~Nilai & Makna “Sejarah”~


(karena kita semua adalah hasil Sejarah atau produk masalalu. Bila kita mendustasi Sejarah, samalah artinya mendustai diri dan melepaskan diri dari kekuatan “pondasi” menapaki kehidupan. Tetapi, dunia pendidikan kita berlahan mencampakkan “dia”. Mungkin ada yang menghendaki, agar generasi kita menjadi lemah untuk berpijak)

Dari Sejarah, dari masalalu, semua cerita kejadian demi kejadian dahulukala yang berlalu dan terjadi. Yang memadukan, menggabungkan satu peristiwa demi kepada peristiwa, yang dalam bahasanya dapat dibilang saling “berdialektika” dalam dimensi dan ruangnya masing-masing. Dan tidak mudah dijamah, dimengerti atau dipahami bagi yang lemah dan dangkal fikirannya. Karena satu dengan yang lainya saling berkaitan dan adanya kebergantungan yang kasat mata, dengan ikatan saling membutuhkan erat bila ditelisik. Inilah yang dinamakan rangkaian Sejarah dalam bingkaian keutuhan, keruntutan, dan kselarasan kejadian. Sejarah bukanlah sekedar fatamorgana hidup kosong yang tidak meninggalkan, meberikan atau memberkaskan manfaat.

Ia bukanlah  hafalan atau rangkai peristiwa mati yang hanya untuk diingat atau dilafatkan saja dalam sewaktu-waktu senggang sebagai pelengkap cerita atau kata, dan Sejarah bukanlah pula teks mati ! seperti yang banyak dipahami olehnya yang mengalami stagnasi dalam memaknai atau memahami. Oleh karena itu, tentang semua yang berkaitan untuk dipelajari dan dipahami dengan sungguh, dalam, kritis, analistis, holistik, kontemporer, pengaruhnya di masa kini dan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk bespekulasi tentang masa yang akan datang nanti. Inilah yang dinamakan bagian dari menghidupkan Sejarah yang dimatikan olehnya yang mengalami kurang syarat dalam menjamah, mempelajari, dan mengamalkannya.

“banyak dari kita mengalami kehampaan atau kekosongan dalam relung dan sekapan untuk memaknai dan memahami Sejarah. Itu dikarenakan Sejarah yang diajarkan, dipelajari, atau diberikan dalam intimidasi, dominasi, dan kematian”

Direnungkan, didalami, dimakanai, dan dihikmahi manakala sesuatu itu sudah terjadi di luar, kendali, kontrol atau kehendak kita secara utuh. Agar apa ? agar menjadi manusia yang bijaksana dan mengadakan dahulu yang sekarang sudah tinggal kenangan. Dengan maksud mencari makna dari kejadi peristiwa yang lalu, yang dinamakan Sejarah. Ini semua karena rangkaian dan kejadian yang tidak pernah terpisahkan, tidak pernah terlapasakan. Yang jelas hanya memperkuat saja, bahwa setiap yang terjadi sekarang pasti ada yang melatarbelakangi atau mendasari. Bila dapat mengetahui ada yang melatarbelakangi suatu hal dalam jangka dekat dan jernih (tanpa intimidatif atau motif), dalam bahasa lamanya itu dinamakan Sejarahnya. Dengan mengetahu Sejarahnya, jelas akan membuat kita menjadi mudah dalam memecahkan atau memahami dilema dan hal yang sedang dihadapi.

Kita atau beberapa di antara kita menjadi manusia yang terjebak dalam alam pragmatis, kemudian menjadi hedon yang tidak berkesudahan atau sulit disadarkan tentang keadaan sekarang, atas nama masalalu. Adalah salah satu karena sudah tidak mengenal latarbelakang atau Sejarah dari keadaan yang sedang di jalani sekarang. Dan memang benar adanya, kondisi ini ada yang menghendaki dan menginginkan. Siapa mereka ? imperialisme, kapitalisme, dan negara-negara atau bangsa lainnya yang hendak mengendalikan dan menjajah bangsa-bangsa kita.

Dengan cara menghilangkan atau mengaburkan hal-hal yang berbau budaya masalalu “dalam rangkuman Sejarah” kita dan kita hendak dicabut atau dipisahkan dari sana. Untuk apa ? agar kita tidak mengetahui siapa kita ! dan di mana kita. Dalam kondisi yang demikian ini, membuat kita mudah  dibelokkan atau dibawa pada  kehidupan yang menjadi tidak saling mempedulika antara sesama anak bangsa atau satu rumpun bahkan. Mereka bermaksud dan membentuk kita “biasanya mudah diarahkan menjadi lebih hormat kepada orang di luar bangsanya atau negaranya”, atau dalam katanya kita menjadi sangat mudah diarahkan plus dibawa ke alam prgamatis yang liberalis, yang semua itu jebakan dari mereka. Untuk apa ? agar kita mudah dikendalikan dan diperdaya olehnya. Supaya apa ? supaya kita tetap bertahan menjadi bangsa kuli, pengikut, tidak berjatdiri atau bangsa budak. Mengepa mereka menghendaki demikian ? karena mereka menghendaki Dunia dalam satu kendali.

Betapa kejam maksud negara yang mengintimidasi atau infiltrasi kepada suatu negara untuk mencabut budayanya atau memisahkan kultur asli, kemudianya dimusnahkannya. Itu sedikit gambaran mengapa menjadi penting bagi kita mengetahui, memahami,  dan mempelajari Sejarah dengan cara yang baik dan benar. Terutama Sejarah bangsa sendiri. Mengapa begini ? mengapa demikian ? mengapa seperti ini ? segera akan terbalaskan, bila dapat mengaitkan dari yang satu kepada yang lain.

Semua inilah yang dinamakan masalalu penentu masa sekarang, maka dari itu menjadi wajib bagi setiap diri menghindari melupakan sebuah Sejarah. Terutama Sejarah peradaban atau Sejarah latar belakang munculnya sesuatu hal dimanapun berada. Untuk menilai atau menjelaskan sesuatau agar maksimal, baki, dan komplet, jangan lupa perhatikan dna pelajari Sejarahnya dahulu, barulah berkata-kata atau komentar tentang hal tersebut. Mengapa ? agar tidak setengah dalam menganalisi atau berstamen tentang hal. Karena komentar yang baik adalah komentar yang argumentnya didasari dari banyak sisi dan hal, salah satunya yang menjadi wajib adalah pemahaman tentang Sejarah.

Jikalau kita ditakdirkan untuk melupakan, melalaikan Sejarah, atau terlahir dalam kondisi yang didominasi tidak mempedulikan tentang Sejarah, maka bangkit dan sadarlah bahwa diri yang seperti itu sedang mengidap penyakit jiwa. Yaitu penyakit yang tidak tahu ungkapan rasa syukur atau terimakasih kepada pendahulu yang telah banyak berkorban dan berjuang untuk kita, kita semua  yang dapat merasakan kehidupan yang jauh lebih harmonis dan tanpa penindasan atau penjajahan yang nyata. Seperti yang telah terjadi atau dialami oleh para pemenenag atau para pembela atau para pejuang bangsa dulu. Ini menjadi bagaian dari alasan, untuk kita mengapa harus benar-benar memperhatikan Sejarah.

Bila diungkapkan dalam kerangka yang lebih luas lagi tentang Sejarah. Tidak saja ungkapan syukur dan lain sebagainya, dalam kaitan teoritik yang termuat di dalamnya dalam rangka menengok Sejarahnya dari sekat-demi-sekat setiap apa yang terjadi. Namun juga membentuk karakter atau mental jiwa, baginya pengemar Sejarah atau baginya yang tidak pernah mengabaikan Sejarah. Darimana kaitanya, dari pembacaan secara harafiah saja. Orang yang selalu menganalisa dari setiap kejadian yang dialami atau yang terjadi, bila ia paham Sejarahnya tentu tidak hanya secara sepihak dalam menyimpulkan, apapun itu. Ia juga melihat ke belakang agak jauh, diurutkan dan dikaitkan secara teliti. Hal yang seperti ini tidak saja diterapkan olehnya pengemar atau bukan pengabai Sejarah dalam menganalisi suatu kejadian teoritik saja. Namun juga dalam memandang keadaan dirinya sendiri. Apabila terjadi ketidak baikan pada dirinya, ia tidak langsung mengejas atau menyimpulkan secara panismen kepada keadaan kekinian saja yang disalahkan. Tetapi tetap dengan cara meruntutkan kejadian demi kejadian hingga terjadi seperti ini, fikirnya. Selain itu, misalnya juga dalam menilai keadaan dirinya yang sekarang dirasakan, ia tetap melihat kebelakan apa yang menjadi latar belakang dirinya menjadi seperti ini atau seperti dirasakan. 

Secara tidak disadari atau tidak langsung, pola-pola seperti ini bila dilakukan atau diterapkan dalam setiap dimensi atau sekat-sekat kehidupan yang dijalani, menjadikannya kuat mentalnya dan kuat bertahan dalam keadaan apapun. Karena ia tidak pernah menyalahkan keadaan, sebab keyakinan yang ada dalam dirinya “suatu kejadian tidak ada yang tanpa sebab, dan sebab sebagai latarbelakang, dan latarbelakang dalam renungan dalam dinamakan menguak Sejara dari peristiwa”, mengapa seperti ini atau seperti itu !

Karakter yang terbentuk baginya yang pengamal Sejarah adalah lebih kepada tidak suka menghamiki, ini maksud karakter yang sederhana. Karakteryang dimaksud lebih mendalam imbas dari pengamal Sejarah ini, ialah menjadi tidak mudah tercerabut atau terbawa arus kehiudpan, yang terkadang membuat kebanyakan manusia di sekitarnya betanya-tanya dan ambigu dalam menyimpulkan. Pengamal Sejarah tidaklah demikian, ia tetap memiliki pijakan dan dasar yang kuat untuk menjadi tendensi dan bertahan dalam hembusan keadaan yang terkadang dipahami hendak mengaburkan jati dirinya. Singkatnya dikatakan, pengamal Sejarah kuat dalam berpendirian dan kuat dalam menjaga kearifan, keharmonian yang telah lampau ditorehkan oleh masalalu. Biasanya lebih mampu bertahan dalam landaan badai-badai pragmatisme, liberalisme, dan kebudayaan lain yang merugikan yang datangnya bukan dari lingkungannya. Enaknya dibilang lebih filosofis dalam menganalisi, memahami atau memperhatikan dalam banyak hal lainnya.

Semua kejadian cuplikan-cuplikan masalalu yang tertorehkan dalam bingkaian Sejarah, merupakan serpihan-serpihan kecil yang mengajarkan kita hidup atau kerasnya sebuah kehidupan yang dibawah ketertindasan, bila Sejara yang sedang kita pelajari tentang penjajahan. Lupakanlah ego sejenak, sempatkanlah sedari dini untuk tetap mengambil pelajaran dari semua peristiwa atau Sejarah masalau. Hendaknya setelah mengetahui Sejarahnya, membuat kita menjadi lebih kuat dalam berpijak atau bersandar dengan keputusan yang tepat.

Bangsa yang dungu dan terlihat sangat dungu, yang akan menjadi tertinggal dan hanya terhanyut terbawa oleh globalisasi atau modernisasi yang tidak berpijak, yaitu bangsa yang melupakan atau tidak menghargai Sejarah Bngsanya sendiri. Dan lebih parahnya telah coba untuk menegasikan dari keberadaan  msalalu dari bangsanya atau dari dirinya itu sendiri. Lain daripada itu, untuk meyakikan saja mengapa wajib mengenal dan mengamalkan hakikat Sejara, melihat bagaimana manusia itu, berkualitas atau tidak berkualitas, berguna atau tidak berguna (dalam arti umum), maka lihatlah dari wawasanya atau pendapatnya tentang sesuatu atau hal yang berkaitan dengan Sejarah atau latar belakang dirinya atau secara umumnya. Apakah ia mengakui ataukah ia membenci, setiap jawaban dari masing-masingnya mampu menjelaskan kondisi kesehatan batin dari orang itu sendiri dalam waktu itu.

Bukan sedang coba mendramatisir keadaan, tetapi sedang hendak menunjukkan saja. Karena sebenarnya sudah jelas apa yang ada, apa yang kita jumpai dan temuakan dimanapun dan kapanpun. Pasti tidak mutlak demikian keadaanya utuh, pastilah ada tahapan-tahanpan yang dilaluinya. Dan ini namanya proses terbentuk Sejarahnya, dari sini kita menjadi tahu hakikat dari sesuatu itu. Lantas apa yang hedak atau masih dipertanyakan kembali ? tidak ada yang janggal dan tidak ada yang terputus dalam keadaa ini.

Sejarah mengajarkan multi level dan dimensi pengetahuan yang tidak bisa diabaikan begitu saja, jika dalam berpandangannya sangat komplek dan sangat dinamis. Sejarah juga tidak akan melupakan masalalu, itu jelas ! dan Sejarah juga membicarakan pengaruhnya dari masa kini, dan yang lebih fenomenalnya, Sejarah itu sendiri mampu meramalkan bagaimana masa beberap tahun atau bulan yang akan datang. Dari apa ? dari pertimbangan dan kolaborasi dari dulu kini, yang kemudian menjadi spekulasi yang akan datang.

Jiwa yang bersyukur adalah jiwa yang mau melihat masalalunya sebagai sebuah pelajaran, orang yang melupakan  kisah masalaluya dan menganggap sebagai kenistaan, maka tunggulah kerancuan dalam berkehidupan mendekati kemusnahan.

Saat ini, banyak sekali kejadian-kejadian ataua peristiwa atau rutinitas yang menjelaskan atau menceritakan suatu hal yang sangat jauh sekali dari nilai-nilai sebuah peradaban bangsa. Dari sini dapat dilihat bagaimana masyarakat sekarang ini lebih berfikir yang statsi atau menyatakan kehidupan itu “ya langsung seperti ini”, tanpa hendak memikirkan proses kejadian masalalunya.

Bangsa Indonessia ini merupakan bangas yang paling banyak jejak-jejak Sejarah yang mampu dijelaskan dengan baik. Dan menghadirkan banyak inspirasi atau sekadar petuah sebagai pendamping untuk menjalani kehidupan ini menjadi lebih berkualitas.

“Kita sedang menuju kepada keadaan yang sedang hendak mendustakan Sejarah. Dapatlah ini diperhatikan dalam lingkungan pendidikan atau gejolak dan perhatian generasi kepada soal fenomena yang berkaitan dengan tentang Sejarah”

Tetapi terkadangan, kebanyakan dari kita sering menafikkan akan kasiat Sejarah. Kurang tahu pasti, virus apakah yang secara paten dan seakan-akan permanen telah menginfeksi, sehingga sampai sedalam ini membuat melupakan hal yang sebanarnya menjadi dasar bagi kita untuk menatap kedepan. Kondisi ini sedang jelas terjadi di Negara kita. Yang secara umum dapat kita selidiki atau amati dengan seksama, dari minat untuk baca topik atau tulisan yang sifatnya ulasan masa lampau, anak SD atau anak Sekolahan yang pada umumnya banyak berkomentar “untuk apa sih belajar Sejarah ?” sungguh sangat prgamatis sekali. Ada pula di lain waktu pasti pernah mendengar “Sejarah adalah pelajaran yang menjenuhkan, dan tidak jelas arahnya”. Dan komentar-komentar sinis atau negatif lainnya masih banyak mudah kita jumpai berkenaan tentang Sejarah.

Secara umum, pastilah kita menjadi bertanya-tanya, bagi yang berfikir, yang hendak memikirkan atau menyadari akan kondisi yang miris tersebut. Bila kita telisik, kita dalami, dengan seksama  dan berimbang. Tidaklah lantas kita menyalahkan secara sepihak atau dari satu sini saja. Namun kita melihat keadaan nyatanya, sebab-akibatnya yang dapat ditelusuri. Mengapa hingga seperti ini atau mengapa dapat menjadi demikian.

Kita mulai dari para generasi kita yang menjadi tidak minat terhadap Sejarah. Secara langsung dapat dikatakan, ini adalah imbas dari para pendidik dahulu yang luput memahamkan secara dalam. Tentang mengapa dan untuk apa mempelajari Sejarah. Bukan saja dengan alasan tuntutan evaluasi hasil belajar, sehingga meluputkan untuk memahamkan dan memaparkan hakikanya mengapa harus belajar Sejarah. Kondisi demikian diulang-ulang setiap pelajaran Sejarah berlangsung, hafalan tangga, ceramah, belajar Sejarah Mesir (yang jelas tidak menyentuh kehidupan mereka, tetapi bukan lantas dinafikkan), atau lebih kepada penekanan Sejarah hanya sebagai “pengetahuan” belaka. Sekiranya hal ini dapatlah mejadi dalih mengapa hingga melahirkan generasi seperti sekarang. Bukan hendak menyalah-nyalahkan atau mencari sumber masalah, namu hanya dalam rangka memperjelas.

Selain itu pula, bahwa keadaan ini juga didukung oleh para pendidiknya yang lemah pengetahuanya, misikin pemahaman teori, angkuh untuk banyak belajar atau menggali, dan tidak lengkapnya pemahaman yang dimiliki untuk menjelaskan atau mengajarkan tentang Sejarah. Untuk apa ? mengapa ? bagaimana ? dst, secara hakikat pemahaman dari pendidiknya tentang Sejarah saja sudah lemah. Boleh dikatakan wajarlah bila melahirkan generasi seperti beberapa di antara kita saat ini. Yang banyak tercerabut dari budaya asli Bangsanya sendiri, meninggalkan kebaikan-kebaikan yang jelas diwariskan oleh leluhurnya, menghinakan yang lalu dengan mudah, dan dampak buruk lainnya.

Boleh juga dikatakan, bahwa inilah pula sebabnya mengapa beberapa generasi kita saat ini mudah terpengaruh, terbawa, terlarut, silau, oleh kebudayaan baru yang jelas itu bukan asli dari budayanya. Dan terkadang kebanyakan dari budaya baru itu bermotif mencerabut atau melepaskan generasi dari nilai-nilai yang tinggi peninggalan leluhurnya. Mengapa mereka tidak kuat bertahan dari gerusan pengaruh budaya lain ? karena Sejarah yang diajarkan kepadanya dahulu secara salah, manipulatif, dusta, lemah, harafiah, tidak mengakar, dan hanya sebatas teks yang belaka yang tidak berirama atau membuat imajinasi (intusi) anak berkembang. Untuk mengingat dan mendalami kejayaan leluhurnya dahulu dalam menumpas Kamboja, menakluhkan Penjajah, Menguasai Semenanjung Malaisya, dan kisah-kisah perjuangan lainnya dengan gaya dan metode yang hidup serta dapat membangkitkan. Dan kenyataanya bukan demikian, malah sebaliknya. Mempelajari Sejarah, kembali saya ulangi, yang sifatnya hanya pengetahuan, pengetahuan yang sifatnya dogmatis, dan tidak berpijak kepada tanah dimana anakdidik atau generasi tersebut berdiri.

Sinyalnya lagi, sampai sejauh dan sedalam ini belum ada terlihat upaya untuk menyelidiki dan mengkaji ulang tentang cara pengajaran Sejarah di Sekolah-sekolah saat ini dan mengkaji ulang pula materi-materi Sejarah yang sampaikan. Yang sudah jelas kurang tepat (salah) tetapi kaprah, dengan dampak pertimbangan realita generasi “kosong wawasan kebangsaan” dan “nolnya nilai nasionalisme” dalam dirinya. Contohnya, materi tentang G30SPKI, inikan sudah jelas Sejarah bohong, dusta, motif poliki dari Mantan Presiden Soeharto, mohon maaf, yang biadab dan yang lainnya. Yang sebenarnya menjadi fatal dan mengaburkan  kemurnian Sejarah. Dan lebih jahanmnya lagi, tidak ada bab secara khusus pelajaran Sejarah yang mengulas tentang Presiden yang terhomat “Ir. Bung Karno”. Padahal dengan sangat jelas dan nyata, beliaulah yang menjadi salah satu pelopor yang tercatat Sejarah sebagai pengabung gagasan pondasi negara berupa PANCASILA dan yang lainya tentang tingginya pemikirannya, yang harusnya menjadi wajib dipelajari dan diajarkan kepada seluruh generasi Indonesia. Ini ada apa ? bukankah ini memperlihatkan kejelasan bahwa nuansan materi pendidikan Sejarah kita masih warisan Orde Baru yang jelas antek Neolib, Imperialis, dan yang jelas kaki tangan Amerika Serikat melalui agen CIA-nya. Kurang yakin juga, itu lihat mengapa ada peristiwa 1998 yang jelasn menunjukkan luapan kemuakan masa rakyat dengan kebiadaban Orde Baru.

“Miris, adanya yang menghendaki Sejarah untuk dijadikan dogma kepada penikmatnya. Bukan sebaliknya, dijadikan pisau analisis demi untuk menatap hari kemudian yang lebih tinggi dan berkualitas”

Yang perlu diperbaiki dan dirubah tentang Pengajaran dan Pembelajaran Sejarah itu secara utuh atau keseluruhan. Baik dari materi Sejarahnya, cara Pengarannya, dan Pengajar Sejarahnya. Tetapi yang paling krusial dari ketiga itu adalah pengajarnya. Pengajar Sejarah perlu dipersiapakn dengan matang dengan baik sebelum melakukan pengajaran Sejarah kepada anakdidiknya. Sebagian besar yang terjadi adalah karena dari pengajarnya kurang bekal atau pengetahuan mengenai hakikat tentang Sejarah. Ia hanya tahu aspek-aspek pragmatis dari pengajaran Sejarah. Itulah mengapa, hal yang diajarkan kepada anakdidiknya menjadi kurang berkesan atau tidak mengena dan tidak bertahan lama dalam fikiran dan alam bawah sadar anak.

Selai itu, berhubung dengan materi Sejarah yang disampaikan tidak relevan, tidak sesuai, tidak proporsinya, tidak mengena, atau dalam istilah dapat dikatakan “jauh panggang dari bara”. Mengapa demikian ? karena kebanyakan materi pelajaran Sejarah yang disampaikan di Sekolah-sekolah ialah Sejarah yang tidak berkenaan langsaung dengan, kehidupan sekitar, lingkungan, kebudayaan leluhurnya, cikal bakal daerahnya, dan mudahnya dibilang, materi Sejarah yang disampaikan itu tidak diawali dengan pengkajian atau pembelajaran Sejarah dari kedaerahan, tetapi langsung kepada Sejarah yang sifatnya Global (umum) dan tidak pula dari khusus ke umum. Inilah salah satu hal yang menjadi penyebab, mengapa anak memandang Sejarah hanya pengetahuan saja, karena yang diketahui dari Sejarah jauh dari jangkauanya dan terkadang sangat abstrak keberadaan Sejarah yang disamapiak oleh para pengajarnya. Sungguh memilukan, menyedihkan, dan memalukan. Ilustrasinya, anak di Provinsi Gorontalo, diajarkan pelajaran Sejarah oleh pengajarnya. Tetapi materi Sejarah yang diajarkan adalah tentang geriliya Diponegoro, penakluhan Mataram, dan materi lainya yang tidak diawali menyentuh tentang Sejarah Gorontalo, mengapa bisa begini, dan mengapa sampai ada Gorontalo semegah ini ! hal ini nyata terjadi dan hampir di keseluruhan Nasional.

Belajar Sejarahnya hanya sebats teks harafiah, tidak hidup suasana dalam pemaknaan Sejarah. Ini pasti penyebab pula anak menjadi menafikkan atau dengki tentang Sejarah. Bagaiman tidak ? analog seperti yang dijabarkan paragraf sebelumnya.

Harusnya, dalam menyampaiakn, mengajarkan, materi yang disampaikan, tentang Sejarah itu dimulai dari hal-hal yang bersentuhan langsung kepada anakdidik (pesertadidik). Agar apa, agar kesan pertama dari Sejarah ini bukan abstrak atau hal-hal yang sifatnya ilusi, ulasan cerita. Mengapa bisa demikian ? bila dimulai dari yang terdekat atau mampu dijangkau oleh anakdidiknya, secara tidak langsung ini sedang menjelaskan “hakikat” belajar Sejarah itu sendiri. Ya, karena bila dimulai dari sekitar, secara tidak langsung mereka akan berfikir melinearkan, “ooo... berarti keadaan kita sekarang dipengaruhi atau karena cerita Sejarah leluhur kita demikian ya...?” ini yang dimaksud bagian dari menghidpukan Sejarah. Secara singkat, sebenarnya hanya hendak diungkapkan “bahwa keadaan kita sekarang ini adalah mutlak karena Sejarah (masalalu)” atau “semua yang ada saat ini adalah prodak Sejarah”.

Bila demikian dalam memaparkan atau menguraikan tentang Sejarah, pastilah sebagian besar satu suara, bahwa tidak akan menjenuhkan dan memuakkan, seperti yang sebelum-sebelumnya. Yang mana Sejarah hanya hafalan atau teks mati. Sejarah adalah teks kehidupan yang menghidupkan kita saa ini.

Kondisi pengajaran yang demikian, dari kondisi khusus ke kondisi umum melahirkan pemahaman yang mantap dan kuat, karena secara tidak langsung memperkuat pondasi dan merangkap penjelasan manfaat atau hakikat dari Sejarah tersebut.

Bila terus digali-digali secara mendalam, maka pelajaran Sejarah dalam pemaknaanya akan menjadi pisau analisa bagi pembelajar Sejarah. Mengapa ? karena sejarah yang murni adalah konsekuesni logis dari keadaan sekarang. Dari sini bila diulang-ulang terus pemaknaanya, akan melahirkan pemahaman bahwa semua hal adalah hasil kontruksi dan rekontruksi. Sampai disini sudah menjelaskan tentang Sejarah yang menyenangkan dan mudah dipahami, untuk pembelajarannya mengapa harus mengetahui dan belajar Sejarah.

Dapatlah merubah paradikma dan tendensi-tendisi yang sekarang sudah mapan. Ketika pembelajaran dan pemaknaan Sejarahnya diperbaiki. Dan jelas melahirkan keadaan yang lebih baik. Misalnya, meningkat rasa nasionalisme, tidak mudah terbawa oleh budaya yang mencerabut kebudayaan asli, dan tentulah sebagian besar pengenyam Sejarah secara rata-rata berpaham “konservatif”.

Sejarah yang diajarkan secara tepat dan baik. Melahirkan keadaan dan kehidupan dari bangsa yang tidak akan mengalami, stagnasi, dekadensi, distorsi, atau disorintasi generasinya dalam Berbangsa dan Bernegara. Sejarah tidak akan pernah mengalami kematian (stagnasi), saat dimaknai dan dihikmai dengan murni atau apa adanya. Bila sudah begini dalam berprespektif tentang Sejarah atau keadaan masalampau, “yang terlahir adalah generasi-generasi dengan kualitas baru, yang jelas dapat banyak membawak kebaikan untuk kemajuan bangsanya dan negara”. Kualitas baru dengan perubahan-perubahn baru, yang tidak dengki, tidak munafik, tidak menafikkan, keberadaan leluhurnya yang disadari telah membawa kualitas atau keadaan pembelajarnya seperti saat ini.

“generasi kosong, keropos, dan ketimpangan sosial bukanlah tanda, gambaran atau isyarat semesta yang sudah, tua, rusak atau ganjil dan tidak ingin berdampingan dengan keharmonian lagi. Tetapi, dia hanya hendak menunjukkan dan menjelsakan inilah dampak atau akibat dari manusia yang tidak pandai bersyukur, menghikmai, dan mempelajari dari peristiwa masalalu ~Sejarah~”

Tentu selain itu adalah melahirkan generasi yang mencintai, menyukai, bangga, dan melestarikan dari semua warisan leluhurnya dahulu. Walapun bercampur atau terpengaruh dengan kebudayaan lain, namun tetap dari generasi yang paham dan mengerti Sejarah akan lebih banyak melakukan akulturasi-akulturasi untuk kebaikan atau kelengkapan budaya dan lestarinya budaya asli bangsanya. Generasi yang paham Sejarah tidak menjadi generasi yang sombong atau generasi yang lupa diri. Karena dalam dirinya sudah sangat mengakar dan mendarah daging dalam jiwa plus fikiranya, bahwa dirinya adalah prodak Sejarah. Dan generasi paling suram, adalah generasi yang sudah meninggalkan, melupakan, mengabaikan, menaffikan, mengangkangi, menodai, meludahi, Sejarah dari bangsanya dan Sejarah pada umumnya. Yang perlu diketahui pula, bahwa kebutaan politik secara total juga karena kebutaan akan Sejarah. Pembacaan politik dapat menjadi kuat dan mendalam analisisnya juga karena dipengaruhi pemahaman Sejarah yang mumpuni, baik, dan benar. Begitulah banyak hal yang sebenarnya, sebetulnya, dapat diambil dari hasil semua yang sangat paham dan mengerti Sejarah bukan hanya secara harifah dan hafalan. Sejarah mengajarkan lika-liku pergolakan, dan pemaham Sejarah yang asli memaknai lika-liku Sejarah itu, dan dikomparasikan atau disandingkan dengan keadaan kekinian atau berlaku sebaliknya. Belajar Sejarah juga menjdai lebih muktahir pula, bila pandai memberi batasan-batasan atau mengkotak-kotakan Sejarah. Walapun dalam kenyataanya Sejarah yang satu dengan yang lain itu selalu berkaitan, baik secara khusus maupun secara umum.

Sudah banyak contoh nyata dari beberapa negera yang menjadi besar dan kokoh dalam pemerintahan dan kebudayaan dan manusiannya secara umum. Adalah negara yang tidak meluputkan pengajaran Sejarah kepada generasinya dengan baik, teliti, dan seksama. Semua dapat dijangkau dan dikembangkan di negra kita bermula dari lingkungan pendidikan, pendidikan terendah sampai tertinggi. Pendidikan terendah, diajarkan dengan kebudayaan atau kesenian-kesenian dari bangsanya sendiri yang bernuangsa atau berbau Sejarah. Ini langkah awal untuk mengenalkan generasi kepada keemasan Sejarah. Begitulah seterusnya dan begitulah seterusnya. Hingga menjadi utuh dan lengkaplah ia menjadi generasi bangsa dan negara yang baik dan konservatif.

 “bagian dari generasi yang dusta, yang lebih menerima kebudayaan lain dengan melupakan warisan dan Sejarah leluhurnya”

Oleh: Sinaryo


Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~