~Membaca, Menulis, & Mendiskusikan~
~Membaca, Menulis, & Mendiskusikan~
(membentuk pribadi yang radikal fikirannya sepanjang waktu,
dan tidak mudah dilemahkan oleh segala dimensi atau lini kehidupan menindas,
tetap melawan !)
Menjadi pemuda atau penerus generasi yang dilingkupi dengan keadazn yang serbah intelektual sebagai jalan tengah untuk agar tetap dihargai dan dianggap keberadaanya. Karena itulah, pemudah bukan saja di lahirkan untuk melestarikan keturunan atau memperbanyak keturunan, tetapi adalah juga untuk menciptakan generasi. Generasi yang dipersiapkan atau diciptakan itu bukan generasi yang biasa-biasa saja, tapi adalah generasi yang memiliki semangat dari dalam yang membangun dan kuat tidak mudah dipatahkan. Dengan itu ia bisa dikatakan sebagai semangat yang berlandasakan, bukan semangat emosional atau semangat sebentaran. Sebeb, kontruksi dari dalamnya sudah ada dan memang terkonturksi. Untuk menghadirkan semangat yang terkontruksi itu tidaklah datang begitu saja, tapi ada syarat-sayart yang harus dilengkapi atau dipenuhi untuk menggapai atau mencapai hal itu.
Bicara tentang generasi, dalam hal ini pemuda atau boleh juga yang diartikan yang merasa masih memiliki semangat muda. Muda bukan saja secara lahiriah, tapi juga dapat artikan atau dilihat dari secara batiniah, yang menjalankan ia penuh semnagat muda dalam mengarungi keadaan dari pergolakan kehidupan yang banyak ketimpangan dan ketidak adilan untuk melawan.
Membicarakan tentang pemuda memang
tidak sedikit cakupannya, walaupun hanya sekadar membuat pengantar mengapa,
utnuk apa dan bagaimana tentang pemuda. Jelaslah, erat kaitannya dengan kata
perlawanan (melawan) dan menggebu-gebu, apabila mendengar kata tentang pemuda.
Emosinya, egonya, dan hal-hal panas lainnya termasuk itunya. Melihat keadaan
atau konteks saat ini tentang pemuda, tentulah berbeda dengan melihat pemuda
waktu dulu zaman primitif (zaman sebelum ini moderen). Pemuda yang saat ini
diharapkan ialah yang cakap, cerdas dan tangkas, tidak mengedepankan emosional,
kekerasan atau hal-hal yang berbau otot lainnya. Tidaklah kita menafikan,
walaupun masih ada hingga saat ini pemuda yang demikian primitifnya perangani
yang ia miliki. Dalam keseharianya atau dalam arena taktik pergerakan dalam
perjuangan.
Membandingkan dengan keadaan masa lalu
yang begitu primitif tentang pemuda, mencerminkan atau membandingkan dengan
keadaan dan kekuatan yang harus dimiliki oleh pemuda sekarang adalah
semangatnya. Semangatnya yang harus dipertahankan dan dilestarikan dari dahulu
sampai sekarang. Pemaknaan dan semangatnya pun yang dimaksud sekarang lebih
kepada tendensi kerja otak (pemikiranny), bukan saja semangat secara fisik.
Untuk itu, merupakan tugas berat bagi pemuda saat ini yang bila mana tidak
cermat dalam menghdapai dalam mempersiapkan dan menjalani kehidupan ini.
Salah-salah menjadi pemuda yang bersemangat primitif, seperti yang sudah
sekelumat terpaparkan pada paragaraf sebelumnya.
Semangat para pemuda saat ini haruslah
dibiyasakan dengan singkatan yang saya buat yaitu 3M seperti yang sudah
termagtup diatas. Hal itu baik bila diamalkan, jika Indonesia ingin atau hendak
mencapai kemakmuran dan ketentraman bersama yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya untuk mengimbangi perkembangan dan gejolak peradaban yang mudah
meninggalakn dan memperbudak ia yang kurang pengetahuan serta ilmu ataupun
wawasan. Dari hal yang mulai dikatakan sepele itu hingga hal yang sosialis
antar sesama umat manusia Indonesia. Untuk mempersiapkan bekal dan kekuatan
secara madani dari generasi pemudanya.
Kecendrungan yang saya makust di sini,
yaitu kecenderungan dengan pendekatan antaranya membangun jiwa-jiwa yang satu
disertai dan dianjurkan juga mengimplikasikan penerapan membangun jiwa-jiwa
kosong yang lainya. Karean hal yang hanya diperuntukkan untuk dirinya sendiri,
atau dikatakan untuk membangun dirinya sendiri merupakan orang yang tidak mencerminkan
insan yang baik di negara Indonesia. Yang sudah termagtub dan orang awam pun
tahu bahwa perbuatan seperti itu telah melanggar yang namnaya pancasila dan UUD
1945, yang mana banyak menganjurkan kita untuk mengangkat kemaslahatan dan
kemakmuran bersama bukan golongan, serta menjalin hubungan ukhuwah yang baik
sesama warga Indonesia “dalam hal ini sosialisme ala Indonesia”. Untuk
menciptakan dan menggapai kebahagiaan
secara bersama-sama. Baik kebahagiaan lahiriah atau kebahagiaan secara
batiniah. Inilah yang seharusnya menjadi maksud dan tekad yang terkandung dalam
badankan setiap insan pemuda Inonesia. Bila memang menghendaki kebaikan
menyeluruh.
Wacana diatas hanya sebagai pengantar
dan penyadaran emosi jiwa, untuk kita memang betul-betul menyadari peran
penting akan pemuda dan mengetahu hal-hal yang harus dimiliki oleh pemuda. Dan
yang berikut ini barulah menginjak ke permaslahana dan tema yang hendak saya
angkat, yaitu tentang 3M (Membaca, Menulis, dan Mendiskusikan). Sepertinya
kata-kata yang saya jadikan topik, ini memang kesannya sepele dan sudah sering
didengar atau dibaca oleh kita kalangan. Namun mengapa saya mengakatnya mejadi
topik ? tentunya tidak sembaragan saya memilh 3M sebagai pembahasa dan menarik
nanti dalam hal penkajian atau pemapara dalap prespektifku untuk membentuk
semangat yang progresive bagi kaula pemuda.
Itu semunya karena tidak terlepas dari
khasiat atau peran 3M, yang telah banyak dilakukan oleh para pendiri bangsa
kita, para pemikir dunia, para ilmuwa, dan para cendikiawan-cendikiawan agama
atau yang lainya. Untuk sekadar mengabadikan atau meyakinkanya dalam mengkaji
dan menganalisis suatu hal, menjadi mendalam dan terkonsepkan, hal itulah tentu
yang perbuat. Semua itu dilakukan atas dasar kesadaran fase-fase perkembangan
dalam pemikiran dan tahap-tahap menuju tatanan keariban bersama, baik untuk
dirinya atau dipersiapakan untuk orang lain. Semangat yang dibawa adalah
semangat harmoni dari para pemikir yang tidak apatis, hedonis, kikir atau tamak.
Tentunya semua hal itu tidak bisa
terlaksana jika terjadinya kepincangan kepada salah satunya. Seperti halnya seorang
pemikir berat, yang mebaca buku terus tanpa jeda (karena gandrungnya dengan
keilmuan), hingga beberapa darinya yang menjadi gila sendiri. Gila sendiri
karena hanya memikirkan kesibukkan atau dunianya sendiri, antara ia dengan
buku-buku atau buku dengan dia. Dengan melupakan keadaan sekitar dan keadaan hidup
yang sedang ia jalani. Hal yang demkian itu lambat laun membuat manusia itu angong
atau jika diajak bicara tidak nyambung, yang kebanyakan membuat emosi lawan
bicaranya. Ini terjadi karena luputnya ia untuk melampiaskan perang fikiran
atau pemikiran-pemikiran yang ia dapatkan atau ia miliki itu. Akibanya,
pertarungan dalam fikiranya tidak mengalami kebersudahaan. Ini hanya contoh
kecil yang saya paparkan, kejadian yang disebabkan luput mengamalakan 3M.
Kasus seperti itu merupakan akibat dari kepincangan pada fase pemdiskusian ilmu yang telah ia dapatkan tidak terjadi atau banyaknya terpendam dalam fikiran dan menjadi beban di fikirannya, luput untuk mendiskusikan atau membagikan apa yang ia ketahui kepada yang lain. Hal begitu dapat terjadi bisa jadi karena keegoisan dalam diri yang tidak ingin berbagi ilmu atau karena susahnya pribadinya itu dalam mencapai apa yang ia pelajari dan tidak dimiliki olehnya hasrat dan kehendak untuk bersosialisasi atau hanya sekadar mencurahkan yang ada di fikirannya. Ini hanya sekedar kasusu kecil yang menjadi efek buruk, dari belajar sesuatu hal atau membaca buku tanpa hendak menuliskan, mendiskusian atau sekadar membicaakan kepada orang yang di luar dirinya.
a.
Membaca
Makan membaca sepertinya sudah sering
kita dengar dan mengerti, namun membaca bagaimana yang masih menjadi pemikiran
bagi banyak pengkritis atau penjabarnya. Ada yang mendefinisikan, “membaca merupakan sebuah proses rumit, mulai
dari kata di halaman, di hadapmu sampai suara meniggalkan hidupmu. Membaca
adalah kombinasi dari mengenali simbol dan pola, menghubungkanya dengan suara
dan mengumpulkannya menjadi suku kata sampai akhirnya kita mampu
menginterpretasikan arti sebuah kata, (ini menurut kawan kita mas Mikkel
Birkegaad).
Nah, langsung saya sampaikan maksud membaca
menurut mas Mikkel itu, ia mengatakan membaca merupakan proses rumit,
mengapa dikatakan rumit ? yang dilakukan
kita karena memahami kata-kata dari kata yang membutuhkan konsentrasi dan fokus
yang mendalam agar dapat memamahi sebuah atau satu kata sehingga dapat diambil
maknnya dari kata itu, yang lebih kompleknya yaitu mencari makana dari suatu
susuna kata membentuk kalimat. Dalam arti sempit memang diartika membaca
sebagai suatu kegitan yang dilakukan hanya berkomunikasi dengan kumpulan
buku-buku yang tersusn oleh kata-kata yang membangun kalimat.
Namun makust dari kutipan “mulai dari kata di halaman, di hadapmu
sampai suara meniggalkan hidupmu”, yaitu mengajak kita untuk membaca
lingkungan sekitar dan kondisi alam karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, agar kita
dapat mengambil suara dan isyarat dari Tuhan. Selain dari itu diiring juga kita
untuk membaca secara harafiah, agar kita mampu mengaudiokan (menyuarakan,
mengkomunikasikan) sebagai sesama insa yang dapat bertukar fikiran dengan baik
dari bekal kata-kata yang kita dapatkan dari membaca secara harafiah itu.
Dari apa-apa hal yang kita temukan itu
secara kata-kata yang lugas dan elegan, kepandaian berkata-kata ini sangat
dipengaruhi sangat dengan banyaknya kita sudah membaca atau tidak. Bila mana
kita tidak atau senggang sekali membaca dalam arti harafiah, maka besar
kemungkinan kita akan mengalami kesulitan atau kendala dalam mongkomunikasikan
atau menggabarkan apa yang kita temuakn atau kita baca itu secara bahasa kita
sendiri (dalam berkata-kata).
Pesan untuk pemuda yang dilingkupi
modernisasi atau menjelang post-moderen ini. Hendaklah giat dalam membaca,
dengan harapan yang sudah terwacanakan manfaat yang didapat dari setelah
membaca itu. Nyata memang, tidak akan menemui kerugian baginya yang suka dengan
membaca buku atau membaca non-harafiah. Karena memang betul itu akan menjadi
bekal dan menambah wawasan atau pengetahuan dikemudian waktu menjalani dan
menghadapi keadaan.
Pemuda yang sangat radikal, bukan
dimaknai seperti pemuda anarkis (kekerasan). Sebagaimana banyak dilakukan oleh
kaum-kaum radikal yang luput memahami dari makna terdalam radikalisme itu
secara konteksnya kekinian. Menjadi jelas perbuat demikian itu akan mencerabut
watak atau akal dasar pemikiran sebagai sesama manusia untuk saling melindungi.
Radikal di zaman yang saat ini sedang
kita jalani, adalah radikal dalam hal pemikiran, sedari fikiran, gagasan atau
intelektualnya. Dipertegas, yang harus radikal itu adalah otaknya (pemikian),
yang kelak akan terlihat dalam pertarungan politik.
Syarat untuk menggapai keradikalan otak
yang sesungguhnya hanya bisa terjadi bila mana orang itu (dalam hal ini pemuda
yang semangat) dengan banyak membaca buku atau membaca dalam arti non-harafiah.
Hal inilah yang akan membuat terbentuknya pemikiran dalam dirinya yang kuat dan
yang kritis atau radikal dimaksud.
Zaman sudah berubah, radikal juga harus
mengalami akulturasi terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Agar tidak
menjadi perbuatan yang idealisme. Idealisme tanpa dialektis, itulah yang banyak
menjerumuskan pemaknaan radikal yang kasar dan terkadang tidak manusiawi.
Untuk melawan sistem yang saat ini
sedang menindas atau berlaku dzolim, yang sangat tersistematis, terstruktur,
dan masif itu. Tidaklah akan bisa terkalahkan bila arah atau cara perjuangan
yang dilakukan dengan cara radikalisme primitif tanpa dialektik. Seperti yang
saya katakan sebelumnya, radikal perlawanan dengan menggunakan otak atau
fikiran. Hingga melahirkan gerakan yang memang menjadikan perlawanan yang
sengit baginya kaum penindasa (neolib, imperialismen atau bentuk-bentuk
penindasan lainya).
Radikalisme dalam arti yang baru ini,
juga akan membuat dan mengajarkan kita lebih mampu bertahan lama dalam menekuni
atau menggeluti dunia pergerakan, yang memang sangat melelahkan atau terkadang
memiliukan. Karena lawan yang begitu bengis tanpa ampun melakukan penindasa
atau macam bentuknya kedzoliman yang diperbuat. Ingat, bengisnya bukan secara
fisik, tapi lebih tersistem. Untuk membaca sistem yang begitu rumit dibuat oleh
penjahat itu, harus cerdas.
Simpulan kicilnya untuk pemuda saat
ini, baik yang aktif dalam dunia pergerakan atau dunia biasa saja. Dengan
melihat perkembangan seperti di gambarkan di atas, alangkah baik dan bijak bila
sedari saat ini membiasakan untuk menyukai membaca !
Seperti yang sudah sekelumat dijelaskan
pada awal pengantar di atas. Bahwa selain daripada kita suka mempelajari dalam
hal ini membaca, akan lebih baik lagi bila itu disertai dengan kebiasaan
menuliskan atau mewacanakan kembali apa yang sudah kita pelajari atau baca itu
dengan bahasa kita sendiri dalam bentuk prasasti atau tulisa. Tulisan atau
menulis ini, akan melatih dan membiasakan kita untuk mengulas atau menyampaikan
kembali apa yang sudah kita dapatkan atau jumpai secara kata-kata terkesumat. Agar
bisa dibaca oleh orang yang jauh dari hadapan kita, dan mengetahui pemikiran,
pemaparan kita.
Sebelum kita banyak mewacanakan apa
yang menjadi gagasan atau pemikiran kita kepada orang lain, akan lebih baik dan
tersrtuktur nantinya bila mana sebelumnya kita telah menuliskan gagasan kita.
Dalam arti mudahnya, menuliskan adalah adalah tahapan untuk merumuskan, sembari
mengkoreksi apa-apa yang sudah kita temukan, terfikirkan, dan memperbaiki tutur
kata kita juga dalam berbahasa atau nanti dalam bersatatmen. Hal-hal yang
biasanya sudah tersiapkan atau terencanakan sebelumnya dalam hal ini
dituliskan, akan terlihat matang saat kita menyampaikan dalam bentuk gagasan
berbicara secara vokal.
Hal yang demikian itu dapat terjadi
tidak lepas dari kerja dasar dari otak kita, yang sukanya atau kencendrunganya
mengkontruksi dan rekontruksi. Dan hendaknya jangan salah dalam memakani
menulis atau menuliskan agar kita tetap miliki kemauan untuk menuliskan, sebetulnaya
ini merupakan bagian terdalam proses mengkontruksikan apa hal yang menjadi
fikiran kita. Itulah mengapa sebabnya kita akan lebih siap membicarakan suatu
hal yang sebelumnya sudah kita tuliskan.
Selain menjadi pemuda yang gemar
membaca. Akan lebih lengkap dan akan menjadi hal yang dikemudian waktu bisa
dimanfaatkan atau tidak lekang dimakan oleh zaman. Bilamana adanya penulisan
atau menuliskan dari apa-apa yang sudah dialami atau apa-apa yang menjadi
gagasan atau pemikran. Siapa tahu, dengan menuliskan itu deikemudian waktu bila
ada gagasan kita yang belum terlaksana akan dilaksanakan olehnya yang membaca
tulisan kita.
Lain daripada itu, menuliskan atau suka
menulis itu membuat pribadi kita ceriah atau sehat, karena dengan menulis kita
mampu melampiaskan atau menuangkan gagasan, keluh kesah, atau pemikiran kita
tanpa merepotkan orang lain. Dan membuat diri kita terbebas dari beban-beban
yang memberatkan fikiran, karena semuanya sudah dikeluarkan atau tertuangkan
hal yang menjadi unek-unek itu.
Belajar dari pengalaman semua tokoh
terkenal, ia kebanyakan menuliskan apa-apa yang sudah ia jalani atau yang
hendak. Sebagai prasasti hiudpnya dan menjadikan pedoman orang setelahnya. Agar
tidak melakuan kesalahan yang sama di masa kini (mendatang), dengan
pertimbangan belajar dari pengalaman yang tertuliskan. Banyak sebetulnya hal
yang menjadi manfaat bila kita hendak menulis.
c.
Mendiskusikan
Setelah kita mengalami banyak hal dalam
kehidupan yang kita jumpai (alami). Ataupun dalam panggung pergeraan kita
temukan atau dalam buku. Setelah kita menuliskan sebelumnya, ini akan menjadi
tertata dan rapi apa yang hendak kita sampaikan atau yang kita fikirkan.
Barulah tahap selanjutnya ini adalah mendiskusikan, mendiskusikan hal-hal dalam
fikiran yang sudah tertuliskan tetapi masih saja menjadi pertentangan atau
problem dalam fikiran kita.
Mendiskusikan, boleh dimaknai dalam arti
luas atau arti sempit, toh artinya juga hampir sama, sama-sama mengkomunikasikan
apa-apa yang ada di fikiran kita, baik yang menganjal atau yang tidak
mengganjal. Mendiskusikan juga berarti mempertemukan gagasan kita, untuk
menemukan sintesis yang lebih baik kualitasnya, dengan mendapat koreksi-koreksi
dari lawan diskusi kita. Itulah manfaat dari dikusi.
Sebagai mahluk sosial, disksui atau
bercengkrama juga membuat atau membentuk kita menjadi insan atau individu yang
mempedulikan dan mampu mengetahui masalah yang dihadapi orang lain.
Perhatian, juga dapat dihasilkan dari
hubungan sosial dalam pendiskusian. Mendiskusikan juga adalah membicarakan,
membicarakan banyak hal untuk menghasilkan hal yang lebih baik daripada
sebelumnya dan berkualitas. Karena dikerjakan oleh beberapa kepala yang
berfikir membahas satu hal secara bersama.
Hal yang perlu diketahui dan sangat
penting menurutku, pergerakan atau pergolakan besar itu hanya terjadi bilamana
sebelumnya terjadi pendiskusian-pendiskusian yang mendalam. Jadi, dengan
gambaran itu, tidaklah salah atau merugikan bila kita mengkomunikasikan,
mendiskusikan dari apa-apa yang sudah kita pelajari atau kita temukan
semeblumnya.
Dari tiga
pola yang sangat mudah untuk diikuti, dengan penggambaran yang begitu lugas.
Hendaklah dapat menjadi pembelajaran bagi pemuda. Pemuda yang memang menghendaki
perubahan atau dengan istilah juga dikatakan pemuda progresive. Pemuda
progresive yang berkualitas atau berbobot, hanya akan diperoleh bila melengkapi
unsur-unsur dasar itu.
Apalagi
misalnya hendak menggapai pencapaian tertinggi, seperti kehendak untuk
berkuasa. Pastilah hal demikian itu akan menghantarkan pemuda akan menuju
kepada ranah politik dan dalam ranah politik tidak saja membutuhkan semangat
yang lugas, tetapi semangat yang dipenuhi oleh poltik mumpuni yang mendukungnya.
Dalam pertarungan politik ini secara singkatnya adalah pertarungan strategi,
taktik, dan pertarungan gagasan. Hal itu hanya akan dimiliki atau bisa
dilakukan baginya yang cerdas atau pintar “baik secara politik atau
intelektualnya”. Itu semua hanya diperoleh atau didapatkan olehnya yang
menjalani 3M.
Pemuda yang
miliki semangat perjuangan atau yang sedang aktif di garis rakyat (organisasi
pergerakan), memperjuangkan suara-suara rakayat yang diselubungkan oleh elit
politi yang dzolim. Maka haruslah pula ia lebih pandai dari elit politik itu,
mudahnya menyiapkan diri untuk menjadipula elit politik yang pandai untuk
melawanya dalam ranah politik. Kecerdasan dalam pengalaman di garis rakyat,
menjadi kekuatan untuk tetap bisa bertahan dan setia dengan amanah tuntutan penderitaan
rakyat !
Pemuda yang
besar dan akan dibesarkan, serta layak dijunjung dan dikagumi ialah ia yang
setia dengan pejuangan anti penindasan dan tidak pula lupa mempersiapkan
pribadinya menjadi yang berkualitas dan tangkas.
Setelah
ketiga syarat itu dipenuhi, memang menjadi konsekuensi logis atau implikasinya
adalah mengekpresikan. Melakukan dan menjalankan apa-apa yang seharusnya
dilakukan dari analisa-analisa pendiskusian atau pembacaan yang dilakukan. Ini
pula dimaksudkan agar tidak menjadi idealisme dogmatis semua yang sudah
dipelajari atau dipersiapkan. Bertarung atau bertaruh dari apa yang sudah
dimiliki dalam kanca perpolitikan, adalah wujud nyata dari antitesis semangat
melawan anti penindasan. Bukan sekadar dalam bingkaian pemikiaran pergerakanya,
tetapi diulangi kembali dalam kanca pertarungann politik.
Politik yang
bagaimana ? politik yang untuk perjuangan atau memperjuangkan kebutuhan rakyat.
Bukan politik perut seperti yang bayak terjadi dan dilakukan oleh
politisi-politisi yang banyak berkeliaran.
Rangkumanya
adalah 3M membentuk generasi muda yang memiliki semangat dalam perjuangan yang
tidak mudah dilemahkan. Karena kuatnya kontruksi dalam alam dan fikiranya,
sebab aktif pula dalam organisasi. 3M juga sangat dibutuhkan untuknya generasi
muda yang kelak akan menekuni dunia politik atau perebuatan kekuasaan untuk
kemaslahatan rakyat dan umat, umat tanpa golongan.
Negara yang
besar harus memiliki mimpi yang besar dan memiliki generasi yang kuat, secara
jiwa, fikiran, dan semangatnya. Semua itu dapat digapai dengan mengamalkan
sedari dini yang salahsatu syaratnya adalah 3M.
“membaca + menulis +mendiskusikan =
mengekspresikan. Jadilah pribadi-pribadi yang tidak mengenal usang dalam
perjuangan, karena radikalismenya adalah radikal fikiran dalam alam perjuangan”
Oleh : Sinaryo
Komentar
Posting Komentar