~Hikmah~

~Hikmah~

Akan manusia belajar menermia setiap semua perlakuan manusia lain terhadap dirinya. Apapun itu. Yang memang jelas dan memperlihatkan ketidaksukaan kepadanya. Dan dapat-kah manusia akan tetap belajar berbuat baik kepadanya yang menghujat atau meludahinya. Yang juga memperlakukan dirinya tidak selayaknya, sebagaimana atau sewajarnya manusia yang memiliki perasaan. Ada manusia seperti ini ? Dapat bertahan dalam gerusan, kejamnya, sadisnya dan semakin lunturnya rasa kemanusiaan sesama serta himpitan kehidupan yang menunjukkan semangat kompetisi-liberal dan berujung saling menindas, menghisap, dan memperbudak.

Yang barang-kali ada manusia tidak beradab memperlakukan diri sebagaiman patung yang dianggapnya tidak memiliki daya, kekuatan, atau kehendak. Hingga terjadi semena-mena dan sesukanya dalam memperlakukan. Mampu bertahan dengan hinaan seperti ini ?

Bila diri merasakan demikian. Dan telah tidak berdaya untuk menghalau atau karena ada nazar (alasan) tertentu sebab enggan melawan (membalasnya). Maknai, nikmati, dan hikmai, bahwa semua itu dalam rangka dan bingkaian untuk meng-gembleng dan memantapkan diri yang sedang menjalani ''menahan diri''. Namun, bukan dalam rangka untuk terbiasa tersiksa.

Walapun terasa menyiksa, sakit, dan menusuk-nusuk rasanya. Tetap diterima dan dihadapi semua perlakuan terhadapnya. Sebab, diri yang demikian itu sedang menyadari. Kapan akan mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi, bila tidak dimulai dengan mampu menahan diri atau mengendalikan segala dan semua gejolak-kehendak diri. Yang kita semua mengerti, bahwa gejolak dan kehendak diri itu banyak ditunggani oleh hasrat yang bersemayam di dalamnya adalah nafsu-jahat.

Biarkan saja, semua kejadian demi kejadian yang menghampiri seperti kejadian-kejadian yang tidak sesuai atau tidak seperti yang diharapkan. Menjadikan dan membentuk diri menjadi lebih dewasa dan lebih mendukung membangung kualitas diri untuk yang lebih baik. Karena telah sangat menyadari dan mengerti betul. Bahwa untuk melewati hari depan memang harus disiapkan benar-benar dengan sebelumnya telah teruji secara pribadi dan jiwanya sedari dini. Dari kejadian hambatan atau ujian hidup yang telah dilalui.

Dengan dalih, karena ketajaman perasaan-nya yang mengerti mengatakan bahwa kemudian waktu akan menghadapi dan menempati posisi atau bagian yang menangani peristiwa-peristiwa besar dan penting. Yang jelas sangat membutuhkan serta memerlukan orang yang telah terlatih dan teruji sebelumnya ''secara mental'', dari sisi ketuntasan jiwanya dalam menempuh perjalanan penyucian-pengendalian, misalnya.

''mudahnya dikata, bila kita memahami apa yang akan terjadi dengan diri di hari depan. Maka jelas kita akan menyiapkan dan melatih diri untuk itu''

Dan, baginya yang jauh atau tinggi mengerti dalam memahami tentang itu prediktif untuk hari depan. Atau mampunya berspekulais tentang hari depan dengan baik. Jelas kemudian dapat menghantarkan dirinya hampir mengetahui betul dinamika yang akan dihadapi di hari depan nanti secara abstrak. Maka, sangat menjadi penting baginya melakukan persiapan-persiapan. Agar tidak ada penyesalah.

''orang yang dapat mengerti posisinya di kemudian waktu, pasti secara sadar akan mengupayakan sedari dini''

Manusia awam, tidak mungki meneriman paham-paham yang demikian sangat mistik atau semu. Baginya yang dangkal dan sangat dikendalikan oleh nalar-praktis. Sebab, kebanyakan dari manusia di sekitar saat ini mengedepankan pemikiran yang prgmatis atau dapat dibilang pemikiran yang bercorak Barat tulen. Yang banyak hal menegasikan sesuatu paham yang sifatnya mistik atau mistis.

Dan yang mistik atau mistis itu hanya mampu dijamah atau digapai dan dipahami oleh manusia yang benar-benar pernah belajar serta mendalami ilmu kesucian ''kebatinan''.

Tidak pantas sebenarnya, sebagai generasi ketimuran-Asia merendahkan, meninggalkan, dan menganggap cara-cara mistik sebagai hal yang tidak masuk akal. Dan kebanyak generasi kelahiran setengah moderen sangat dengki dengan demikian. Karena jelas, akal mereka tidak mampu menjamah atau mengurai tentang pola-pola kejadian yang kasat mata sifanya. Dan telah mengakarnya selama ini hegemoni rasional barat.
Pada dasarnya, bahan terpenting untuk mempersiapkan diri. Dengan membangun kualitas diri sebaik-baiknya. Dan berbuat segalah hal yang menjadi kepercayaan akan menjadi pendukung kegiatan atau kesibukan dikemudian waktu secara seksama. Adalah sesuatu hal yang memantapkan diri dan menjaga diri akan dekatnya sesuatu yang diharapkan untuk terengkuh.

Kepercayaan melakukan yang seperti itu hanya dapat dilakukan olehnya, oleh mereka yang paham betul kemana arah diri hendak di dermagakan. Dalam bagian ini hanya mampu dimengerti oleh mereka yang mengerti betul dengan ilmu keanguang Tuhan atas segala hambanya.

''Tuhan, adalah sutradara ulung kepada dinamika hambanya. Yang mampu mengerti, hanya ia yang memahami ilmu kesucian-isyarat''

Tentu, keyakinan mutlak dan tidak setengah-setengah menjadi faktor utama. Menyakini apa ? Meyakini bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang kebetulan dan segala sesuatu itu pasti berkaitan. Dengan kepercayaan, Tuhan telah memberikan gambaran atau isyarat kepada setiap manusia melalui kejadian-demi-kejadian yang telah dilalui.

Wajibnya kita sebagai manusia adalah memaknai dan mempelajari dengan benar kejadian-kejadian yang pernah atau telah menghmapiri. Namun, hanya mereka yang rajin membersihkan diri batiniah yang mampu mencapai tataran ini. Sebab, untuk menyentuh hal-hal yang sifatnya astral atau samar-samar bayang itu menggunakan mata batin dan perjalanan batin. Bukan perjalanan lahiriah sebagaiaman telah banyak dimengerti manusia yang menghamba kepada rasional.

Sebenarnya Tuhan selalu mengajarkan kepada semua manusia tentang mempersiakan diri dan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Agar kita tidak mendapati atau menemukan bahaya dalam perlakuan-Nya atau perjalanan menempuh dan melaluinya dinamika-Nya. Misal, Tuhan selalau menandankan mendung terlebih dahulu sebelum hujan atau tanda-tanda terlebih dahulu sebelum kehadiran hujan yang membawa berkah. Agar kita dapat mempersiapkan atau sekadar menyadari tentang situasi yang akan terjadi. Jelas, di sini Tuhan sedang menunjukkan sangat mencintai hambanya. Dan semua itu hanya dapat dimaknai serta dimenerti olehnya yang mampu meliha, berfikir, dan menysukuri kemudian mengambil pelajaran setelah kejadian karena keagungan Tuhan dilaluinya.

Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dijadikan alasan untuk belajar hal yang lebih besar atau hal yang dapat meningkatkan derajat manusia. Menjadi wajib untuk segera dilakukan. Dengan dibekali pemahaman keyakina yang sungguh-sungguh akan adanya perlakuan serta peran Tuhan dalam setiap keadaan yang dijalani.

Tuhan menjadikan manusia sebagai hambanya. Makan, jelas Tuhan akan selalu dan pasti bertanggung jawab atau mengendalikan setiap detik, hari, tahun, dan semua masa tentang hal yang akan terjadi kepada hambanya. Jadi, pada intinya kita berada dalam ruang lingkup dan semesta Tuhan. Yang mana ini dapat diterjemahkan, bahwa apapun yang kita temukan dan apapun yang kita dapatkan, ada gambaran-gambar atau kejadian yang memiliki makna atau bermakna. Atas dasar makna-makna tentang maksud Tuhan sedang memperlakukan manusia. Yang jelas, bila manusia mampu menangkap semua makna itu, maka akan mendatangkan hal yang mensejahterakan atau mendamaikan manusia tersebut di hari yang akan dilaluinya nanti.

Karena itu menjadi akan lebih baik kepada setiap diri. Bila memaknai atau menghikmahi semua perlakukan baik dari sesama manusia atau perlakuan buruk lainnya. Memaknai dimaksud dalam hal-hal yang artinya membangun dan positif.

Meyakini dan memantapkan pada diri, misalnya. Karena sangat menyadari atau sedikit merasakan bocoran dari Tuhan tentang hari depan. Maka dalam hari-hari yang dilaluinya akan menyibukkan diri kepada pemenuhan persiapan hari depan. Seperti bila diri telah merasakan atau ada gambaran akan menjadi orang ''penting dalam sisi keilmuan atau pengetahuan''. Maka dari saat ini sudah banyak membaca buku atau melakukan hal-hal yang dirika pantas untuk medukung mewujudkannya.
Semua manusia dapat memahami tentang itu. Tetapi tidak semua manusia mampu menangkap dan menjalaninya.

Hal-hal yang sifatnya semu seperti itu, tidak dapat atau tidak mudah dipercaya sepenuhnya oleh mereka yang mengedepankan rasional. Namun, hal yang demikian tidak mungkin bisa dihilangkan atau ditiadakan. Karena kejadianya selalu mudah dijumpai dan ditemukan. Apalagi kita yang besar dan tumbuh dalam lingkungan atau situasi yang sangat menjunjung tinggi

''mampunya diri menangkap isyarat dari Tuhan, membuat diri lebih mawas dalam melangkah''

Oleh: Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~