~Dalil Keaktifan Siswa~
~Dalil Keaktifan
Siswa~
(karena
siswa adalah manusia, dan manusia membina hubungan dengan sesame manusia. Agar
terjalin dengan baik maka manusia wajib dibekali kemampuan dalam membinan
hubungan social atau bersosialisasi. Menghilangkan sisi ini dari siswa, sama
artinya merendahkan harkat & martabatnya sebagai manusia)
Berangkat
dari pemahaman yang sifatnya universal, namun sangat teoritis. Semoga dapat
meyakinkan dan memahamkan dengan baik. Bahwa aspek social siswa dalam
lingkungan pendidikan menjadi hal mutlak yang harus dibangun, dibentuk,
dilestarikan, dibekali, dan dihargai serta diberi ruang ia untuk menggali dan
memertajam jiwa sosialnya. Bukan diperlakukan sebaliknya, dengan membatasi
hingga melarang siswa untuk aktif dan terjun dalam dunia social (organisasi
atau pergerakan pemuda). Yang mana menjadi satu aspek pebentuk dan penempa jiwa
karakter social siswa.
Pendidikan
berarti daya-upaya untuk menumbuhkan budipekerti (kekuatan batin, karakter),
fikiran (intelek) dan tumbuh kembang anak, yang harus berlaku bersamaan dan
tidak boleh dipisah-pisahkan. Demi mencapai “kesempurnaan hiudup”, yakni
kehidupan dan penghidupan pesertadidik yang diselaraskan dengan dunianya (Ki
Hadjar Dewantara, 2011: 14 - 15). Dan matematika adalah ilmu yang basis
kajiannya berupa hal yang diadakan atau rangkuman dari realitas yang dituangkan
dalam bahasa simbolis (abstrak), dengan mengedepankan kekuatan fikiran yang
utuh untuk mempelajarinya. Dengan demikian, matematika sendiri merupakan aspek
pendidikan yang berperan atau dapat melatih dan membentuk kekuatan fikiran.
Yang dalam perkembangannya mengutamakan logis dan rasional sebagai tendensi.
Karena
pelajaran matematikan yang abstrak, membuatnya terkesan rumit. Untuk memahami,
tentunya memerlukan situasi pengajaran dan pembelajaran yang khusus mendukung.
Yaitu situasi yang tidak menegangkan dan menekan, yang dapat memperparah
keadaan pengajaran matematika yang sudah menguras fikiran. Oleh sebab itu,
hendaknya pengajaran dibuat sedemikian rupa agar mudahkan diikuti. Misalnya
dengan kondisi pengajaran dibuat menyenangkan dan terjadi hubungan sosialis
anatar individu kelas.
Dari
kelas yang tidak komunikatif dan tidak interaktif, membuat sistuasi pengajaran
dan pembelajaran terasa jemu dan membingungkan, baik bagi siswa atau bagi
pendidik. Ini menunda kemanjuan kualitas pengajaran dan pembelajaran seperti
yang dikehendaki untuk mencapai visi pembelajaran yang dimaksud. Keadaan
pengajaran dan pembelajaran yang pasif, membuat bingung pendidik untuk
mengindentifikasi sejauh mana penguasaan materi dan kecakapan yang telah
didapat siswa dari materi pelajaran yang telah diberikan. Tidak adanya
timbal-balik dari siswa kepada pendidik, mengesankan ada permasalahan. Apa
karena pengajaran yang tidak menyenangkan? Hingga menyebabkan siswa tidak
hendak terlibat aktif dan menutup diri. Atau karena dari siswanya yang belum
tersadarkan akan pentingnya terlarut dan terlibat secara aktif dalam
berlangsungnya pembelajaran dan pengajaran di kelas.
Untuk
mendukung dan mengembangkan segala kemampauan, kreatifitas, dan bakat yang
terpendam pada diri siswa, satu upayanya adalah dengan melibataktifkan dalam
proses pengajaran dan pembelajaran. Hal ini dapat terwujud dengan adanya
pengkondisian yang dilakukan pendidik, dengan membentuk situasi dan hubungan
pendidik dengan siswa yang humanis. Sebagai wujud pengakuan dan pengabdian
pendidik kepada siswa, yang tidak dapat dinafikkan memiliki keunggulan dan
kecakapan heterogen anugrah Tuhan yang perlu diperhatikan, diperlajari,
dipertimbangkan, dan dibimbing. Bukan sebaliknya, dikekang, ditindas, dan
dibatasi ruang geraknya di kelas karena maksud-makud subjektif dari pendidik
yang diutamakan. Hingga larut yang kemudian dapat melemahkan jiwa siswa yang
progresive.
Dari
pengalaman saat menjadi pesertadidik, mengamati pengajaran, dan mengajar di
kelas. Merasa dilemahkan dan merasakan kejenuhan. Ketika situasi pengajaran
didominasi oleh pendidik, tanpa disertai dengan upaya nyata membangkitkan,
melibatkan, dan menghargai segala potensi dan kreatifitas yang dimiliki
pesertadidik. Misalnya, dalam hal memberi penghargaan, penguatan dan pengakuan
dari keberanian yang telah diperbuat,
namun kenyataannya tidak demikian. Terkadang hal sepenting ini diluputkan
oleh pendidik, yang dalam proses pengajaran dan pembelajaran menghendaki
terjadi komunikatif. Komunikatif yang dimaksud adalah kumunikasi tiga arah,
“siswa kepada kolektifnya, siswa kepada pendidik, dan pendidik kepada siswa”.
Ini penting untuk menghidupkan suasana pengajaran di kelas. Apalagi ini
berkaitan dengan pelajaran matematika yang banyak dianggap rumit. Jelas,
menjadi terasa sangat menyiksa dan memberatkan siswa, bila keadaan situasi
pengajarannya pun terkontruksi membatasi, mengekang, menindas, dan tidak
memberi ruang demokratis bagi siswa. Lengkap sudah penderitaan yang dialami
siswa.
Minimnya
keatifan yang teramati dari proses pengajaran dan pembelajaran di kelas,
menimbulkan pertanyaan dan permasalahan yang serius serta menarik untuk
diselidiki. Yang menjadi pertanyaan, mengapa siswa tidak aktif? Apa pendidik
menyukai siswa yang tidak aktif dalam pengajaran di kelas? Kebanyakan hal
sepenting ini diabaikan, demi tercapainya hasil evalusi pengajaran yang
memuaskan dari satu sisi, yaitu hanya sisi kognitif.
Dengan diskriminasi sisi lain yang komplek dimiliki siswa, sebagai mahluk yang
mampu berdialektika dan berkamoflase secara singkat.
Tidak
dipungkiri, memang aspek kognitif penting dalam sistem pendidikan dan
pengajaran mainstream yang
mengedepankan inteletualitas. Tetapi, tidak lantas menegasikan tentang aspek
sosial dari siswa, dalam hal ini afektif-nya.
Sebagai perwujudan mahluk social yang kelak akan bersosialisasi setelah keluar
dari kelas sekolah. Dan menjadi bekal pergaulan di masyarakat, maka harus
dihidupkan dan dilestarikan. Melengkapi itu, karena pendidikan yang
mengedepankan kekuatan fikiran (inteletul) saja, telah dikriti oleh Ki Hadjar
Dewantara.
Sistem
sekolah yang hanya memberatkan pada aspek kecerdasan fikiran, akan selalu
bersifat zakelijk atau tidak berjiwa,
dan karenanya pendidikan sedikit pengaruhnya atas kecerdasan “budi pekerti”
dan “budi kesosialan” siswa. Serta pendidikan yang hanya mengutamakan
inteletual saja, dapat menumbuhkan kuatnya egoisme dan bersemayamnya budi
keduniawian pada dirinya, dengan ini system pengajaran yang demikian melahirkan
generasi yang anti sosial (Ki Hadjar Dewantara, 2011: 72). Dan kebanyakan dari
siswa atau individu yang hanya tinggi sisi inteletualnya, dalam kehidupannya
banyak mengisolasi diri dan memisahkan diri dari kehidupan bermasyarakat (Ki
Hadjar Dewantara, 2011: 48-49 ). Jelas, pengajaran yang seperti ini melahirkan
keadaan yang bertolak belakang dengan hakikat siswa sebagai mahluk social,
dalam dinamika ke-indonesiaan yang harusnya dapat saling bekerjasama (gotong
royong).
Aspek
lain yang menjadi masalah dari ketidakaktifan siswa dalam pembelajaran, yaitu
terasa hampa, sunyi, dan sepi kelas saat berlangsung proses pengajaran dan
pembelajaran. Yang kemudian ini mengakibatkan takutnya siswa untuk menunjukkan
ekspresi. Hal ini pula menyebabkan tidak produktif situasi pengajaran dan
pembelajaran bagi siswa.
Yang
seperti itu, memperlihatkan pengajaran secara langsung tidak menganggap
keberadaan pesertadidik sebagai mahluk sosial, yang mampu berkomunikasi dan
dapat merespon segala stimulus yang diberikan pendidik. Keadaan yang demikian
bukan hal yang kodrati terjadi, tetapi keadaan yang terjadi karena kontruksi, dialektika, dan dinamika yang kemudian
terbentuk dan tercipta di kelas. Satu di antara yang mempengaruhi adalah
kendali dan otoritas mutlak pendidik.
Begitupun
seperti yang sedang terjadi di kelas yang akan dilakukan penelitian. Keaktifan
siswa kurang terlihat dan minim adanya keberanian partisipatif yang teramati
untuk melibatkan ke dalam situasi pembelajaran matematika. Misalnya, keberanian
bertanya dan sejenisnya sebagai wujud ketertarikan dalam arti aktif. Kondisi
ini jelas menjemukan dan melelahkan pendidik yang menghendaki siswa untuk lebih
berkualitas.
Melengkapi
tentang pentingnya keaktifan siswa dalam proses pengajaran dan pembelajaran di
kelas. Yaitu, tentang hasil belajar siswa yang juga patut menjadi satu
pertimbangan, sebagai perwujudan pencapaian kognitif siswa dalam matematika.
Permasalahan
seperti yang teruraikan sebelumnya, juga disertai dengan hasil belajar
matematika yang kurang memuaskan dan baru dapat dituntaskan oleh beberapa siswa
dari total siswa dalam satu kelas.
Berangkat
dari kontradiksi yang membentuk keadaan seperti telah dipaparkan. Menjadi
penting dan utama dalam pengajaran menciptakan situasi yang dapat melibatkan,
membangkitkan, dan menyenangkan siswa. Dalam konteks untuk meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar matematika siswa. Karena dalam berlangsungnya
pengajaran di kelas yang terasa angker dan di antaranya tidak memberi ruang,
mendukung, dan menguatkan siswa untuk mencapai kualitas diri siswa menjadi
pemberani. Dengan maksud untuk mencapai kualitas yang lebih baik.
Karena
permasalahan yang demikian adanya dan memerlukan strategi untuk menuntaskan.
Maka, peneliti dengan pertimbangan relevansi dan teoritis menggunakan metode
pembelajaran Quantum Learning sebagai
upaya untuk menyelasaikan problem tersebut. Dengan dalih bahwa metode Quantum Learning merupakan metode
pembelajaran yang betendensi membuat keadaan pengajaran dan pembelajaran terasa
menyenangkan. Dan tidak ada intimidasi-intimidasi negatif yang menindas siswa
demi kelanggengan pendidik. Serta dalam keberalngsungan pengajaran dengan
metode tersebut, sangat mementingkan dan membutuhkan keterlibatan aktif dari
siswa. Yang mana siswa akan ditempatkan sebagai pengajar dan pembelajar yang
partisipastif.
Dengan
mengedepankan suasana pengajaran yang menyenangkan. Upaya untuk mengaktifkan
dan membangkitkan siswa dalam proses pembelajaran dan pengajaran, bukan hanya
maksud untuk meramaikan keadaan atau susana. Tetapi, juga untuk meningkatkan
hasil belajar siswa. Berdasar ulasan sebelumnya, menggambarkan pengajaran yang
pasif tidak efektif mendukung hasil pengajaran dan belajar siswa yang optimal.
Pengajaran dan pembelajaran pasif meletakkan posisi siswa sebagai pendengar dan
pengamat yang setia. Dan menurut Melvin L. Silberman (2013: 25) “belajar tidak
cukup hanya dengan mendengarkan dan melihat sesuatu”. Jelas dapat disimpulan,
bahwa pembelajaran dan pengajaran pasif sudah tidak relevan untuk diterapakan
demi pencapai kualitas pendidikan yang baik untuk membentuk karakter dan jiwa
siswa. Serta pengajaran dan pembelajaran pasif menghambat kemajuan setiap
pribadi siswa sebagai mahluk sosial.
“pendidikan menghidupkan & menegakkan jiwa
manusia. Bukan membelenggu, menjerat, atau merantai leher generasi”
Oleh:
Sinaryo
Komentar
Posting Komentar