~Lambannya Eksen~

~Lambannya Eksen~
(siapa yang ingin dibiarkan dalam keadaan yang menyiksa?)

Apa harus menunggu kebaikan demi kebaikan, dan kesenangan menghampiri atau hadir kembali secara implisit kepada diri? Baru kemudian diri tergerak secara nyata untuk mengamalkan semua tentang kebaikan atau nilai-nilai tentang kebaikan yang diketahui untuk diamalkan-diaplikasikan-diterapkan. Apa yang demikian dapat digolongkan perbuatan yang santun? Kepadanya setiap mereka yang kurang beruntung dalam mengarungi untuk menggapai segalah kedamaian hidup. Kemana mereka yang dilemahkan karena keadaan hendak mengadu, kecuali kepadanya sesama manusia yang lebih beruntung. Sebagai bukti perpanjangan rezeki-tangan Tuhan untuk diteruskan kepadanya yang terlemahkan atau dielmahkan.

Terkadang kita terjebak dalam pengidealan kondisi, sehingga bertahan untuk  tidak berbuat sesuatu karena merasa keadaan belum sesuai dengan yang diangankan. Dan merasa merasa situasi dan kondisinya belum sesuai dengan mood dalam diri. Padahal, keadaan telah mengguncang kepadanya yang sedang digerus oleh kerasnya kehidupan yang saling meninggalkan dan tidak saling mempedulikan. Apa dengan begini kebaikan segera terlahirkan, dengan menunda-nunda saling membantu dan salig memperjuangkan?

Memang perhitungan menjadi satu hal yang dapat dianggap penting sebelum berbuat. Namun, tidak pula menjadikan diri terlarut dalam perhitungan. Lantas melamban sikap untuk melakukan, sehingga menimbulkan korban karena lamanya diri memahami atau mengerti yang perlu diketahui dan dilakukan. Sampai saat ini lambanya bertindak dari hal yang telah diangankan, menjadi satu hal yang menghambat dan menunda perubahan keadaan. Tidak dipungkiri, ini yang menjadikan lambannya perkembangan dalam ruang dan kenyataan yang sedang diarungi. Saynagnya, berhenti kepada angan. Semua melayang-layang dan terlarut dalam angan, dan terjebak dalam roamtisme fikiran. O yea…begini mungkin manusia terlahir dengan keunggulan itelektualisme yang nol jiwa humanismenya!

Sudah banyak pemipi yang lahir dari keadaan yang sekarang menghimpit, mengekang, menindas, dan membatasi. Karena besarnya intimidasi dan represif terhadapnya hal yang visioner. Oleh karena itu, hal yang harus diciptakan dan dilahirkan dari keadaaan ini, tidak berhenti sampai di sini-di mimpi. Dan menjadi keharuskan melahirkan pemberani atau sang eksekutor, dari semua mimpi yang masih terlelap dalam fikiran. Mungkin karena takut dengan kerasnya perlawanan dari keadaan yang jauh memberi ruang.

Tunggu apa? Berbuat, bertindak, dan musnahakan kepanikan dan keragu-raguan dalam diri yang hendak mengkorosi atau menjamuri diri yang miliki visi tinggi. Lemahkan dan tindas keraguan, kepanikan, dan ketakutan yang berlebihan terhadap bayang-bayang angan ilusi.

“melahirkan angan, demi kenyataan menjadi seindah angan”


Oleh: Sinaryo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

~Terlelap~

AKU DAN FIKIRANKU, AKU DAN RISAUKU "menggali dan menyulami waktu demi waktu, menuliskan segala kegelisahan untuk mewujudkan demi membantah dan melawan keterasingan"

~Neraka Dunia~