhir ini yang dapat kita amati, rasakan, dan pikirkan sangat tidak mencerminkan atau melekatkan nilai-nilai sosial yang berkembang. Generasinya super tidak banyak atau bahkan tidakmemiliki sisi-sisi sosial yang melekat. Dan membuat beberapa banyak di antara mereka tidak mempedulikan hal yang bila tidak secara langsung bersentuhan kepada dirinya dan bahan ekstrimnya, saat ada hal yang menjadi masalahnya saja tidak dipedulikan dan hanya dinafikkan+diacuhan saja. Ini beberapa efek nyata dari pendidik yang menafikkan atau tidak mengindahkan aspek keatifan atau perkembangan dan pembentuk sisi sosial pesertadidiknya.
Dari keadaan perkembangan pendidikan saat ini yang demikian genting, yang jelas teramati mulai mencerabut nilai-nilai kultur yang berkembangn  di masyarakat kita, yang kita tahu sangat sosialis, humanis, dan tingginya semangat kebersamaan (kekeluargaan). Ironisnya sedikitpendidik dan bahkan tidak ada yang pernah memperhatikan atau mempedulikan secara penuh atau menyeluruh, aspek-aspek yang dapat mendukung atau ikut mewujudkan pesertadidikmenjadi aktif dan partisipatif dalam proses pembelajaran. Dan benar-benar sangat terjadi, begitu minimnya sekadar memberi penguatan, perhatian, atau apresiasi kepada pesertadidiknya yang sudah memiliki bekal keaktifan atau yang sedikit sudah terlihat atau teramati memiliki kepedulian (aspek sosialnya). Yang dimaksud dengan penguat dan perhatian adalah dengan cara memberikan efek secara praktis kepada pesertadidik yang aktif atau misalnya yang suka bertanya dan memiliki sifat sosial yang baik, dalam kelas atau dalam keseharian Sekolah. Dengan cara memasukkan kepada penilaian dan menambah nialinyabagi pesertadidik yang demikian baik sifat afektifnya atau apresiasi lain yang dapat meningkatkan dan mempertahanan bakat-bakat baik yang sudah melekat pada pesertadidik, dalam rangka pembangaunan kembali kultur sosial di lingkungan pendidikan.
Namun apa hendak dinyana, yang adapendidik hanya mengharapkan dan memberi ruang pesertadidik untuk aktif dalam proses pembelajaran, dengan tanpa ada melakukan upaya yang membuat pesertadidik tersebut menjadi tetap aktif. Selain itu, yang terjadi pendidik hanya ingin memetik hasil, mudahnya dikatakan “pendidik menghendaki pesertadidiknya yang aktif atau berpartisipatif, dengan tanpa mempedulikan hal yang sebetulnya membuat atau dapat membangkitkan pesertadidik itu menjadi aktif, tetap aktif, dan bertahan dalam keaktifan”. Mirisnya lagi,pendidik itu sendiri tidak hendak ikut melakukan perbuatan nyata sebagai upaya yang mendukung dan mewujudkan keadaan agar pesertadidik tersebut dapat menjadi atau memiliki modal aktif, misalnya sebagai langkah awal memintak atau mewajibkan pesertadidik aktif dalam organisasi “karena dalam organisasi akan membiasakan pesertadidik aktif”.
Biasanya pendidik yang berlaku demikian sempit dan sangat otoriter kepada pesertadidiknya adalah mencerminkan pendidik yang waktu muda, waktu masa kecilnya, dan waktu menjadi mahasiswahanya sibuk dengan kepentingan dan urusanya sendiri. Cenderung hedonis, apatis, dan individualis. Dan ada juga yang bilang, hal itu juga dipengaruhi karena kurangnya waktu yang dicurahkan darinya untuk bergaul dengan lingkungan sosial, atau hal-hal yang berbau tentang kegiatan kebersamaan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dan diasanya manusia jenis ini berkembang dan terbentuk karena hanya mementikan intelektual, tanpa dibarengi dengan pemahaman dan pembelajaran tentang kehidupan sosial.
Berdasarkan penjabaran di atas, nyata sudah bahwa sistem pengajaran dan pembelajaran saat ini atau sistem pendidikan saat ini pada umumnya, sudahlah memperlihatkan cideranya dan watak yang sesungguhnya. Dari orentasi pendidikan, orentasi pembelajaran, dan orentasi pendidik sebagai pendidiknya, mengalami kemunduran serta menyimpang dari yang dicita-citakan sebelumnya oleh pelopor pendidikan kita. Yang mana pendidikan adalah lahan pembentuk budi pekerti dan untuk melahirkan manusia-manusia yang bermanfaat atau bermartabat bagi masyarakat. Menghaluskan tindakannya, menghargai kebersaman, dan membantu serta menjunjung mereka yang terabaikan dan tertindas oleh keserakahan segelintir manusia jahat.
Karena perkembanga keadaan pendidikan yang demikian itu, ada hal dan upaya yang dapat dilakukan untuk mengembalikan hakikat dasar dan tujuan pendidikan sebagai pembentuk jiwa, mental, dan moral pesertadidik sebagai mahluk sosial. Dengan langkah awal, hendaknya pendidik membantu pesertadidikmenjadi berani dan percaya diri berbicara dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsun, atau melakukan hal lainnya yang dapat membuat agar pesertadidiknya ikut aktif dalam proses pembelajaran. Di antaranya adalah dengan memberi ruang atau pengarahan kepada pesertadidiknya untuk mengikuti organisasi yang ada di Sekolah. Ini merupakan salah satu upaya yang dapat mendukung atau memunculkan pesertadidik menjadi modal agar berani berpartisipasi aktif, dan ini bagian dari langkah yang dapat mengembalikan kembali orientasi pendidikan yang selama ini bias dan yang terjebak dalam alam liberalisem pendidikan. Yang nyata hendak memisahkan pesertadidiknya dari kehidupan bermasyarakat. Kebaikan ini dapat terjadi karena dalam proses pesertadidik mengikuti organisasi, mereka akan terbiasa mengikuti rapat, diskusi, membuat rencana program, membuat kegiatan, dst. Dan dalam keberlangsunganya ini, situasi yang terjadi adalah membuat pesertadidik yang mengikuti organisai itu untuk ikut berbicara atau mengusulkan pendapat, dalam hal ini adalah mengikuti jalanya diskusi. Kebiasaan dalam lingkungan organisasi ini yang banyak bergaul dengan anggota-anggota yang bermacam-macam sifatnya (keuntungan dalam aspek sosial). Pastilah memaksa setiap pesertadidik untuk berkomunikasi atau sekedar bertukar pendapat atau bercerita kepada yang lain (kolega, sejawatnya, atau anggota dari organisasi lain saat ada pertemuan).
Lingkungan yang demikian itu, membentuk pesertadidik yang mengiuti organisasi untuk terbiasa berbicara dan yang pasti bersosialisasi untuk mengenal keragaman dalam persamaan atau perbedaan. Menambah wawasan dan informasi lainnya yang tidka pernah didapatkan atau ditemukan dalam kelas (macam kesenian, kebudayaan, kuliner dll). Misalnya dalam berbicara, mengusulkan pendapat, berkenalan. Ketika ia kontinu dalam mengikuti organisasi ini, pastilah akan sangat berimbas dan mengkontruksi pribadi-pribadi pesertadidik yang mengikuti organisasi. Membentuk ia menjadi pribadi yang sosialis, komunikatif, terbuka, dan mampu memahami  perbedaan pendapat atau perbedaan dalam hal lainya. Karena ia sudah terbiasa menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan dalam organisasi yang ia ikuti. Kita tahu, dalam organisasi sangat kooperatif dan plural.
Kebiasaan-kebiasaan pesertadidik dalam rutinitas organisasi yang diikuti, secara tidak sengaja akan terbawa kedalam situasi pembelajaran yang diikuti. Bertanya, menyampaikan pendapat, mengkritik, mengkritisi, atau sekedar menanyakan. Hal ini terjadi, disebabkan terbiasanya ia berkomunikasi dalam dunia sosial yang beraneka ragam. Dan ketika menghadapi keadaan kelas yang aneka ragamnya terbatas, menjadi ruang baginya untuk menampilkan kebolehanya. Dalam hal keberanian berpendapat atau ikut berpastisipasi aktif dengan jalanya pembelajaran.
Perlu diketahui dengan sungguh, bahawa keberanian untuk berbicara, menyampaikan pendapat, mengkritik, menanyakan. Ini diperoleh dari kebiasaan yang dilakukan sebelumnya. Dan kebiasaan seperti itu akan dapat terus dilakukan, hanya ketika pesertadidik itu mengikuti organisasi. Tentunya, ini menjelaskan bahwa organisasi mendidik kecerdasan atau kemampuan sosial atau kemampuan partisipatif dari pesertadidik.
Menurut analisi, kajian, dan pendiskusianku dengan beberapa rekan yang paham dengan pendidikan. Menjadi penting aspek organisasi dalam membentu dan menentukan kecerdasan, dalam hal ini kecerdasaan emosional pesertadidik saat ini yang baru terdeteksi. Tentu, ketika ini menjadi point penting yang mendukung kualitas dari pesertadidik dan menunjang berjalanya proses pembelajaran menjadi baik. Maka, tidak salah bila kita menyimpulkan secara sementara bahwa “pendidik dan sistem pendidikan harus memberi ruang kepada pesertadidiknya untuk mengikuti organisasi. Karena dengan pesertadidik mengikuti organisasi dapat membentuk dan mewujudkan pesertadidik yang partisipatif dan aktif dalam mengikuti proses berlangsungnya pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik”. Lain daripada itu, manfaat organisasi juga adalah lahan nyata yang dapat membentuk karaker, kepribadian, dan kebiasaan pesertadidik. Tidak ada pendidikan karakter yang dapat terbangun dan terlahir dari ruang kelas yang hampa, kosong, pengap, dan terkadang menjenuhkan pesertadidik.
Bila hal ini benar-benar dijalankan dan diaplikasikan. Maka alam liberalisme yang akan meremukkan, mengendalikan, meruntuhkan, dan membawa sistem pendidikan kita ke pada “sistem pasar atau alam liberalisasi pendidikan” akan segera pupus, sirna, dan terhambat. Karena beasarnya efek yang ditimbulkan dari kesadaran kemasyarakatan yang melekat pada pesertadidik atau mahasiswa pada umumnya. Kesadaran sosial dan kritis dalam analisi keadaan sosial yang dimiliki dan timbul dari setiap pesertadidik ini karena pengaruh dari ia mengikuti organisasi.
Sisitem pendidikan yang sangat pro-pasar atau berwata liberalisme-kapitalistik ini tumbuh subur, saat keasadaran sosial, kesadaran kemasyarakatan, dan lemahnya kehendak berorganisasi daripesertadidik. Dan jelas yang diharapkan tumbuh subur kapitalis-pendidikan adalah individualisme, pragmatis, hedonis, dan apatis.
Saat pengkritik, pencela sistem, dan pengkritis pendidikan melemah, maka inilah keadaan yang memang diharapakan terjadi oleh para tokoh penjahat pendidikan. Itulah mengapa kita ketahui, dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, banyak diketahui sistem pendidikan atau keadaan pendidikan membatasi ruang gerak atau ruang lingkup pesertadidik dalam berekspersi dan mengembangkan diri yang sebagai lahan untuk mengasah kesadaran, kepekaan, dan kekritisan pesertadidik dalam dunia sosial. Namun karena kita tahu, beberapa bagaian dari sistem pendidikan kita telah dikendalikan atau ditunggangi oleh mereka penjahat pendidikan, maka jelas yang dihasilkan adalah kebijakan atau peraturan yang melemahkan dan menguntungkan penjahat pendidikan. Perlu diketahui pula, bahwa tidak ada penjahat pendidikan yang menghendaki pendidikan baik seperti sebagaiamana yang dicita-citakan.
Oleh karena itu, bila hingga saat ini masih ada guru yang melemahkan, membatasi, atau mengintimidasi pesertadidik yang aktif dalam organisasi dan cenderung tidak memberi apresiasi. Atau bertindak kontra sosial kemasyarakatan. Dapatlah digolongkan,bahwa mereka adalah bagian dari aparatus dan penjahat pendidikan yang hendak memisahkan dan melemahkan cita-cita pendidikan sesungguhnya. Dan mereka adalah wujud nyata dari pendukung liberalisasi, kapitalisasi pendidikan yang dilakukan dengan membentuk pesertadidik menjadi mesin dan pemenuh keperluan korporasi.

Oleh : Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~