~Elit-politik bukan Kita~



~Elit-politik bukan Kita~
(Marhaenis = petani, nelayan, buruh, PKL, dkk, itu kita !)

Setiap kita pasti selalu memiliki prespektif atas suatu hal, baik itu hal yang abstrak atau hal yang tidak. Namun dari kedua itu adalah pemahaman yang tidak abstrak atas suatu objek (keadaan-lah) yang harusnya menjadi terdepan dalam memahami (mengkaji) sesuatu. Menelisik dan mendalam dalam memahami keadaan, adalah cara di antaranya untuk mengerti apa yang diharapkan dan dibutuhkan dari suatu keadaan itu.

Tidak luput pula pandangan seperti itu digunakan untuk memahami lebih mendalam tentang calon pemimpin yang akan memimpin kita. Kita semua mengetahui bahwa tidak ada yang paham tentang derita kesakitannya petani kecuali petani itu sendiri. Nah, melengkapi hal itu tentunya hanyalah pemimpin yang dari kalangan rakyat bawahlah yang akan dan pasti mengerti tentang situasi atau hal-hal yang dibutuhkan oleh rakyat bawah. Bukan mempercayakan kepada mereka dari kalangan elit politik tentunya, manamungkin kalangan elit politik memikirkan dan bisa merasakan pahitnya yang dirasakan oleh petani (marhaen) disetiap hari-harinya. Sedangkan ia tidak pernah mencoba untuk mau tahu bagaimana beratnya menjalani hidup sebagai petani (pekerja/marhaen), saat harga-harga diliberalisasikan tanpa ada kontrol dari pemerintah.

Pada intinya bohong bisa lahir pemimpin pro-rakyat dari kalangan elit-politik yang tidak pernah merasakan menjadi kaum Marhaen (marhaenis), kecuali pemimpin itu sendiri lahir dari kalangan MARHAENISME. Tidak mungkin dan mustahil, kecuali ia yang pernah dan bisa merasakan deru deritanya. Bagiku untuk manusia saat ini mustahil bisa merasakan derita ia yang menjadi tetangganya atau menjadi kaulanya, kalaupun ada itu minoritas yang kecil mampu bisa begitu, sebabnya sebagian besar elit-politiknya disibukkan dengan egonya (pentingnya). Dan perlu diketahui, hingga saat ini kalangan Marhaen jarang bisa memasuki sekup-sekup ruang politik. Yang karena dihambat atau dipresulit oleh kalangan elit-politik yang tidak mempedulikan kalangan Marhaen.

Kita tidak perlu menghayal atau menyenangkan hati, dengan membualinya atau menghiburnya diri dengan memandang silau kegagahan politisi dari kalangan elit itu. Itu hanyalah gaya dan retorika mereka saja yang ingin memakan dan memangsa kita dikemudian waktu dengan halusnya metode. Aku mau tanya sama kalian. Dimana ada pemimpin betul-betul pro-rakyat/progresi revolusioner yang memperjuangkan nasib kalangan bawah, kecuali ia yang dilahirkan dari Marhaenisme itu sendiri ? fikirkan itu. Maksudku, aku mengatakan itu ialah dengan tujuan untuk menyadarkan agar kita tidak terlalu fanatik atau percaya berlebihan akan tampu perjuangan kita dititipkan atau diemban oleh mereka dari kalangan elit-politik secara mutlak.

Berulang kali aku mengegaskan, menjelaskan dan memberi tahu dengan alasan seperti di atas itu. Bodohnya diri yang terselubungi oleh buaian yang menggoda, iming-iming dari elit-politik, dan inilah yang diharapkan terjadi kepada kita (Marhaen) oleh elit-politik yang berkepentingan pribadi pada suatu tampu kepemimpinan. Kita rakyat golongan Marhaen terbuai dan terhegemoni oleh kata-kata mereka serta mengikuti inginya mereka untuk dipercayai. Bila sudah begitu, jadinya adalah kita diperalat dan dimainkan oleh taktik politisir-politisir yang membuai dan melepaskan kita dari alam kesadaran atas kondisi nyata yang sedang kita alami, kita dicabut(dilepaskan) dari keadaan objektif yang kita hadapi dan kita lebih memandang yang objektif adalah yang dikatakan oleh elit-politik, yang jelas bukan dari kalangan Marhaen.

Nah, kondisi seperti itu sudah jelas adanya dan nyata mudah kita jumpai terjadi beberapa kurun waktu lalu. Tapi kita kalangan Marhaen masih gelap mata dan mengabaikan hal yang sedemikiam brutal. Seakan masih miliki percaya dan menaruh harapan kebijakan pro-rakyat kepada eliti-politik bukan dari golongan Marhaen. Sudahlah, tidak usah kamu percaya, itu tipu-tipuan dan buaian mereka saja ! Untuk mereka agar bisa terpilih dan melakukan aksinya serta melancarkan kepentingan golongannya yang kemudian melupakan kita.

Coba kita amati, mana ada program dari kalangan elit politik bukan dari kalangan Marhaen yang betul-betul menyentuh rakyat. Melainkan programnya untuk mendukung kepentingan golongannya saja. Misalnya program e-KTP, inikan program yang jelas-jelas tidak menyentuh atau bukan prioritas utama atas keadaan masyarakyat sekarang.

Kita semua mengerti bahwa keadaan masyarakat kita secara ekonomi blangsak (anjlok, kalaupun baik perputaran itu hanya di perkotaan) atau terpuruk. Karena persaingan atau kuatnya liberalisasi ekonomi di kalangan rakyat sendiri, tanpa peran tangan pemerintah secara langsung. Itulah mengapa bisa dikatakan progaram itu tidak prioritas dan menyentuh langsung kepada kebutuhan rakyat, karena itu hanya menyentuh kalangan elit dan kroninya yang mendukung aksi-aksinya dikemudian hari. Ringan katanya, mereka idealisme dan tidak holistik dilengkapi materialis dalam memahami (menilik, mempelajari) keadaan rakyatnya. Semua gagasanya melepaskan dan mencerabutkan diri dari keynyataan objektifnya, ini karena kebutaan dan kegagapan elit (pemimpin) dalam melihat situasi atau kondisi yang dialami rakyat. Dan ini jelas merupakan bukti yang nyata di antara program-program lainnya yang tidak menyentuh kalangan rakyatnya.

Cobalah kita fikir dan resapi ! Mengapa mereka berbuat demikian kepada kita ? Jelaslah, jawabanya adalah seperti yang sebelumnya itu sudah kita bahas. Karena di antaranya mereka bukan dari kalngan Marhaen, ia adalah elit-politik yang terlahir untuk meng-eksploitasi rakyanta dan hanya memperjuangkan kepentingan Partainya atau golonganya. Ini betul-betul keadaan yang sedang kita alami.

Kita kalangan rakyat bawah, tentunya kecewa terhadap perilaku elit-politik yang demikian. Tidak perlulah kita terlarut dalam kekecewaan yang mendalam, sehingga kita lupa kepada hal yang seharunya kita lakukan. ''Membuat gerakan rakyat dan penyadaran sikap politik kepada rakyat bawah adalah contoh hal yang bisa dilakukan''. Intinya banyak syarat atau kriteria yang harus kita mengerti untuk menemukan pemimpin yang memang akan mendahulukan kepentingan kalangan Marhaen. Sembari kita menyiapkan amunisi dan kekuatan rakyat untuk berkuasa (memimpin).

Ada sedikit hal yang terlupakan sebelum menyimpulkan tulisan ini. Melihat keadaan seperti sekarang ini, dan kita semua baginya yang sadar tentunya memahami dan mengerti dengan sangat. Bahwa kebutuhan kalangan Marhaen itu hanyalah 3 (tiga) saja: Makan (stabilitas ekonomi) bukan liberalisasi ekonomi, Layanan Kesehatan, dan pendidikan. Ini pokok, inilah yang terpenting dilakukan dan dibuat untuk diamalkan sebaik mungkin kegiatan yang pro-rakyat dan mengangkat kebutuhan mendasar rakyat, bukan yang lainnya.

Itu adalah vital dan penting dieperhatikan. Dan kita jadikan tendensi utama dalam melihat dan mengamati kebijakan sembari memahami maksud utama yang akan dilancarkan oleh elit politik.

Kita terlahir dan besar dari kalangan lingkungan Marhaen. Ini sungguh kenyataan yang terjadi kepada kita, kita bukan terlahir dari kalangan elit atau borjuis besar. Maka dari itu, tidak perlu terlalu percaya dan nafikkan sajalah bila ada buaian kata-kata dari kalangan elit politik yang katanya akan memperjuangkan nasib kalangan Marhaen, itu bohong ! Itu palsu !

Mereka tidak pernah bisa merasakan derita kita, karena mereka bukan dari kalangan dominan kita. Mereka itu orang-orang yang mementingkan perutnya sendiri, kebutuhan golongan sendiri. Kamu tahu ? Elit politik macam itu baiknya dibuang di tong sampah oleh kita kalangan Marhaen.

Kalangan Marehaen di Indonesia adalah kalangan banyak terdzolimi karena kebijakan dari elit politik yang bukan dari kalangan Marhaen. Ini yang sedang terjadi, seimpelnya: untuk saat ini menghindari terlalu percaya kepada elit politik yang bukan dari golongan atau kalangan Marhaenisme, ini lebih baik. Itu saja ! Tidak lebih.

''Hanyalah mereka hilang kesadarannya, yang setia bercumbu mesrah dengan elit politik yang bukan Marhaenisme. Sedangkan kita dominan rakyatnya adalah kalangan Marhaen''.

Dan perlu kita tahu dan mengerti, bahwa kesadaran politik kalangan elit itu adalah kesadaran politik perut, itulah mengapa ia suka dan sering berpaling dengan kenyataan yang sedang kita hadapi, setelah mencapai inginnya. Mereka itu adalah orang-orang tidak memiliki kesadaran mencurahkan kebahagiaan untuk berbagi kepada kalangan Marhaen, karena mereka adalah orang yang kehilangan kesadaran mengenakan tampu pimpinan jabatan untuk berbuat kebijakan dan kepentingan. Jelaskan semua yang dikeluarkan adalah hal yang tidak sehat, karena mereka orang yang sudah tidak stabil dalam memandang golongan lain.

“dariku yang belum banyak tercerahkan oleh gonjang-ganjing kehidupan, yang menurutku masih banyak ketimpangan dan membingungkan. Tetapi, aku tidak sedang terlemahkan oleh keadaan itu. Dengan itu, aku sedang belajar mencurahkan dari apa hal yang dirasakan dan meresahkan, fikiran, batin, dan perasaan”

Oleh: Sinaryo


Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~