~Cipta Kebaikan~
~Cipta Kebaikan~
Tidak
seramah dan semudah itu kehidupan, sehingga kebaikan untuk sesama manusia
berjatuhan dari langit seperti air hujan. Saat kita hanya mampu melihatnya
laksa bayang-bayang pakeat dari setiap kejadian-kejadian dialektika/dinamika kehidupan,
yang berlalu-lalang, dihampiri-menghampiri, menyambangi-ditinggal pergi, dan
mengisi-melengkapi. Tanpa mau mempelajari, memaknai, memahami, dan
mengartikanya. Itulah bisa dikata bagian dari jiwa-jiwa tingggal
merana-menganga saja, semua yang ada dan di sekelilingnya
tidak mampu digapainya dan diterjemahkannya. Kebaikan tidak berlaku, bersama, bersemayam,
bertahan atau berada dengan orang yang miliki jiwa-jiwa lapuk macam itu. Yang mampu melihat tapi
tidak mampu memaknai, yang mendengar tidak mampu mengartikannya dan seterusnya
kelengkapan yang dimiliki, serta kelengkapan jasad secara lahiriah hanya
sebagai perhiasan tanpa guna (kurasa atau kupahami inilah indikasi
nikmat-nikmat yang diberikan pelan-pelan dicabut).
Kebaikan
itu sendiri bukanlah hal yang sengaja jatuh turun begitu saja dari langit yang
tinggi itu. Tapi ia adanya harusnya
menyertai kita, karena dicipta, dibentuk, dikontruksi, dan direfleksikan serta
melihat situasi dan konidisi atau menempati ruang dan waktunya.
Dan
perlulah diketahui, bahwa kebaikan itu adanya adalah karena diciptakan atau
dibuat atas kebersamaan manusia-manusia yang saling berkelompok atau
bersekongkol untuk menciptakan keharmonian, ketenangan, kearifan dan keakraban
dari kesepakatan-kesepakatan yang dibangun (ini untuk masalah identitas
kebaikan). Apakah dengan cara pemaksaan
dst itu mungkin ia, tapi tidak menjadi pembahasan di sini.
''Bila
dimaknai secara bahasa atau konvensional. Kebaikan adalah hal atau kondisi
dimana saat diberlakukan atau diperbuatkan mampu membawak ketenangan,
keharmonian, kedamaian, serta menekan kerusuhan atau ketidak-baikan diwaktu
itu''.
Adalah
membohongi diri bila kita berharap kebaikan sedangkan diri ini enggan untuk
merefleksikan atau merepresentasikan diri ini untuk kebaikan atas keyakinan
pribadi yang selama ini diminati atau diikuti dan dipercayai tidak menimbulkan
kerusakan. Karena kebaikan itu sendiri
bisa dikatakan bila ia berwujud berupa hasil atau cerminan yang sedang/telah
diperbuat, hanya bisa dinilai jika teramati.
Menilik
pergulatan peletakan kebaikan itu ! Dipaksalah kita untuk menanyaka lebih
mendalam lagi, apa itu wujud dari kebaikan ? Mengapa ada kebaikan ?
Di mana letak kebaikan ?
Karena
kebaikan sampai saat ini masih dibingungkan dan masih diperdebatkan bagi banyak
kalangan dalam hal pemaknaanya.
Dengan
begitu tentunya tidak perlulah ada pengidealan terhadap identitas kebaikan. Takutnya, hal seperti itu hanya akan
mempersempit pemaknaan yang sesungguhnya begitu luas seperti penjelasan
paragraf sebelumnya. Dan tidak perlu ada
percontohan kebaikan secara mutlak yang harus diikuti secara berjamaah (secara
kaku dan keras) dan bisa dipergunakan atau diberlakukan semua kondisi. Untuk
kondisi-kondisi tertentu, saat sudah ada kesepakatan bersama dalam kelompok
tidak menjadi masalah. Tapi tidak untuk dipaksakan kepada yang di luar kelompok
tersebut.
Tidak
menjadi masalah, yang mempermalasahkan asumsi awal atau semula mengenai tentang
kebaikan. Tapi yang jadi bagian dari
turunan masalah pokoknya ialah, apakah ada ukuran standarisasi dari suatu
kebaikan secara universal dan menyeluruh ? Sedangkan kehidupan yang
ada ini lengkap, dan seperti yang kita semua tahu keberadaanya
berdimensi-dimensi adanya atau terkotak-kotakan sesuai ruang lingkupnya serta
waktunya masing-masing.
Inilah
hal, yang seharunya untuk dijadikan objek kajian bersama sebagai jembatan
pemahaman memperluas cara pandang baru bagi mereka yang fanatik dan sangat kaku
dalam memegang, mengamalkan serta menyebarkan suatu ajaran atau pemahaman.
Yang
kita tahu suatu itu ''baik disana belum tentu baik disini, baik disini belum
tentu baik disana''. Maksud dari itu
adalah untuk mengingatkan mari mengevaluasi suatu hal yang selama ini berada
dipermukan (terlihat) dan banyak menjadi masalah (karena satu sama lain ingin
diakui paling baik/benar), tetapi tidak pernah dianggap sebagai suatu masalah
yang kemudian memunculkan konflik-konflik kecil terus berkesinambungan. Benarkah bahwa keadaan mapan(mainstream) saat
ini yang kita ketahui dan kita anut atau ikuti, seperti kebijakan, agama, dan
ajaran-ajaran lainya. Jangan-jangan
semua itu keberadaanya menindas yang lain atau memperbudak yang lain dan begitu
seterunya. Analisis seperti ini bukan
meragukan hal yang sudah lumrah selama ini, tapi hanya saja untuk kita agar
lebih mengkritis saja. Supaya dikemudian hari tidak menimbulkan kedendaman
karena lama sudah terkekang dan dikerdilkan.
Pastinya
suatu yang kita anggap mapan selama ini ada yang menimbulkan konflik, tapi
keberadaanya tetap dipertahankan, padahal jelas meimbulkan ketidak- baikan. Terlepas dari semua konflik itu terbuat adanya
unsur kesengajaan kepentingan atau tidak sama sekali. Karena ketidak-tahuan dan dangkalnya pemahaman
dalam memahami, maka terkadang kesannya kita mengabaikan suatu hal yang
dipaksakan unsur kebaikannya.
Merangkum
dari kondisi yang sedemikian lengkap, secara sementara dapat dinyatakan
kebaikan-kebaikan yang banyak terjadi saat ini adalah hal yang kesannya
dipaksakan untuk diikuti dan yang terpenting dapat diamalkan secara bersama dan
sama. Hal itulah yang dini dianggap
suatu kebaikan/kebenaran. Diulangi, hal yang dilakukan atau diamalkan secara
bersama dan dominan keberadaanya itu bisa dikatakan pembawa kebaikan/benar.
Pesan
lain yang hendaknya menjadi refleksi diri ialah, kebaikan itu sendiri harus
diciptakan. Dan bila menghendaki adanya
kebaikan di diri kita dari orang lain, maka kita harus dahulu membuat/berbuat
baik kepada orang lain. Sejatinya hukum
kebaikan adalah hal yang bersifat implikasi. Itulah hal yang baik dijadikan motivasi
mengapa perlu diri ciptakan kebaikan (kebaikan bukan
suatu hal yang dipaksakan).~SinA
Oleh
: Sinaryo
Komentar
Posting Komentar