~Cinta Itu~



~Cinta Itu~
(karena ada kedzoliman dan kejahatan yang berlangsung lama, dalam balutan dan cenkraman atas nama cinta)

Aku tidak mengenalmu dalam cinta, tetapi aku mengenalmu dalam kebencian dan ketidak pedulian. Tetapi itu meng-asik-kan dan menyenangkan hati yang sedang terluka dan terkutuk ini. Aku tidak suka dengan istilah cinta, karena keadaanya membuatku terbatas dan terbatah dalam memaknai, keadaan, kedalaman, yang sebenarnya tidak dapat dijelaskan dan dimuarakan semuanya kepada kata cinta. Cinta yang terkadang membuatku tersekap dan terkekang dalam kedamian, juga terkadang keberadaannya membuatku menjadi merasa sepi dalam keramaian, mungkin karena aku tidak sedang bersama cinta. Sedang cinta kadang mudah berpindah atau berpaling kepada yang lain. Tanpa permisi dan tanpa nasehat penguatan, agar diri yang ditinggalkan tetap mampu bertahan sejenak dari cinta yang berpaling.

Karena beginilah aku yang takut merasa dibudak dan dikendalikan oleh cinta. Karena cinta membuat ketidakstabilan diri dalam menjalani romantikan dan kenyataan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan cinta seperti ini. Bagiku inilah cinta dusta. Cinta tidak ada yang pernah setia atau membawak kebaikan baginya yang sedang dahaga dalam merasakan dan mendalami tentang cinta itu.

***

Aku memang belum pernah melabuhkan hati atau perasaan cinta kepada manusia yang secara permanen atau fulgar, seperti yang sudah menjadi realitas perbuatan-perbuatan yang dilakukan atas nama cinta. Tetapi, bukan pula ini berarti bahwa aku tidak miliki cinta atau perasaaan tentang cinta dalam diri. Sesungguhnya, bicara tentang cinta menurutku adalah berbicara tentang kesungguhan, keseriusan, dan kedalaman dalam ketulusan dari setiap hal yang dijalanai atau dimaknai. Dalam rangka, proses, dan dinamika mengejar untuk menggapai damainya batin. Di sini sebenarnya aku sedang mengalami kebimbangan dan kegamangan menjabarkan itu cinta.

Cinta bukan sekedarperbuatan atauungkapan kata dari dengan diiringi tindakan yang bermesraan, cumbuan atau perbuatan lain dalam balutan asmara yang banyak dikendalikan dominasi hasrat (nafsu). Yang terkadaan di antara keduanya atau salah satunya merasa terintimidasi atau tertindas atas nama cinta dan kesetiaan yang sedang dijalani. Yang beginilah realitas sekarang mengatakan, memahami, atau memaknai arti dari cinta. Sungguh sempit dan memudarkan hakikat cinta menurutku. Betapa tidak aku menjadi bingung, saat menggunakan tendensi dari realitas cinta yang sedang terjadi dan diamalkan kebanyakan umat manusia saat ini. 

Aku merenungi, aku berfikir, dan aku coba mengisolasi diri demi mendapatkan atau menemukan makna-makna cinta yang sesungguhnya, maka aku belajar memahami dan mendalami tentang cinta itu. Begitu dan beginilah caraku mencoba memahami dan mendalami tentang cinta. Sebelum diri seacara nyata dan fulgar mengamalkan dan mencoba menjalani. Dalam rangka perjalanan diri hendak melabuhkan hati yang memang jelas membutuhkan itu cinta. Dan bukanlah hati namanya, bila tidak membutuhkan atau menghiraukan cinta.

Dari kesungguhan diri yang tidak utuh dalam mengerti cinta. Dan takut tersesat atau terbuai dalam romantika cinta yang sebetulnya bukan hakikat dari cinta itu sendiri. Tentang cinta bukanlah tentang realita atau tentang hal-hal yang sudah mapan sering dilakukan dan diperbuat. Tetapi, mengenal dan memakani cinta bagiku adalah menyelami, menyulami, dan merajut kembali dari semua hal yang sudah dimengerti atau sekadar belajar memahami dengan ketulusan hati. Dalam arti sedang membangun keteguhan dan kejelasan darinya tentang cinta. Pemahaman dan pemaknaan tentang cinta tidak pernah mengalami stagnansi. Kesucian dan kebersihan batin, mencoba dijadikan legalisasi dalam menghikmahi kesungguhan tentang keberadaan cinta. Karena dalam cinta yang sebenarnya tidak ada dusta, apalagi duka-duka di dalamnya. Yang ada sebenarnya kesukaan dan keharmonian yang hanya dapat dirasakan bagi yang pernah merasakan. Dan sulit dijelaskan dengan kata-kata, yang terbatas oleh huruf, spasi, titik, dan koma.

Berfikir dan bertindak tentang cinta bukan hanya tentang, memadu kasih, asmara, romansa, atau kemesraan, yang berhubungan tentang hasrat lainnya. Tetapi sedang berbicara tentang kedalaman dari sebuah kesukaan tanpa ada maksud yang bermuara kepada lahirnya kedzoliman dalam bahasa intimidas dan dominasi dari yang satu kepada yang lainya. Jadi, berbicara tentang cinta ini erat kaitanya dan dalam penyusunnya dengan ketulusan dan kesungguhan. Dapat pula dibilang untuk menjalaninya penuh dengan “keluguan”, tetapi bukan kedunguan yang melingkupi atau menyelimuti manusia yang sedang digelapkan dan dikendalikan cinta.

“selalu ada hati dalam cinta, tetapi tidak selalu ada cinta dalam hati”

Oleh: Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~