~Terlelap~
~Terlelap~
(Politik praktis, tidak sama artinya dengan perjuangan & memperjuangkan hal yang Pragmatis)
(Politik praktis, tidak sama artinya dengan perjuangan & memperjuangkan hal yang Pragmatis)
Manusia yang paling nista atau dapat dikatakan mendekati menghinakan diri sendiri. Adalah mereka yang selalu cuap-cuap tentang elit politi dan perkembanganya serta komentar tidak berkesudahan tentang politik ''utopis''. Dengan tapa pernah memperlihatkan satu kalipun menyentuh dan membasahi dirinya di dunia politik. Dan bahkan merendahkan dan menghinakan dunia politik. Yang katanya adalah kotor. Bukannya lebih kotor dirinya yang mengidolakan salah-satu atau beberapa elit politik dengan fana. Dan sekakan-akan kebenaran tungga dari perbaikan keadaan dikendalikan atau di tangan elit-politik dukunganya. Dengan dirinya sendiri yang selama ini tidak pernah terbukti berkecimpung di politik. Apa ini tanda sedang menunjukkan keganjilan dalam jiwanya ?
''yang jelas, politik murni pertarungan dan perjuanga. Antara yang baik dengan yang bakhil''
Politik juga dapat maksudkan sebagai media, lahan, atau tempat perjuanga. Dan bagaimana tentang politik itu, bergantung atau sangat ditentukan olehnya yang sedang menjalani dan mengendalikan perpolitikan tersebut. Dengan segala maksud yang ia emban atau perjuangkan.
Memang bukan tanpa alasan ia yang demikian, mencela dan menilai miring para pelaku politik. Yang beranggapan seperti itu bukan tanpa alasan atau latar belakang. Seperti, bisa juga dikarenakan, kecewa dengan perkembangan politik atau kawan sekitarnya yang mengikuti politik namun orientasinya adalah lahan akumulasi uang (keuntungan). Atau juga karena termakan berita, elit-politik identik dengan korupsi.
Dan tidak salah dengan yang seperti itu meninlai dan menggunakan tendensi dalam memandang tentang politik. Tetapi, hanya menunjukkan atau memperlihatkan sempitnya jiwa atau dirinya dalam menilai apa itu politik. Semua kebali kepadanya yang menila. Dan menunjukkan kualitas dirinya yang berspekulasi.
Padahal, segala sesuatu tidak dapat disimpulkan begitu saja, hanya dengan satu atau beberapa sampel. Dan apa lagi menjadikan kejadian-kejadian kecil di sekitarnya sebagai alat untuk berargumen atau menilai.
Tidak salah dengan yang seperti itu. Namun, yang seperti ini adalah sedang memperlihatkan pola pengambilan kesimpulan secara induktif. Dalam arti, yaitu kejadian kecil untuk menyimpulkan hal yang sifatnya universal. Dan hal yang seperti ini, atau pola-pola penyimpulan seperti ini adalah pola-pola yang digunakan anak SD atau anak kecil. Yang mana biasanya, satu kejadian hal yang dijumpai digunakan sebagai alat kefanaan untuk beragumen. Seperti, anak kecil kebetulan melihat orang berambut panjang jahat. Maka dalam perjalanannya yang belum mendapat informasi tambahan dan perubahan kualitas dirinya, akan selama itu menilai semua orang berambut panjang jahat.
Jelas, bila memang demikian adanya, mutlak dapat digolongkan sedang menunjukkan kegersangan fikiran, dan belum menunjukkan fikiran yang lebih berkualitas. Padahal, usia dan umur harusnya membentuk pendewasaan diri, dalam aspek fikiran, pola fikir, dan cara pandang. Hal yang seburuk ini, dapat berkembang dan bertahan dalam jiwanya karena minimnya informasi, pengetahuan, dan bahan yang sebelumnya jadi rujukan pembelajaran.
Namun apalah hendak dikata. Kebanyak dari beberapa manusia di kita, adalah korban pendidikan yang sifatnya membuat generasi menjadi off dalam hal perkebangan atau kemajuan fikirannya (apalagi untuk tentang suka terhadap politik dan memahami benar). Termasuk dalam kreatifitas dan kedewasaan pribadinya, juga mengalami intimidasi warisan pendidikan-Orde Baru.
Manusia yang mengalami pendawasaan utuh. Itu dapat terlihat dari mana ia memandang sesuatu hal. Yang mana sesuatu itu menjadi sangat krusila. Adapun contohn berhentinya pendewasaan fikiran, seperti, menilai sesuatu keadaan dengan kemutlakan. Dianggapnya bahwa segala sesuatu tidak mengalami perubahan atau menjadi kulitas baru. Dianggap bahwa saat orang lain menentukan satu sikap, maka selamanya sikapnya tidak akan berubah. Jelas, dalam kondisi ini telah memperlihatkan keberadaan manusia yang mati atau terpejam dalam melihat realita. Yang selalu bergerka dan berubah dalam cepat waktu.
Kembali kepada masalah politik. Manusia yang banyak berkomentar tentang politik. Tanpa sebelumnya pernah ikut terjun dalam dunia politik dan mengerti makna dasar dari politik. Kebanyakan dari mereka adalah mengidolakan elit politik saja. Yang mana kita ketahui, eliti politik tidak selamanya dan rata-rata tidak ada yang membela kepentingan rakyat secara langsung. Dan sebagian besar mengidolakan atau membela elit politik tanpa dalih histor atau pisau analisa yang matang, denga MDH(materialisme Dialektika Histori), misalnya. Yang terkadang ia mendukung atau mengawinkan dirinya dengan elit politik yang jelas-jelas berjuang demi kepentingan partainya. Ini adalah kenyataan manusia yang sedang kebelinger dalam mengartikan tentang pemaknaan politik atau pemahamanya.
Padahal, politik adalah sarana perjuangan dan perlawanan. Untuk melawan ketidak baikan dan ketimpangan sosial. Ini saat politik tersebut dimaknai dan diterjemahkan oleh mereka yang aktif dalam gerakan porgresiv dan revolusione. Yang pro-rakyat dan benar-benar menyuarakan segala upaya dan aspirasi Rakyat.
Namun, saat politik itu sendiri dimaknai oleh kalangan yang jiwanya rente. Maka, yang terjadi adalah politik digunakan olehnya sebagai ladang atau tempat untuk mencari atau menambah dan mengembangkan modal-modal serta keuntungan yang mereka miliki sebelumnya. Ini bila politik itu dimaknai dan diamalkan oleh Borjuis.
Tetapi, karena sudah sangat lamanya perpolitikan nasional kita dikuasai oleh kalangan elit-elit politik yang atas nama perjuang Partai demi pemodal. Bukan perjuangan partai yang mewadahi aspirasi dari perjuangan Rakyat tertindas. Maka, menjadi bisasa dan kebanyakan masyarakat luwas kita menjadi teredukasi, tentang hal-hal negatif yang berkembang dalam proses pengertian politik itu sendiri.
Dan karena sebagian besar media mainstrean menyiarkan dan menggambarkan keburukan-keburukan dari para elit politi yang berkecimpung dalam partai. Padahal, maksud sejati perjuangan politik bukan saja yang demikian. Namun memiliki juga hal-hal positif yang dapat dijadikan alasan mengapa haru aktif dan ikut berpolitik. Bukan hanya membenci saja, atas dasar muak karena alasan realitas ?
Dan dalam keadaan saat ini menjadi wajib hukumnya untuk ikut serta masyarakat luwas dalam perjuangan politik praktis. Atau bergabung dalam partai, terutama partai yang memang benar-benar telah teruji dan terbukti setia selalu bersama di garis rakyat.
Seperti, Partai Rakyat Demokratik (PRD), misalnya. Yang telah nyata dan hampir 20 Tahun pascha reformasi bergerak di bawah tanah, demi membesarkan. Karena bila langsung di permukaan tanah, maka akan dibenci dan menjadi musuh bagi elit politik yang berwatak Borjuis. Yang jelas PRD membahayakan elit politik koto-Borjuis-dan titipan Imperialis. Dan sekarang sudah hendak muncul kepermukaan. Demi perwjudan asli pembela terhadap Rakyat. Harus kita semua bersatu untuk melawan dominasi elit politik titipan pemodal dan Borjuis, serta titipan neokolonialisme.
Karena dalam keadaan saat ini. Untuk dapat dengan nyata dan sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Adalah hanya dengan proses perjuangan pertarungan partai. Dalam hal ini pertarungan perebutan kekuasaan. Kemudian menjungkir-balikkan elit politik Borjuis yang selama ini telah bercokol dan bersarang di MPR dan mempermaikan kepemimpinan Rakyat. Yang sudah jelas banyak mendustai dan membohongi semua kepentingan Rakyat. Demi bertahanya kekuasaan untuk kekayaan dan kemaslahatan golonganya.
Oleh karena itu, menjadi wajib. Baginya yang suka komentar politik, yang mengikuti perkembangan politi, dan semua elemen anak Bangsa juga untuk besar harapannya gabung dalam perjuangan politik yang sejati. Yang jelas tendensinya adalah untuk kemaslahatan Rakyat. Bukan atas nama Rakyat, tetapi untuk Rakyat. Seperti bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD)- like emoticon .
Bila sampai saat ini masih suka membukak jurang pemisah. Karena besarnya ambisi mendukung salah satu elit politik atau golongan. Maka benarlah sudah itu menunjukkan penurunan kualitas manusia di zaman yang mendekati moderen dalam dunia politik. Anti-pati dan tidak suka kepada pendukung elit-politik lainnya, misalnya. Jelas sedang memperlihatkan dirinya yang tidak mengerti apa itu politik yang sejatinya. Dan catatan paling penting adalah, politik atau makna sesungguhnya politik bukanlah seperti yang sedang dipertontonkan oleh elit-politik kita saat ini. Ini pendefinisian fersi Rakyat tertindas. Karena yang sedang dipertontonkan oleh mereka adalah anak-anak kecil yang sedang berebutan mainan atau makanan. Bukan memperjuangkan hal yang sifatnya universal (besar) dan berjangka panjang.
''elit-politi bukan sesungguhnya perwakilan, perjuangan, & kepentingan atas nama Rakyat tertindas''
Oleh: Sinaryo
Bagaimana mungkin keadaan bangsa akan mengalami perubahan gerakan atau konstitusi yang signifikan. Bila tanpa disertai dengan besarnya kehendak dan kemauan Rakyatnya terhadap kesadaran untuk berpolitik
BalasHapus