~Pentingnya Organisasi Bagi Siswa~



~Pentingnya Organisasi Bagi Siswa~
(dari situasi pendidikan yang berlahan hendak memisahkan siswa dari kehidupan sosial “bermasyarakat”)

Berawala dari kodrat manusia adalah mahluk yang memiliki perasaan, dan membutuhkan lingkungan untuk memadukan perasaanya agar ia dapat merasakan. Membutuhkan timbal-balik dari apa yang ia rasakan, dan tentu yang dapat memberikan timbal balik dari apa yang sedang ia rasakan adalah lingkungan manusia, dalam hal ini sosial. Secara sempit dapat dimaknai, bahwa manusia itu membutuhkan manusia lain untuk menunjukkan atau menjelaskan keadaan dan apa yang ia rasakan. Dengan begitu juga dapat dimakanai manusia sebagai mahluk sosial, yang berarti tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan yang di luar dirinya. 

Dicirikan pula kesosialanya itu dengan dapatnya berkomunikasi atau berbicara untuk dapatnya saling membantu, menginformasikan, atau mengetahui dengan baik hal yang di luar dirinya. Jikalau kita terus meruntutnya kebelakang hingga mendalam tentang manusia itu, maka kita akan menanyakan banyak hal. Yang pastilah bermuara kepada mengapa manusia dapat seperti ini atau seperti itu ? dari kebutuhan ataupun kebiasaan yang melekat pada diri setiap manusia.

Dan keadaan itu semua yang sekarang melekat pada manusia di muka bumi ini adalah hasil kontruksi, bahak yang dinyatakan sebagai kodratpun merupakan hasil kontruksi, ini sudah menjadi hukum materi. Bahwa semua merupakan kontruksi dan mudahnya dibilang adalah hasil bentukan dari keadaan dalam proses keadaan perkembanganya. Termasuk keadaan manusiaa yang saat ini hingga dibilang mahluk sosial, inipun merupkan hasil kontruksi. Banyak hal yang melatarbelakangi. Karena pengalaman dari manusia-manusia lampau. Yang mengalami kesulitan bilamana hidup dalam isolasi atau membatasi diri yang tidak banyak membawa keuntungan. Ia belajar dari kondisi atau keadaan yang terus menghimpit dihadapi terus-menerus, hingga terbentuklah manusia dalam definisi seperti yang sekarang sudah kita ketahui. Ini merupakan informasi yang kita dapatkan, yang menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk yang cepat dalam mempelajari keadaan daripada maluk lain. Cepatnya berkamoflase atau akomodasi dari setiap perbuahan atau menciptakan perubahan-perubana itu sendiri. Dan hendaklah kita memaknai dengan sebenar-benarnya, bahwa kita mahluk kontruksi. Yang dapat dibentuk sesuai dengan unsur-unsur kontruksi yang dominan melingkupi dan menyesuaikan kepada kebutuhan.

Setelah kita memahami dengan seksama, bahwa manusia itu produk kontruksi yang masif dan lama prosesnya. Maka, tidak ada yang tidak mungkin dari setiap keadaan yang menjadi masalah atau kelemahan itu dapat diperbaiki. Seperti halnya pesertadidik, dalam hal ini siswa. Yang cenderung pasif dan mengisolasi diri. Dan ini menjadi masalah dalam proses pembelajaran yang cenderung membuat keadaan menjadi hampa tanpa sepatah kata terlontarkan dari siswa.

Dalam hal ini siswa, yang mana siswa bagian dari manusia. Siswa dalam kondisi saat ini yang diperlukan adalah siswa yang aktif dan progresiv dalam mengikuti banyak aktifitas, terutama pada saat mengikuti proses pembelajaran di kelas. Keadaan yang demikian itu dapat dicari solusinya, dengan analog penjabaran di atas. 

Untuk menjadikan siswa aktif itu sendiri tidaklah datang secara tiba-tiba atau dengan begitu saja memberi ruang untuk mereka aktif di kelas. Sebab keaktifan merupakan keberanian dari sebelumnya yang terlatih atau adanya unsur-unsur yang melingkupi (mengkontruksi) sebelumnya. 

Siswa dapat dikontruksi pribadinya, menjadi siswa yang aktif berpartisipasi dalam porses pembelajaran di kelas. Bila siswa sebelumnya mengikuti latihan mental dan keberanian yang dalam kondisi tanpa ada interfensi ataupun tekanan dan tuntutan secara keras dari pihak lain. Secara cepat, bila siswa mengikutinya dengan rutin atau beberapa waktu saja akan membuahkan hasil atau memperngaruhi dirinya dalam beberapa sisi. Ruang yang dapat mengkontruksi siswa menjadi bermental dan mampu bersosialisasi adalah organisai. Yang dengan ciri khasnya sendiri menawarkan berjuta pesona telah teramati dan terbukti, bahwa pribadi yang mengikuti (aktif dalam organisasi) sangat kontras perbedaanya dengan siswa yang tidak mengikuti organisasi. Dalam banyak aspek dapat disandingkan, misalnya dari sisi sosial, kepemimpinan, kecakapan dalam memahami keadaan, tangkas dalam mencetuskan ide atau gagasan, dst. Banya hal yang masih perlu digali, dari baiknya yang ditawarkan mengikuti organisasi.

Karena dalam organisasi itu sendiri siswa mendapatkan pengalaman dan pergaulan dalam keseharian mereka, yang mana memang ini merupakan kebutuhan dasar dari siswa. Sesuatu hal yang dilatih tanpa tekanan, akan menghasilkan kemapuan yang lebih murni. Seperti dalam situasi organisasi dan sangat berbeda dengan situasi dalam kelas yang memang sama-sama diberi ruang untuk berekspresi. Di dalam kelas sangat terbatas oleh ruang dan waktu, serta faktor lain yang menekan keadaan sikis siswa. Berbeda dengan ruang yang diberikan dalam organisasi, yang tidak terbatas ruang dan waktu, minimnya atau bahkan tidak ada faktor yang menjadi interfensi terkecuali motivasi tanggungjwab yang telah diberikan untuk diemban anggotanya. Dalam organisasi tidaklah sama suasananya yang angker atau menegangkan seperti ruang kelas, terkecuali dalam kondisi tertentu dan biasanya setelah itupun kondisi mencair kembali. Ini dipengaruhi oleh kontruksi dari setiap individu dalam organisasi itu adalah kontrusi sosial yang dominan. Yang membuat setiap individunya pun mahir dalam komunikasi sosial. Hingga membuat suasanaya menjadi lebih komunikatif yang intensif. Kondisi yang menuntut terjalinya komunikasi intes inilah yang akan membuat pribadi dari setiap individunya terlatih dan terbiasa komunikatif, bersosialisasi, berdiskusi, bertukar pendapat, mengkriti, mengusulkan gagasan, memanajemen keadaan tanpa terbatas oleh ruang dan waktu yang sangat struktural dilingkupi oleh feodalis.

Situasi organisasi yang demikian itu, akan menjadi tempat dan ruang yang baik untuk membentuk siswa menjadi individu yang sangat komperhensif menunjang kebutuhan yang diharapkan oleh guru. Yaitu siswa yang aktif dan partisipatif dalam proses pembelajaran dengan mental yang terlatih. Dan menjadi baik serta akan menghasilkan pencapaian kulitas yang siswa yang lebih berkualitas. Bila dari guru itu sendiri “mendukung dan memberi ruang atau bahkan legalitas kepada siswanya untuk mengikuti organisasi dan turut serta aktif dalam organisasi”. Dan tetap guru memantau dan mengingatkan dari setiap perbuatan yang diperbuat dalam keikutsertaanya dalam organisasi.

Menjadi lebih baik, berdaulat, dan kuat. Bila suatu yang membawa kebaikan itu tidak saja diperhatikan atau dipertahankan. Tetapi juga dijadikan sebagai tempat pendukung dan dijadikan sebagai kewajiban. Guna mendukung proses pembelajaran yang lebih berkualitas. Karena sesuatu yang dianggap membawak kebaikan tanpa adanya penekanan ewajiban untuk mengikutinya. Maka akan menjadikan sesua yang baik itu hanya sebagai selogan saja. Yang lambat laun juga akan ditinggalan. Begitupula unsur-unsur kebaikan yang terkandung dalam organisasi. Dengan tanpa adanya pengarahan atau pewajiban kepada siswa untuk mengikutinya, maka akan tidak digubris dan tidak disentuh organisasi tersebut. Hal ini mengacu kepada pengetahuan dan wawasan siswa tentang hari esok yang masih sempit dan sangat membutuhkan pengarahan, pengambaran, dan penjabaran. Bukan tekanan atau paksaan yang menghilankan unsur kemanusiawian yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan terintimidasi.

Paradigma baru perlu dibangun untuk menuju kepada kualitas pendidikan yang lebih berkualits karena siswanya yang tidak hany termangu dan menerima. Paradigma yang dimaksud adalah persiapan dalam membentuk karakter atau kecerdasan emosional dari siswanya. Yang mana hal itu tidak didapatkan secara utuh dari pendidikan fomal sekolah yang terbatas oleh ruang kelas. Maka dari itu, pemberian kepada ruang lain untuk membentuknya adalah dengan menganjurkan kepada siswa dalam organisasi. Ini menjadi persiapan bagi siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran di kelas. 

Jadi kita membagi pendidikan bagi anak tersebut adalah dua ruang yang terpisahkan. Tetapi tetap menuju kepada satu titik baik yang sama hendak dituju bersama. Dalam ranah ini kita lebih kepada memberikan persiapan sebelumnya kepada siswa yang akan mengikuti proses pembelajaran di kelas. Agar tidak saja termangu dan terdiam saja saat mengikuti jalanya proses pembelajaran di kelas. Tetapi sebaliknya, menjadikan siswa lebih siap dalam mengikuti proses pengajaran dan pembelajaran di kelas. Karena dengan beberapa skil atau kemampuan yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Yang menjadi point pentingnya adalah, mempersiapkan atau persiapan sebelumya.

Tidak ada istilah langsung terjadi atau muncul secara seketika dalam kelas siswa menjadi aktif dan komunikatif. Karena tetap mengacu kepada pisau analisa yang kita gunakan yaitu teori konstruktivisme. Bahwa segala sesuatu itu kontruksi atau rekontruksi dari sebelumnya.

Walaupun dalam kondisi kelas itu siswa diberi ruang atau kesempatan yang luas. Dengan tanpa ada sebelumnya kemampuan atau keberanian komunikatif yang dimiliki. Maka akan menjadikan situasi pembelajaran yang dikehendaki aktif tidaklah seperti yang diharapkan. Hanya sebatas angan dan sandiwara yang drama tanpa kata yang terjadi. Situasinya menjadi sunyi senyap dan saling pandang, saat guru telah menjabarkan apa yang menjadi topik pembelajaran saat itu.

Kebali lagi ditekankan, dalam hal ini organisasi dimaksudkan dapat menunjang, mendukung, dan menyiapkan siswa yang siap aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Bukan malah situasi pembelajaran di kelas membentuk siswa akif, kreatif. Tetapi pembelajaran di kelas itu adalah pengaplikasikan keaktifak, kekreatifan yang telah dimiliki siswa. Hingg bila benar demikian dilakukan dan diamalkan, barulah cita-cita yang akan menghasilkan siswa yang benar-benar inovatif dapat terjamah, tersentuh atau tercapai.

Dari pengamatan yang selama ini sudah dilakukan dan penkajian dari beberapa aspek serta berdasarkan dari teroi-teori kritis. Proses pembelajaran yang saat ini mapan, banyak terjadi ketidak efektifan dan keefisinenan. Unsur-unur yang membuat demikian:

1.   Dari sisi waktu, jelas sudah tidak menujukkan keefisienan. Banyaknya menghabiskan waktu untuk mengajarkan hal yang sebenarnya tidak bersangkutan langsung dengan materi pelajaran yang sedang disampikan. Misalnya, dengan mengajarkan atau menciptakan pembelajaran yang aktif. Hal inikan seperti sudah dijelaskan dimuka, akan tidak menjadi hambatan atau permasalahan kembali dalam proses pembelajaran bila sudah dipersiapakan atau dibentuk sebelumnya siswa sebelum mengikuti pembelajaran di kelas.

2.   Kefektifan, dari sisi ini dapat dengan mudah digamabarkan etidak efektifan sangat terjadi untu mencapai tujuan yang dimaksud dari hasil pembelajaran. Hampir sama dengan yang dimaksud dari keefisinan, yang mana dalam hal ini kepada biasnya tujuan yang hendak digapai. Bila keadaan yang terjadi seperti situasi pembelajaran yang sudah saat ini. Yang mana, bebrapa materi menyimpang disampaikkan atau menjadi bias. Karena guru harus mempesiapakan atau memberi nasehat bagaiaman menjadi siswa yang baik atau sekadar menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat bagi masayarakat. Hal yang demikian ini, sebetulnya tidak menjadi hal krusila yang harus disampaiakn guru di dalam kelas. Saat sebelumnya siswa sudah mengikuti organisasi. Karena dalam organisasi itu sendiri sudah menjelaskan dan mengajarkan untuk berbuat demikian.

Bagaimana mana mungkin akan betul-betul berkualitas proses pembelajaran dan dengan dini mengapai apa yang dijadikan visinya. Sedangkan dalam berlangsungnya proses pembelajaran banyak terjadinya penghabisan waktu dan pembiasan hal yang menjadi tujuan. Dan semakin tergerusnya waktu dan tujuan yang sesungguhnya dimaksud, bukan untuk menkaji dan mendalami dengan masif materi pelajaran yang sedang menjadi topik pelajaran. Menurut penulis, ini sangat ilmiah dan sangat jelas proses keruntutan kejadianya. Dari tesis-tesi yang ada dan menghasilkan antitesis yang begitu dapat dengan gamblang dijangkau.

Uraian yang sedemikian berputar-putar ini, bermaksud menegaskan. Itulah mengapa menjadi penting pendidikan sosial dalam hal ini organisasi, yang menyediakan beberapa tawaran dan projekct yang baik. Organisasi dapat membentuk dan membina karakter dari siswa. Dari siswa yang jarang berbicara, akan termotivasi berbicara karena himpitan keadaann yang memaksa ia untuk berbicara tanpa ada interfensi yang mengancam.

Dari bebrapa wawancara yang saya lakukan kepada guru atau pendidik. Banyak yang menyatakan lebih suka atau senang bila mengkajar atau mengadapi situasi pembelajaran siswa yang aktif dan hendak berpartisipasi aktif dalam proses pengajara dan pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Mengapa demikian ? karena Guru tidak menginginkan ruang hampa dalam prosese pengajarannya, dan takut bila tidak ada yang aktif dari siswanya menunjukan ketidakminatan atau kurang berkesan dari materi yang disampaikan.

Sebetulnya masih ada beberapa alasan yang mendukung dan menganjurkan akan pentingnya nilai kebaikan organisasi bagi siswa, selain daripada yang sudah dijabarkan di atas. Dari berbagai macam aspek yang didapatkan dari siswa yang mengikuti organisasi. Tidak ada alasan yang menguatakan untuk melarang siswa mengikuti organisasi atau perkumpula. Yang mana dalam organisasi itu berisikan tentang kegiatan dan perencanaan dari kegiatang.

Pendidikan adalah wadah yang membentuk karakter dan membentuk kecerdasan kepada siswanya. Seperti yang disabdahkan oleh Ki Hadjar Dewantara, “pendidikan itu membentuk karakter dan kepribadian siswa, agar menjadikan siswa yang peduli dengan lingkunganya. Ynag dikemudian waktu membuatnya ada kemauan untuk membangun dan menularkan ilmunya kepada sekitarna serta memberi manfaat nyata bagi rakyat”. Sepertinya tidak ada pertentangan yang mejulang tinggi akan pentingnya organisasi bagi siswa, dari pengetahuan dan dari sisitem pendidikan yang ditawaran oleh Tamansiswa. Yang banyak memadukan pendidikan dengan kegiatan-kegiatan sosial atau berupa kegiatan yang bersentuhan dengan latihan organisai bagi anak didiknya. Ini dibuktikan dengan beberapa lembaga organisasi dibentuk oleh Ki Hadjar Dewantaras, sebagai wadah yang mendukung dan menunjang kualitas dan mutu dari anak didiknya. 

Adapun beberapa wadah atau organisasi yang dibuat oleh Ki Hadjar Dewantara, sebagai pembentukan karakter siswa dari sisi sosial dan lain sebagainya itu, adanya : “Persatuan Pemuda Taman Siswa (PPTS) dengan cabang-cabangnya mengelolah bagian olah raga, komunitas debat, sandiwara, komunitas pemberantasan buta huruf, dst”, “Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK)”. Sekilas dari organisasi-organisasi anakan dari Taman Siswa yang digagasa oleh Ki Hadjar Dewantara, sebagai wadah atau tempat yang dimaksudkan untuk melatih dan membentuk siswa menjadi pribadi yang tidak terpisahkan oleh kebutuhan masyarakat umunya. Dan khusunya adalah untuk membentuk siswa terbiasa aktif, komunikatif dan tangkas dalam menghadapi dan menyelsaikan permaslahan. Yang harapanya ini akan berimbas kepada situasi pembelajaran di kelas akan lebih efektif dan efisien, dari kontruski yang sebelumnya sudah mengkarakter (membentuk) siswanya. Dari sisi sosial dan sisi kekritisan lain yang sebelumnya sudah didapatkan dari siswa mengikuti organisasi-organisasi atau perkukumpulan-perkumpulan yang disediakan.

Jelas sudah dari itu, Tamansiswa sudah maju pemikirannya dari dahulu dalam memandang visinya yang tinggi dari pendidikan. Dengan tidak memisahkan antara pendidikan siswa dalam aspek skil dengan pentingnya organisasi yang mendukun untuk mewujudkan yang menjadi tujuan proses pembelajaran di kelas. Dengan begini, harusnya tidak ada keraguan dari para guru untuk menganjurkan, mendukung, dan memberi waktu kepada siswa mengikuti organisasi.

Melihat keadaan yang terjadi beberapa belakanagan ini tentang kondisi pendidikan di sekitar, yang mengekang, membatasi, menuntut hal yang tidak dipersiapkan sebelumnya, memaksa, mengintimidasi, menekan, memporsir, mencerabut hak siswa sebagai mahluk sosial, memisahkan siswa dari lingkungan masyarakat, mengancam, dan merendahkan kemampuan siswa yang sebenarnya beraneka ragam dimiliki. Dan berimbaslah hal itu kepada semakin minim minat dari siswa mengikuti organisasi. Baik kepada organisasi dalam Sekolah, ataupun organisasi luar Sekolah. Sungguh dengan kesungguhan hati, ini miris dan ini memilukan. Dengan banyak alasan dan latar yang membuat siswa menjadi demikian apatis terhadap organisasi dan dunia sosial, tetapi setia dengan media-sosial yang semu. Karena hanya itulah pilihan yang dapat ia lakukan untuk menenangkan dan memenuhi kebutuhan yang sebenarnya, tetapi terbatasi. Media sosial menjadi lahan pelampiasan dan penggantilah sebagai dunia sosialnya, bagi para siswa terbatasi dan manusia apatis atau hedonis lainnya.

Keadaan yang demikian ini, tidaklah lantas secara sepihak menyalahkan siswa yang mengalami penurunan minatnya terhadap organisasi atau partisipasi aktifnya dalam proses pembelajaran. Bila kejadian ini terjadi secara menyeluruh atau merata, bukan sektoral. Perlu dilakukan analisis secara masif dan komperhensif. Mengapa hal demikian ini dapat terjadi ? Tentu, bila ada kejadi yang terjaid secara hampir merata, ini merupakan indikasi dari suatu hal yang tetsistem dan terkondisikan yang sudah terjadi sejak lama. Membenturkan keadaan ini dengan kondisi nyata, bahwa memang siswa mengalami penurunan dalam hal minat terhadapa organisasi atau keatifan dalam proses pembelajaran di kelas. Pastilah dapat dimaknai dan diintisarikan secara sendiri hal yang menjadi indikasi saling berkaitan ini. 

Secara sementar, semua ini dapat dijelaskan atau dikatan penyebabnya adalah karena besarnya tanggujngjawab atau beban yang diberika kepada siswa saat setelah mengikuti pelajaran atau waktu mengikuti pelajaran. Baik itu dari tuntuan guru hegemonik ini dan itu, juga siswa harus mengerjakan banyak tugas setelah pelajaran usai. Seperti yang sudah dijabarka di atas. Inilah salah satu kondisi yang membuat ruang gerak atau waktu senggang untuk mengikuti organisasi bagi siswa tertutup. Karena rutinitas sekolah yang sudah memporsisi tenaga, fikiran, dan waktu mereka. Hingga tiba saatnya untuk mengikuti organisaai siswa sudah tidak memiliki gairah atau tenaga yang cukup. Hingga secara praktis berasumsi, lebih baik tidak daripada tidak maksimal. Kalaupun ada dari siswa yang memakasakan, itupun tidak menjadi maksimal seperti sediakala. Ketika waktu dan ruang gerak memang diberikan dan apalagi bila menjadi kewajibkan dari mengikuti organisasi.

Keadaan yang demikian ini, terlihat sangat pragmatis dan cenderung membangun keadaan atau generasi yang anti sosial. Bukanlah semata-mata karena keadaan, tetapi juga dikarena akan adanya intervensi dari pihak yang tetap menginginankan keterpurukan pada Indonesia ini. Salah satu indikasi yang terlihat adalah dengan cara melemahkan atau membuat kualitas hasil pendidikan tidak berdaya, untuk betul-betul membuat ruang bebas bagi siswa bergerak. Kualitas dari siswa yang terdidik hanya mampu bergerak dalam ruang-ruang terbatas, bukan multi dimensional. Seperti yang harusnya sudah menjadi ciri khas manusia.

Penghilangan kesadaran sosial, adalah musibah terbesar dalam perkembangan manusia. Hilangnya naluri sosial, membuat keadaan atau situasi dan kondisi dari penjahat imperialisme atau korporasi akan berpeluang besar untuk mendomiasi atau menguasai di suatu negara atau wilayah untuk diekspolitasi dan dijadikan lahan pasarnya.

Dengan penjabaran yang banyak dan beserta intrik-intriknya. Tidaklah salah bila menyimpulkan menjadi tugas berat bagi siswa kedepan, bila tidak di wajibkan atau dianjurkan kepadanya untuk berpartisipasi aktif dalam organisasi. Karena sesungguhnya, situasi pendidikan saat ini tidak sedang membentuk karakter dari siswanya. Tapi sedang meneksploitasi hak dasar dari siswa. Dan hendak memisahkan siswa dengan pusaran kehidupan dasar, yaitu pergaulan atau kehiudupan sosial. Keadaan dari sistem pendidikan seperti inilah yang menjadi kehendak dari korporasi-korporasi besar dunia dan imperialisme. Pendidikan yang tidak membentuk kesadarannya terhadap keadaan yang sedang menjadi polemik atau dihadapi rakyat.

“pendidikan sosial, yang didapat dari organisasi menjadi penting dan mendesak bagi siswa. Maka dari itu, penting dan wajib siswa untuk bergabung dalam organisasi. Selain daripada wajibnya menuntut ilmu dalam pendidikan formal”

          Oleh: Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~