~Kabar dari Tuhan~
~Kabar
dari Tuhan~
(Tuhan mengajarkan atau mengingatkan hal-hal kepada kita
bukanlah dari/dengan kata-kata fulgar yang biasa diperbuat oleh sesama manusia.
Tetapi Dia memberi tahu kita melalui isyarat)
Terkadang, semua kebiasaan dan
kegiatan hari demi hari, waktu kepada waktu, terlakukan dengan sangat senang
atau tidak mengasikkan tanpa ada rasa kejanggalan mengikutinya. Tanpa ada tanya
? tanpa ada curiga ? dan tanpa ada sedikit ilusi ?. Yang sekadar dapat dihikmai
atau dimaknai, tetapi kebanyakan dari semua itu hanya dianggap angin lalu yang
tiada berguna atau arti.
Semua kejadian-kejadian melengkapi
perjalanan hidup ini, sebenar dan sesungguhnya sekalian adalah yang memberi
warna kepada kita dalam menjalani kehidupan. Tentunya, hal yang memberi warna
itu identik dengan memberi arti. Hal yang seperti ini bukanlah hal yang tidak
biasa atau tidak terjadi pula pada diri orang lain. Implikasinya,ada pula yang
mempunyai keyakinan dan percaya, bahwa detik-detik waktu yang terjadi terhadap
diri ini merupakan karunia atas izin serta kasih sayang Allah swt. terhadapa
hambanya. Dan yang sangat perlu diyakini dan dipahami, bahwa semua yang terjadi
baik dari tidur sampi kita tidur lagi adalah hal yang memiliki arti dan
merupakan sebuah kejadian (peristiwa) yang mengandung isyarat atau tanda-tanda
yang memiliki makna sebagai pedoma bagi orang-orang yang tahu (dapat berfikir
dalam) untukmemaknai isyarat yang didatangkan dari Tuhan itu. Dalam arti,
mampunya diri memaknai dan menghikmahi dari setia berkas kejadian yang menghampiri
diri, baik terasa langsung atau tidak langsung. Bukti setianya kita kepadaNya,
dengan cara selalu mencoba, mempelajari, dan memaknai atau menghikmahi dari
setiap kejadian menghampiri yang diberikanNya kepada kita.
Perlu
diyakini, dari semua hal atau peristiwa yang terjadi dialami kita semua tidak
pernah ada yang kebetulan atau terlepas dari yang namanya capur sentuhan dari
Sang Pencipta atau Penguasa Alam Jagad Raya. Kita diajarkan dan dituntut agar
kritis dalam segala atau banyak hal apapun yang terjadi di lingkungan
sekitar,maupun kritis terhadap diri kita sendiri yang dalam menerima isyarat
itu sendiri. Semua pastilah menyimpan dan menyelinapkan makna, bagaimana nanti
kita kedepannya atau apakah yang akan terjadi dengan dirikita ini atas kehendak
Allah swt. dikemudian waktu. Ini hanya dapat terjadi bagi orang-orang yang
ingin mengerti dan mencari pelajaran dibalik sebuah peristiwa.
Sebagai
pembanding dan penguat saja tentang isyarat dari bahasa Tuhan kepada hambanya
yang hina. Pernahkah di antara kita ada yang mendengar, menemukan, dan
menjumpai Tuhan sedang berkomunikasi atau bercengkerama secara langsung kepada
manusia ? dengan maksud memberi peringatan, memberi kabar, memberi hidayah atau
nasehat dari sesuatu yang akan dilalui atau dijalani oleh manusia itu. Pasti
semua akan satu suara, menafikkan dan menyanggah tidak mungkin hal yang
sedemikian fulgar itu dapat terjadi atau pernah terjadi anatar Tuhan dengan
hambanya (manusia). Kondisi ini sebenarnya sebagai titik tolak, untuk kita
mengkaji dan mendalami tentang bahasa Tuhan kepada hambanya. Alat komunikasi
seperti apa yang sesungguhnya dipergunakan Tuhan untuk mengajarkan, memberi
tahu, memperingatkan, dan menyanjungnya atau sekadar berkomunikasi dengan
hambanya yang hina ini.
Sedikit
ada keyakinan, dari kronologi ini menjadi perdebatan dalam pemikiran dan
macam-macam spekulasi yang berterbangan di kepala. Tentunya, bagi kita yang
mempercayai adanya Yang Maha Pengendali dari semua peristiwa. Tidaklah secepat
kilas dan berujung dengan menganalogkan peran Tuhan sama dengan peran-peran
yang dilakukan oleh Raja dari manusia, seperti mengumpamakan. Konsepsi
pemikiran generalisir seperti ini, yang sering menyebabkan kebuntuan dan
mengakibatkan kejadian pembangkangan terhadap keberadaan Tuhan “tidak ada
maksud untuk percaya dengan adanya Tuhan, hanya memperikansistematika kerangka
berfikir untuk menjamah yang Semu”. Belajar dari dinamika ini, bahwa Tuhan
adalah pengendali utama dari setiap peristiwa. Maka, sejenak hendak mengajak
mendalami tentang peristiwa dalam romantikanya yang selalu melingkupi dan jelas
kita alami. Tidak pernah sama dari waktu ke waktu, dan nyata sudah mengalami
perubahan (ingat hukum materi, “tidak ada keabadian dalam dinamika”).
Kita
akan mencoba mengkomparasikan dan mendalami dari bahasa manusia kepada manusia,
dan bahasa Tuhan kepada manusia. Dengan jelas memperhatikan etika, estetikan,
dan norma-norma yang melingkupi. Agar tidak menjadi amburadul atau bias dalam
mengkerucutkan pengkajian jenis bahasa Tuhan yang dipergunakan untuk
berinteraksi/komunikasi dengan manusia (hambanya). Tidak ada
penyamaan-penyamaan secara implisit, apalagi pemaknaan secara fulgar dari yang
satu kepada yang lain yang pernah kita alami.
Berbekal
dari kita ada karena ada Sang Ada. Tidak mungkin Sang Ada mengadakan kita
dengan mengada-ada, tanpa menganggap keberadaan kita. Tidak mungkin pula kita
diadakan oleh Sang Ada dengan maksud diabaikan, dibiarkan, dan tidak bimbing.
Meyakini bahwa Sang Ada dengan pasti tidak mungkin mengada-ada. Tentu, ada
hubungan Sang Ada kepada yang diadakan. Jelas, hubungan di sini tidak disamakan
dengan hubungan-hubungan yang terjadi dari sesama ia yang diadakan, oleh Sang
Ada.
Kita
tahu dan sangat mengetahui, tentang hakikat hubungan atau komunikasi. Bahwa
komunikasi itu identik dengan perubahan-perubahan atau tidak pernah ada
persamaan secara persis dari satu kejadian komunikasi kepada kejadian
komunikasi lainnya. Mudahnya dibilang, komunikasi itu seperti hukum materi yang
tidak pernah sama dari waktu ke waktu. Pada bagian ini bermaksud akan
mengatakan tentang hal nyata yang jelas kita rasakan dan kita jalani di setiap
waktu, tidak pernah terbatas. Yaitu, tentang “peristiwa”sebagai medium Tuhan
berkomunikasi (membimbing, memberi isyarat) kepada manusia. Karena seperti yang
sudah dijabarkan di atas tentang komunikasi tidak pernah mengalami kesamaan
dari dan akan, dan pasti mengalami perbuahan-perubahan seperti hukum materiel.
***
Peristiwa
demi peristiwa yang kita alami di dunia ini, merupakan kelengkapan tejadinya
perputaran roda kehidupan. Semua hal peristiwa yang terjadi itu pastilah
melengkapi dan melingkupi jalannya hidup diri kita semua, bukan terpisah-pisah
dan terbelah belah memencar berperan sendiri-sendiri. Ingatlah bahwa satu sama
lain, ujung dengan pangkal pastilah ada keterkaitan benang merah yang
menyambungkanya, ini dalam presktif hukum “Dialektika”. Belajar dari banyak hal
dan peristiwa merupakan cara baik yang dapat kita lakukan untuk mengasah
kepekaan dan mencari arti dari setiap bukti yang terjadi.
Kepekaan
dalam hidup ini merupakan unsur yang tegolong penting untuk menuju kesempurnaan
hidup yang madani. Kepekaan itu terlahir dan diciptakan agar kita bisa mencari
serta pelajaran sendiri didalam sebuah kesunyian dan mencari peajaran juga
didalam keramaian. Inilah manusai yang sejatinya, dapat berlaku untuk bersama
dan bekerja untuk dirinya sendiri milik bersama. Dimana mungkin kita bisa
melakukan itu semuanya tanpa ada kepekaan yang baik melekat terjadi di fikiran
dan jiwa kita, kepekaan itu bukan semata-mata timbul sendiri tanpa sebab dan
tanpa cara ! ia perlu dilatih dan dibiasakan.
Tuhan,
mengajarkan kita dari modal fikiran yang kita miliki untuk selalu menggali arti
dari setiap peristiwa yang menerpa. Kepekaan atau kesensitifan diri terhadap
diri dan lingkungan menjadi modal dasar yang utama. Untuk kita dapat menerima
hingga hampir jelas setiap kabar dari Tuhan yang diberikan kepada kita.
Ada
syarat penting lainnya, yang peru dimiliki agar diri ini dapat dengan baik dan
singkat dalam menyimpulkan setiap isyarat-isyarat yang diberikan dari Tuhan
untuk kita. Yaitu, keadaan dari kesuciaan batin atau diri ini menjadi hal yang
sangat menentukan. Apakah kita akan dapat secara dini menghikmai dari setiap
isyarat yang terjadi kepada kita dari setiap kejadian kepada diri kita. Kembali
ditegaskan, untuk belajar tentang isyarat ini adalah meyakini dengan sungguh
bahwa “tidak ada yang kebetulan dan tidak ada hal yang tanpa arti, walaupun
sekalian hal yang dianggap semu oleh rata-rata orang” bila hal terjadi pasti
memiliki makna dan arti. Sebagai pedoman dan bukti Tuhan memperhatikan kita
dari setiap ruang dan waktu.
Hanyalah
manusia yang kurang syarat atau iman, bila masih saja berpijak pada pemahaman
primitif. Yang mana menegasikan dari setiap satu peristiwa kepada peristiwa
lainnya. Jelas ini tindakkan yang meluputkan semua hal merupakan konstruksi,
dansaling berkaitan dalam dunia materiel atau dunia yang dapat dirasionalkan
dalam jangka fikiran atau angan-angan ini.
Memang
sulit untuk mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati. Tentang
isyarat-isyarat yang laksa semu, dan memang semu-semu banyang yang ada. Namun,
bila diri ini dibekali atau memiliki pemahaman yang menyatakan bahwa semua hal
adalah dibangun karena “konstruksi dan dialektika”, maka tidaklah berat baginya
untuk menjamah dan menelaah dari setiap satu kejadian kepada kejadian lain. Hal
yang sudah mapan atau seperti mengkaji dan memaknai setiap peristiwa merupakan
isyarat dengan modal kepekaan ini, sudah diamalkan oleh orang-orang kejawen.
Yang mana mereka suka gotak-gatuk (menghubung-hubungkan), dengan keyakinan
bahwa setiap kejadian memiliki arti dan saling berkaitan. Bila kita pahami
secara mendalam, tentu ini menyimpulkan bahwa orang kejawen dahulu telah
memahami konsepsi teori kritis “konstruktivisme dan dialektika”, yang mana
mengalami perbedaan saja dalam hal istilah.
Aku
fikir semakin menjelaskan dan meyakinkan. Tentang setiap kejadian atau
peristiwa ini bukan tanpa arti dan makna. Dan semuanya merupakan isyarat dan
karunia dari Tuhan (bagi yang percaya Tuhan), yang hanya dapat dihikmai,
diterjemahkan, dan dimaknai sebagai modal ilusionalis kedepan baginya dengan
balutan kepekaan.
Membicarakan
tentang Tuhan atau tanda-tanda ada yang berkuasa di atas yang berkuasa. Memang
sangat erat kaitanya dengan topik pembicaraan tentang kepekaan diri atau
mampunya diri secara diri menyadari dari segala apapun yang terjadi.
Kepekaan
atau kesensitifan ini, merupakan hal yang sebenarnya melekat di setiap
individu. Hanya saja mengalami perbedaan dalam dan tajamnya dari satu individu
dengan individu lainnya. Ini sangat dipengaruhi oleh olah rohani dan
kebiasaan-kebiasaan yang diperbuat individu. Apakah itu mendukung untuk
menyucikan rohani atau sebaliknya.
Pada
intinya, yang menjadi point penting dari topik ini adalah isyarat dan kepekaan.
Ini penting agar kita dapat lebih sahaja dalam menjalani dinamika dan romantika
kehidupan. Isyarat yang dalam maksud ini adalah pemaknaan dan pembacaan dari
setiap kejadian yang dianugrahkan dari Tuhan untuk dimaknai dan dipelajari.
Yang mana hanya akan berlangsung dengan baik, bila dalam diri dibekali “kepekaan”
atau “kesensitifan” dari si manusia yang hendak menangkap makna dari setiap
kejadian yang akan dimuarakan sebagai isyarat. Pembelajaran dalam arti untuk
persiapan dalam menghadapai spekulasi kedepan.
“tidak ada kebetulan dalam dinamika ini, karena semua dilingkupi konstruksi dan dialektika, yang
dilingkupi dalam romansanya masing-masing”
Oleh: Sinaryo
Komentar
Posting Komentar