~Petani Kita Didzolimi~
~Petani
Kita Didzolimi~
(sedangkan kita
makan, dan masih dapat hidup sampai saat ini karena hasil Petani. Tetapi,
“mengapa kita tidak memikirkan, memperjuangkan, hak, & nasibnya ?”)
Dari dahulu sampai sekarang, dari
anak kecil hingga dewasa tahu bahwa Indonesia atau dalam novel Mata Hari
dikatakan “Indo” yang “Nesia”. Yang memiliki arti bahwa daratan dan kepulauan.
Dan hendaknya menjadi jelaslah melihat keadaan yang seperti itu praktisnya
menjuluki Negara kita ini sebagai negara maritim. Negara yang mempunyai Sumber
Daya Alam dari segala sisi keadaan yang mendukungnya dan berlimpah untuk
dimanfaatkan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia khusunya. Mengapa khusunya ?
karena saat ini masih nyata “bahwa di negeri yang kaya raya ini, penuh dengan
hal yang menguntungkan, namun masih mengalami penderitaan dan kemiskinan dari
segala lini dan sebab”. Terutamanya ialah, misikinya para Petaninya yang berada
di lahan pertanianya sendiri.
Melangkah
dari keadaan yang demikian itu melingkupi keadaan yang dirasakan memlilukan dan
miris, maka hendaklah yang tepintas atau terbesit di kepala kita adalah tentang
Petani. Bagaimana keadaan pertaiannya
dalam fikirkan kita memikirkan. Menilisik dalamnya adalah nasib dari
para petani itu sendiri, seperti rupa terpintaskan di awal.
Bilamana
kita sungguh dalam menafsirkannya, maka akanlah mempertanyakan dan tetntu
menjadi pemikiran baginya yang hendak memikirkan tentangnya. Bagaimana nasib Petani
sekarang ? bagaimana kondisi pertanian di Indonesia sekarang? Yang begini ini
harusnya menjadi fikiran yang dijadikan suara utama dalam peringatan hari tani
nasional 24 September 2014 ini. Agar betul-betul menjadi peringatan yang tidak
sekadar yuforia saja. Tapi memang betul-betul memberi bekas nyata dan tekanan
seerta tuntutan yang bisa dijalankan oleh roda pemeritahan baru ini yang akan
dijalankan. Ini maksud dan tekad kita, atasnama rakyat yang menuntut janji dan
melawan ketidakadilan yang menjadi biasa.
Sebelum
lebih jauh, kita makan dan bisa hidup dalam keadaan sehat sampai saat ini adalah
memakan hasil pertanian. Tapi anehnya kita manusia yang berfikir ini tidak
pernah coba memikirkan nasibnya ia yang menghasilkan barang yang menyehatkan
kitan ini. Terkadang malahan kita dengan sinis menghinakan dan merendahkan
Petani. Hey ! kamu yang masih berfikir demikia, ini Indonesia bukan negara
tanpa petani atau negara yang merendahkan golongan lainya. Padahal dari satu
golongan kepada golongan lain itu memberi keuntungan.
Benarkah
bahwa pemerintah saat ini sudah berlaku adil dan baik kepada para Petani kita ?
yang mana menjadi corak utama negara kita ini adalah dari sektor pertanianya.
Jika memang sudah, apakah yang menjadi dasar berkata demkian ? kondisi nyata
yang mana mencerminakan keadaan yang adil kepada Petani sekarang ? tunjukan !
bukan dalam program. Tapi dalam perbuatan yang sudah masif dilakukan oleh
pemerintah.
Itulah
mengapa kita tidak boleh menutup mata, dari keadaan rill yang seadang terjadi
negara kita saat ini. Melihat keadaan negara yang dalam beberapa waktu terakhir
terakhir ini banyak berbuat dzolim kepada para Petani. Dengan beberapa
kebijakan yang dilahirkanya. Di anatarnya adalah kebijakan yang APEC, yang WTO, yang merupakan serangkaian
jelas kebijakan yang menghancurkan dan melemahkan produktivitas dalam negeri
dalam hal ini produk-produk pertanian. Ini membunuh dan ini membuat keadaan
berbalik, menjadikan petani budak dalam negeri.
Petani
dipertaruhkan untuk bertarung dengan bebas kepada pasar bebas Asean, WTO, yang
dilegalkan oleh pemerintah. Benarkah keadaan ini akan membuat kebaikan dan bisa
mensejahterakan rakyat ? kita jawab dengan tegas, tidak ! perbuatan pemerintah
yang demikian itu adalah tidak mencerminkan adanya itikat baik dari pemerintah
untuk benar-benar memperhatikan nasib para Petaninya. Dan jelas pula ini sedang
menunjukkan pemerintah yang pro-Neolib, atau sebagai perpanjangan tangan
Imperialisme.
Lain
dari pada itu, antaranya hal yang sudah lama kita amati dan Petani rasakan,
benar-benar buruk dan menyiksa. Penggusuran Petani Rembang ? lupakah kita
dengan peristiwa tragis itu, perjuangan Petani Jambi menuntu haknya ? tidak
tersadarkah kita dengan itu, dan masih ada beberapa kasusu lain yang juga meinmbulkan
korban nyawa. Lantas, bagaimana dengan harga-harga pupuk melambungi tinggi,
sedangkan harga komoditi dari hasil pertanian tetap atau tidak mengalami
kenaikan yang berarti.
“sekarang
ini, tidak saja kita dimainkan atau dipermaikan oleh penjahat korporasi. Tetapi
sudah nyata kita juga dipermaikan oleh pemerintahan dalam negeri, yang sedang
main hati dengan Imperialisme”
Problematika
yang melanda para Petani seperti nyatanya tidak digubris dengan sungguh oleh
pemerintah, besar kemungkinan benar tuduhan kita, ia sedang berpaling.
Dilengkapi pula dengan “tidak adanya itikat baik dari pemerintah untuk
mengendalikan atau menyetabilkan harga pertanian yang berkembang di pasaran”.
Semuanya keadaa dan nasib dan nafas Petani diserahkan kepada pasar, ini adalah
liberalisasi yang benar-benar terjadi dan sungguh kita alami. Di antara
contohnya yaitu dengan banyaknya pasar-pasar moderen berkembang (mini market,
indomaret, alfarmat, dsb). Belum lagi dengan beberapa korporasi asing yang
berkembang dalam negeri bergerak dalam sektor pertanian, dengan skala melebihi
kekuatan 1000 Petani dalam negeri, jelas ini korporasi mematikan gaya Petani
kita dari segala dimensi, bentuk dan wujud.
Pantaskah
dengan ini negara kita ini sebagai negara yang maritim atau negara yang
mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai Petani. Dengan keadaan nasib Petani
yang serbah direndahkan dan dibiarkan saja merawat melawan nasibnya yang
dihimpit serbah kesulitan yang dibuat. Dan diperkuat pula adanya bukti
ketidakpedulian pemerintah adalah dengan semakin membabi-buta mengimpor
barang-barang pertanian (Sapi, Bawang, Berambang, Pembibitan, Beras, Kedelai,
Jagung, Apel, dst), yang sudah sangat jelas itu dapat dihasilkan dan dipenuhi
oleh produtifitas dalam negeri Petani kita. Jelas pula bila produtifitas dalam
negeri itu dijalankan dan manfaatkan dapat membantu meningkatkan taraf hidup
dan kesejahteraan Petani. Tetapi mengapa hal yang sedemikian spele saja dan
mudah itu tidak dilakukan oleh Pemerintah ? dan dimuntahkan begitu saja dengan
bukti perbuatannya yang berpaling dari melanggengkan kebutuhan Petani dalam
negeri.
Petani
dalam negeri butuh pasar !
Butuh
harga yang menguntungkan !
Butuh
lahan untuk bertani !
Dan
butuh perlindungan dari pemerintah, agar terhindar dari genjatan kejahatan
monopoli dalam hal pertanian yang mematikan keberlangsungan kegiatan pertanian
dalam negeri.
Butuh
pasar untuk menjual semua barang hasil taninya. Bukan dihimpit pasar dalam
negerinya, dengan dibebaskan dengan banjirnya barang-barang impor yang banyak
mudorotnya. Yang banyak membuat komoditi dalam negeri kolep dan tidak laku
bersaing dengan produk impor.
Melengkapi,
beberapa waktu belakangan ini, tidak bisa kita pungkiri, selain permalasahan
impor yang menjadi-jadi. Juga semakin bnayaknya terjadi konflik agraria yang
terjadi di nusantara ini, yang mana banyak mengorbankan Petani.
Dengan
semangat berlandaskan Pasal 33 UUD 1945, yang menjadi pedoman dan berpijak
untuk menjadikannya sebagai solusi dini. Dari keadaan yang demikian ketimpangan
saat ini, tidaklah melemahkan kita kaum yang terdzolimi oleh pemerintahan
balutan Imperialis yang kapitalis dan
dengan berbagai macam topeng yang ia gunakan. Hendaklah kita tidak mudah
terkecoh oleh buaian dan iming-imingnya dikemudian waktu. Tetap melawan, berjuang
dan mari bung !! kita rebut kekuasaan dan kita pimpin jalanya pemerintahan yang
adil dan beradab seperti yang sudah diamanatkan UUD 1945. Bukan membiarkan
mereka yang yang nista dan banyak dusta atasnaman rakyat dibiarkan saja terus
memimpin jalannya negara yang harusnya membawa kebaikan bagi bersama tanpa
memandang kelas.
“kejahatan
atau kedzoliman akan tetap berlanjut, jika kita diam, terpejam, membisu, dan
tidak melawan”
Oleh
: Sinaryo
Komentar
Posting Komentar